Ketua Federal Reserve Kevin Warsh. Foto: Dok Anadolu Agency
Ketua The Fed Kevin Warsh Sebut Tren Inflasi Belum Membaik
Eko Nordiansyah • 29 August 2026 08:10
Wyoming: Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menyatakan bahwa tren inflasi dasar di Amerika Serikat (AS) belum membaik secara signifikan. Warsh menegaskan kembali bahwa fokus bank sentral haruslah pada penciptaan stabilitas harga.
Hal ini disampaikannya dalam pidato utama di Simposium Kebijakan Ekonomi Jackson Hole, konferensi tahunan yang diselenggarakan oleh Kansas City Fed dan mempertemukan para bankir sentral, pembuat kebijakan, akademisi, serta ekonom. Topik tahun ini adalah "Inovasi Keuangan — Implikasi bagi Pembayaran dan Kebijakan."
Pidato utama pertama ketua The Fed ini berlangsung di tengah situasi yang rumit bagi bank sentral AS. Inflasi telah mendominasi fokus Federal Open Market Committee (FOMC), di tengah indikator ekonomi terkini yang menunjukkan tekanan harga yang masih tinggi (sulit turun) dan pertumbuhan ekonomi yang tangguh. Selain itu, data pasar tenaga kerja terbaru untuk bulan Juli menunjukkan angka nonfarm payrolls yang lemah.
Sementara itu, harga minyak tetap tinggi di tengah konflik yang terus berlarut antara AS dan Iran, sehingga kekhawatiran akan inflasi tetap menjadi perhatian utama.
"Saat ini, saya meyakini pasar tenaga kerja berada dalam kondisi yang konsisten dengan full employment (tingkat kesempatan kerja penuh). Namun, terkait aspek stabilitas harga dalam mandat kami, angka-angkanya lebih mengkhawatirkan," ujar Warsh dikutip dari Investing, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Bank sentral memiliki target inflasi jangka panjang sebesar dua persen dan lebih memilih untuk memantau indeks harga PCE guna mengukur tekanan harga. Data pada hari Rabu menunjukkan metrik tersebut naik 3,7 persen secara tahunan (yoy) pada bulan Juli, sementara indikator inti naik 3,3 persen secara tahunan. Indeks harga PCE terakhir kali berada di bawah dua persen pada Februari 2021.
"Ukuran inflasi yang menjadi acuan utama The Fed berada di angka 3,7 persen, sementara perubahan dalam enam bulan tercatat sebesar 4,1 persen. Angka pembanding dari indeks harga konsumen (CPI) juga menunjukkan tingkat yang tinggi, begitu pula dengan ukuran inflasi inti baik untuk PCE maupun CPI," catat Warsh.
"Tidak ada satu pun dari ukuran-ukuran ini yang sempurna, namun semuanya memberikan gambaran yang serupa: inflasi bergerak di atas target 2 persen kita. Oleh karena itu, fokus utama The Fed saat ini seharusnya tertuju pada harga," ujar pimpinan The Fed tersebut.
Baca Juga :
Pasar Wait and See, IHSG Ditutup ke Level 6.518

(Ilustrasi gedung The Fed. Foto: Xinhua)
Sinyal kenaikan suku bunga The Fed
Meskipun FOMC mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuan terakhirnya di bulan Juli, tiga presiden bank sentral regional menyatakan perbedaan pendapat (dissent) terhadap langkah tersebut. Selain itu, risalah pertemuan menunjukkan bahwa banyak pembuat kebijakan meyakini kenaikan suku bunga kemungkinan akan diperlukan jika inflasi tidak menurun.Sejak menjabat sebagai pimpinan The Fed, Warsh telah mengambil langkah yang sangat berbeda dari pola kerja para pendahulunya. Mantan gubernur The Fed ini telah meluncurkan tinjauan menyeluruh terhadap operasional bank sentral dan menunjuk gugus tugas untuk mengawasi proses tersebut.
Ia juga telah menghentikan penerbitan panduan ke depan (forward guidance) serta menahan diri untuk tidak memberikan sinyal apa pun mengenai pergerakan suku bunga di masa mendatang.
"Sudah banyak pihak di Wall Street yang merasa kesal dengan saya. Mereka merasa saya tidak lagi memberikan semua informasi yang biasa mereka dapatkan sebelumnya, dan beranggapan bahwa jika saja mereka memiliki data 'dot' (proyeksi suku bunga) saya, segalanya akan berjalan lancar. Pesan saya kepada mereka adalah: fokuslah pada pergerakan pasar, jangan mencoba mempermainkan The Fed," ujar Warsh di hadapan Kongres pada bulan Juli.
Selain itu, Warsh berulang kali menegaskan bahwa The Fed akan mewujudkan stabilitas harga, namun ia belum memberikan langkah-langkah spesifik mengenai bagaimana hal itu akan dicapai.
Bank sentral memiliki target inflasi jangka panjang sebesar dua persen dan lebih memilih untuk memantau indeks harga inti pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) guna mengukur tekanan harga. Data yang dirilis pada hari Rabu menunjukkan bahwa metrik tersebut naik 3,3 persen secara tahunan (yoy) pada bulan Juli. Angka tersebut terakhir kali berada di bawah dua persen pada Februari 2021.
Di tengah situasi ini, para pelaku pasar tampaknya mulai kehilangan sebagian kepercayaan terhadap Warsh. Hal ini terlihat paling jelas di pasar obligasi AS, khususnya pada instrumen dengan tenor lebih panjang.
Imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari 19 tahun pada awal bulan ini, yang mendorong Departemen Keuangan untuk melakukan intervensi pekan lalu dengan mengumumkan peningkatan volume pembelian kembali obligasi jangka panjang.