Ilustrasi. Foto: dok MI/Susanto.
Rupiah Hari Ini Turun, Ini Penyebab Utamanya
Ade Hapsari Lestarini • 31 March 2026 17:39
Jakarta: Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Selasa melemah 39 poin atau 0,23 persen menjadi Rp17.041 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp17.002 per USD.
Sementara kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp16.999 per USD dari sebelumnya Rp16.993 per USD.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) hingga melebihi 57 persen pascapenutupan Selat Hormuz.
"Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global dan sejumlah besar kapal tanker gas alam cair, telah mendorong harga Brent berjangka naik 59 persen sejauh ini pada Maret, kenaikan bulanan tertinggi yang pernah ada. Sementara WTI naik 58 persen bulan ini, yang tertinggi sejak Mei 2020," ucapnya dalam keterangan tertulis, dilansir Antara, Selasa, 31 Maret 2026.
.jpg)
Ilustrasi. Foto: dok MI.
AS akan menghancurkan pembangkit energi dan sumur minyak Iran
Presiden AS Donald Trump memperingatkan AS akan menghancurkan pembangkit energi dan sumur minyak Iran jika Tehran tak membuka kembali Selat Hormuz. Hal ini menyusul penolakan Iran terhadap proposal perdamaian AS yang dianggap "tidak realistis" dan serangan rudal baru-baru ini terhadap rezim Zionis Israel.
Di sisi lain, Gerakan Ansar Allah Yaman, dikenal sebagai Houthi, masih mempertimbangkan untuk memblokir Selat Bab al-Mandeb, yang dapat membuat harga minyak dunia melonjak tajam, sebagaimana laporan Sputnik.
Houthi menekankan Eropa juga harus memahami jika mereka terus menjadi musuh Poros Perlawanan, maka pihaknya akan menaikkan harga minyak hingga USD200 (sekitar Rp3,4 juta) per barel dan mencekik perekonomian Eropa.
Selat Bab al-Mandeb merupakan jalur sempit strategis yang menghubungkan Laut Merah dan Samudra Hindia. Terkait konflik Iran, wilayah tersebut menjadi penting karena berpotensi terganggu oleh kelompok sekutu Iran, sehingga mengancam jalur perdagangan dan distribusi minyak global.