Rupiah 'Jebol' Lagi, Nyusruk ke Rp16.786/USD Pagi Ini

Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.

Rupiah 'Jebol' Lagi, Nyusruk ke Rp16.786/USD Pagi Ini

Husen Miftahudin • 7 January 2026 09:50

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini kembali mengalami pelemahan.

Mengutip data Bloomberg, Rabu, 7 Januari 2026, rupiah hingga pukul 09.41 WIB berada di level Rp16.786 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 28 poin atau setara 0,17 persen dari Rp16.758 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.757 per USD. Rupiah juga tergelincir 12 poin atau 0,07 persen dari level RpRp16.745 per USD.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan kembali melemah.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.750 per USD hingga Rp16.780 per USD," jelas Ibrahim.
 

Baca juga: Dolar AS 'Gebuk' Mata Uang Utama Dunia, Euro hingga Pound Sterling Bertekuk Lutut
 

Presiden sementara Venezuela tunduk pada AS


Ibrahim mengungkapkan, pergerakan nilai tukar rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez yang dilantik sebagai presiden sementara. Meskipun ia menyampaikan dukungan untuk Maduro, tidak jelas apakah ia berencana untuk menentang intervensi AS.

"Laporan intelijen AS memandang Rodriguez sebagai orang yang paling tepat untuk memimpin pemerintahan sementara," tutur Ibrahim.

Pada Senin, Maduro menyatakan tidak bersalah atas tuduhan AS terkait distribusi narkotika. Maduro , yang muncul di pengadilan New York beberapa hari setelah penangkapannya di Caracas oleh pasukan AS, mengatakan bahwa ia tidak bersalah dan ia masih Presiden Venezuela. 

Penangkapan Maduro, yang menurut Presiden AS Donald Trump dilakukan tanpa persetujuan Kongres, mengejutkan pasar global minggu ini. Trump mengisyaratkan AS akan mengambil alih kendali sementara Venezuela dan membuka industri minyak negara itu, mengundang perusahaan minyak besar AS untuk berinvestasi di negara tersebut. 

Sementara itu, data ekonomi AS mengungkapkan bisnis manufaktur terus menunjukkan prospek yang suram. Indeks PMI Manufaktur ISM AS untuk Desember 2025 turun menjadi 47,9, meleset dari perkiraan 48,3 dan turun dari 48,2 pada November.

"Hal ini menandakan penurunan lebih lanjut dalam aktivitas manufaktur. Angka tersebut menandai bulan kontraksi kesepuluh berturut-turut dan menggarisbawahi pelemahan yang terus-menerus di sektor ini," papar Ibrahim.


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

Inflasi terkendali


Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta menyatakan inflasi di Jakarta sepanjang 2025 terkendali di angka 2,63 persen dari target 2,5 plus minus satu. Adapun, penyumbang angka inflasi yang masih didominasi oleh sektor makanan, minuman dan tembakau. 

Inflasi (yoy) atau tahun ke tahun terjadi karena adanya peningkatan harga komoditas yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks harga sejumlah kelompok pengeluaran. Kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) tersebut, yaitu dari 105,69 pada Desember 2024 menjadi 108,47 pada Desember 2025. 

Inflasi yoy itu terjadi karena adanya peningkatan harga komoditas yang ditunjukkan oleh naiknya indeks harga sejumlah kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,67 persen. Kemudian, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,56 persen, dan kelompok perumahan, air, listrik, serta bahan bakar rumah tangga sebesar 3,22 persen. 

"Selain itu, pergantian tahun ajaran pendidikan, momen perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN), peningkatan harga emas perhiasan selaras dengan harga emas global yang terus meningkat sepanjang tahun, serta sejumlah peristiwa lainnya yang turut memengaruhi pergerakan inflasi di Jakarta sepanjang 2025," papar Ibrahim.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)