Ilustrasi. Foto: Dok MI
Dolar AS Turun Tipis, Dipicu Tren Depresiasi Mata Uang dan Ketidakpastian Suku Bunga
Eko Nordiansyah • 1 September 2026 08:52
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada Senin, 31 Agustus 2026, namun mendapat dukungan dari meningkatnya permintaan aset aman (safe haven) di tengah eskalasi tajam ketegangan antara Washington dan Teheran. Sementara itu, suku bunga dan pasar obligasi terus menjadi sorotan utama menyusul pidato bernada hawkish dari Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh.
Mata uang AS ini juga diperkirakan akan mencatat penurunan selama dua bulan berturut-turut. Penurunan di bulan Agustus ini didorong oleh fenomena yang disebut sebagai perdagangan depresiasi mata uang (debasement trade) serta ketidakpastian mengenai prospek kebijakan moneter The Fed.
Dikutip dari Investing, Selasa, 1 September 2026, indeks dolar AS, yang mengukur pergerakan dolar terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, turun 0,3 persen ke level 99,42. Untuk bulan Agustus, indeks tersebut telah turun sebesar 0,5 persen.
Trader valas mencermati bulan yang penuh gejolak
Di luar Timur Tengah, suku bunga AS dan pasar obligasi tetap menjadi pusat perhatian utama. Pidato utama Ketua The Fed, Kevin Warsh, sebagian besar dinilai bernada hawkish. Warsh menyatakan bahwa tren inflasi dasar di AS belum membaik secara signifikan dan menegaskan kembali bahwa fokus bank sentral haruslah pada penciptaan stabilitas harga.Para pedagang merespons komentar Warsh dengan meningkatkan taruhan mereka terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin pada bulan September. Menurut perangkat CME FedWatch, peluang kenaikan tersebut kini mencapai hampir 66 persen, naik dari 57 persen sehari sebelumnya.
Investor juga melepas kepemilikan surat utang pemerintah AS setelah pidato tersebut, yang menyebabkan imbal hasil (yield) obligasi Treasury naik. Tren pelemahan harga obligasi ini berlanjut hingga hari Senin, di mana imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun terakhir tercatat naik 3,5 basis poin menjadi 4,757 persen, level tertinggi sejak pertengahan Januari 2025.
(1).jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Indeks dolar AS melonjak pada hari Jumat setelah pernyataan Warsh, karena ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi umumnya cenderung memperkuat mata uang dolar AS (greenback).
Para pengamat kebijakan moneter kini akan mencermati berbagai data pasar tenaga kerja yang akan dirilis minggu ini. Data lowongan kerja AS untuk bulan Juli akan dirilis pada hari Selasa, diikuti oleh pembaruan data lapangan kerja sektor swasta dari ADP, dan laporan nonfarm payrolls bulan Agustus.
Sebelumnya pada Agustus, nilai dolar terguncang oleh kondisi pasar obligasi AS yang sangat fluktuatif; pasar ini sebagian besar dilanda aksi jual akibat kekhawatiran akan inflasi, penerbitan utang korporasi, dan membengkaknya utang nasional AS. Langkah intervensi tak terduga dari Departemen Keuangan AS hanya memberikan dampak minim dalam menahan kenaikan imbal hasil.
Berita mengenai utang AS yang menembus angka USD40 triliun memicu keraguan terkait kondisi fiskal. Dalam situasi tersebut, para investor cenderung memindahkan modal dari mata uang fiat ke aset riil (hard assets) seperti emas atau mata uang kripto. Memang, pada minggu itu, indeks dolar AS turun hampir satu persen, sementara harga emas dan mata uang kripto justru menguat.
Dolar Kanada mencatat kenaikan bulanan
Beralih ke mata uang utama lainnya, dolar Kanada diperkirakan akan mencatat kenaikan lebih dari satu persen sepanjang bulan Agustus, meskipun perang dagang antara Washington dan Ottawa kian memanas. Menyusul kegagalan negosiasi antara kedua pihak awal bulan ini, masing-masing pihak telah menerapkan tarif balasan satu sama lain.Di tengah situasi ini, Bank of Canada (BoC) diperkirakan secara luas akan mempertahankan suku bunga tetap stabil pada hari Rabu.
Di sisi lain, yen Jepang melemah sepanjang bulan Agustus, sehingga menghapus sebagian besar keuntungan yang sempat diraih pasca-intervensi gabungan penting oleh Washington dan Tokyo pada akhir Juli.