Saham Asia Naik di Tengah Risiko Suku Bunga dan Minyak

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Saham Asia Naik di Tengah Risiko Suku Bunga dan Minyak

Husen Miftahudin • 7 September 2026 08:53

Sydney: Pasar saham Asia menguat pada perdagangan pagi ini. Penguatan terjadi setelah laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan dinilai memberikan sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi global.

Namun, data tersebut sekaligus mempersempit peluang pelonggaran kebijakan suku bunga. Pergerakan pasar juga dipengaruhi kenaikan harga minyak setelah serangan AS dan Iran terhadap sejumlah kapal di kawasan Teluk.

Mengutip Investing.com, Senin, 7 September 2026, harga minyak mentah Brent naik 0,2 persen menjadi USD96,45 per barel. Sementara minyak mentah AS atau West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,4 persen menjadi USD91,85 per barel.

Harga Brent sebelumnya melonjak hampir 10 persen sepanjang pekan lalu di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Teheran menyatakan akan mengumumkan zona terlarang di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah pasukan AS menyerang tiga kapal tanker Iran. Pada saat yang sama, Korps Garda Revolusi Islam Iran meluncurkan rudal balistik ke dua kapal Angkatan Laut AS. Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dan berpotensi menambah tekanan inflasi.
 

 

Pasar menanti data inflasi AS


Perhatian investor selanjutnya tertuju pada data indeks harga konsumen (CPI) AS untuk Agustus yang akan dirilis pada pekan ini. Perkiraan median menunjukkan inflasi inti akan meningkat 0,2 persen, dengan risiko kenaikan mencapai 0,3 persen.

Data tersebut menjadi perhatian utama pasar karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Laporan ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan pada pekan sebelumnya membuat pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed mencapai 58 persen pada pertemuan 16 September. Peluang kenaikan pada Oktober juga diperkirakan mencapai 70 persen.

Risiko kebijakan moneter yang lebih agresif juga membebani pasar saham Eropa. Kontrak berjangka EUROSTOXX 50 dan DAX masing-masing turun 0,1 persen. Sementara itu, kontrak berjangka FTSE relatif stabil.

Di Wall Street, perdagangan diperkirakan berlangsung dengan volume rendah karena libur nasional AS. Kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq tercatat sedikit melemah.


(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
 

Saham Asia kompak menguat


Sejumlah bursa saham Asia mencatat penguatan pada awal pekan. Indeks Nikkei Jepang naik 2,0 persen, memulihkan sebagian penurunan yang terjadi pada pekan sebelumnya. Sementara indeks saham Korea Selatan menguat 3,0 persen.

Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang juga naik 0,9 persen. Meski demikian, kenaikan imbal hasil obligasi masih menjadi salah satu faktor yang membatasi valuasi saham.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di sekitar 4,7840 persen, mendekati level tertinggi sejak akhir 2023. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi mendorong imbal hasil mendekati level psikologis 5 persen.

Kepala Ekonom Global JPMorgan Bruce Kasman memperkirakan inflasi inti AS akan naik 0,21 persen. Menurut dia, angka tersebut masih cukup rendah untuk membuat The Fed mempertahankan suku bunga saat ini, setidaknya untuk sementara.

Di Jepang, pasar memperkirakan peluang 75 persen Bank Sentral Jepang (BoJ) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 18 September. Probabilitas kenaikan lanjutan hingga Desember diperkirakan mencapai 60 persen.

"Kesabaran bank sentral selama guncangan energi telah mendukung harga aset dan siklus kredit. Namun, bank sentral sekarang mulai bergerak," kata Kasman.

"Kami memperkirakan dua kenaikan suku bunga lagi dari ECB dan BoJ sebelum akhir tahun. Ada juga alasan kuat bagi The Fed untuk bertindak lebih awal dan lebih agresif daripada perkiraan dasar kami untuk kenaikan suku bunga pada Desember," tambah dia.

(Husen Miftahudin)