Ilustrasi. Foto: dok MI.
Rupiah Turun 0,04% Jadi Rp16.869 Pagi Ini
Husen Miftahudin • 11 March 2026 09:52
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami pelemahan.
Mengutip data Bloomberg, Rabu, 11 Maret 2026, rupiah hingga pukul 09.44 WIB berada di level Rp16.869 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah tipis enam poin atau setara 0,04 persen dari Rp16.863 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.874 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan menguat.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp16.820 per USD hingga Rp16.870 per USD," jelas Ibrahim.
| Baca juga: Lanjutkan Tren Penguatan, Rupiah Ditutup di Rp16.863 per USD |
Putin minta Trump hentikan perang dengan Iran
Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen Presiden Rusia Vladimir Putin yang melakukan panggilan telepon dengan Trump dan berbagi proposal yang bertujuan untuk penyelesaian cepat perang Iran. Kondisi ini meredakan kekhawatiran tentang gangguan pasokan yang berkepanjangan.
Trump mengaku telah berpikir bahwa perang melawan Iran 'sangat lengkap' dan Washington 'jauh lebih maju' dari perkiraan jangka waktu awalnya selama empat hingga lima minggu.
Sebagai tanggapan terhadap Trump, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan mereka akan menentukan akhir perang, dan Teheran tidak akan mengizinkan satu liter minyak pun diekspor dari wilayah tersebut jika serangan AS dan Israel berlanjut.
Namun, harga tetap berada di bawah tekanan karena Trump mempertimbangkan untuk melonggarkan sanksi minyak terhadap Rusia dan melepaskan cadangan minyak mentah darurat sebagai bagian dari serangkaian opsi yang bertujuan untuk menekan lonjakan harga minyak global, menurut beberapa sumber.
Negara-negara G7 mengatakan mereka siap untuk menerapkan langkah-langkah yang diperlukan sebagai respons terhadap melonjaknya harga minyak global, tetapi tidak sampai berkomitmen untuk melepaskan cadangan darurat.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Cadangan devisa Indonesia dikhawatirkan terus tergerus
Di sisi lain, Ibrahim memandang cadangan devisa Indonesia dikhawatirkan semakin tergerus seiring pelemahan rupiah akibat tekanan global, terutama imbas perang Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran.
Posisi cadangan devisa Indonesia pada Februari 2026 pun sudah semakin menipis, hingga tersisa USD151,9 miliar. Jumlah itu kian susut, dari posisi awal pada Januari 2026 sebesar USD154,6 miliar.
Bank Indonesia (BI) mengakui cadangan devisa menyusut akibat langkah intervensi moneter yang dilakukan ketika deretan sentimen sejak awal tahun menekan rupiah. Belum lagi, pembayaran utang luar negeri pemerintah turut mengurangi porsi cadangan devisa.
Kendati demikian, bank sentral memastikan kecukupan cadangan devisa itu setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Kemudian, kecukupannya berada di atas standar internasional yaitu sekitar 3 bulan impor.
Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Ke depannya sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai, serta aliran masuk modal asing. Optismisme itu bersandar kepada persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.