BI Rate Sudah Turun, Perbankan Didesak Segera Pangkas Bunga Kredit

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo. Foto: Dok istimewa

BI Rate Sudah Turun, Perbankan Didesak Segera Pangkas Bunga Kredit

Insi Nantika Jelita • 20 November 2025 09:23

Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan membuka ruang penurunan suku bunga acuan atau BI Rate ke depan. Hal ini untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya mengakselerasi pertumbuhan kredit yang masih melambat.

"Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati ruang penurunan suku bunga lebih lanjut," ujar dia dalam pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulan November 2025 secara daring, dilansir Kamis, 20 November 2025.

Perry menjelaskan, salah satu isu utama yang terus dibahas dalam koordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) adalah lambatnya penurunan suku bunga perbankan, baik deposito maupun kredit.

Penurunan suku bunga deposito berjalan lambat karena adanya special rate, yakni suku bunga khusus bagi deposan besar, termasuk pemerintah, kementerian/lembaga, non-BUMN, industri keuangan nonbank (IKNB), swasta, dan lainnya yang memiliki dana jumbo sehingga meminta suku bunga lebih tinggi.

"Ini kenapa suku bunga perbankan, baik deposito maupun kredit turunnya kok lambat, karena ada special rate," urainya.

Akibatnya, meski BI-Rate sudah turun 125 basis poin (bps) selama tahun ini, suku bunga deposito 1 bulan hanya turun 56 basis point (bps), dari 4,81 persen pada awal 2025 menjadi 4,25 persen pada Oktober 2025. Special rate ini disebut memengaruhi hingga 27 persen dari total dana pihak ketiga (DPK) perbankan.

"Penurunan suku bunga kredit bahkan lebih lambat, hanya 20 bps dari 9,20 persen menjadi 9,00 persen pada periode yang sama," jelas Perry.

Bank Indonesia memandang efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter terhadap suku bunga perbankan perlu terus diperkuat. Pelonggaran yang sudah ditempuh BI termasuk penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah di perbankan. Hal ini seharusnya diikuti percepatan penurunan suku bunga perbankan.

"Melalui koordinasi KSSK, pemerintah dan otoritas terkait telah meminta para deposan besar untuk menurunkan permintaan special rate," tegasnya.
 



(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Dorong pertumbuhan kredit lebih cepat

Perry menyebut, meski penurunan special rate sudah mulai terjadi, namun belum sepenuhnya optimal. Pihaknya mencatat kredit perbankan pada Oktober 2025 tumbuh 7,36 persen (yoy), melambat dari 7,70 persen (yoy) pada bulan sebelumnya.

"Kalau suku bunga deposito bisa turun, maka suku bunga kredit juga bisa turun. Namun, permintaan kredit yang belum kuat dipengaruhi oleh sikap pelaku usaha yang masih menahan ekspansi (wait and see)," terangnya.

BI memperkirakan pertumbuhan kredit 2025 akan berada pada batas bawah kisaran 8–11 persen, dan meningkat pada 2026.

Perry kemudian mengatakan, BI juga mendorong efektivitas tambahan likuiditas agar benar-benar tersalurkan ke sektor riil. Tambahan likuiditas berasal dari penurunan outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pembelian SBN di pasar sekunder, pelonggaran kebijakan makroprudensial, serta penempatan dana SAL yang dipindahkan dari BI ke perbankan.

Dengan likuiditas yang melimpah, Perry menilai suku bunga perbankan semestinya dapat turun lebih cepat sehingga penawaran kredit meningkat.

Di sisi lain, koordinasi fiskal-moneter menjadi penting untuk meningkatkan permintaan kredit dari sektor riil, termasuk upaya menurunkan undisbursed loan atau kredit menganggur. Fasilitas kredit yang belum dicairkan pada Oktober 2025 masih mencapai Rp2.450,7 triliun atau 22,97 persen dari plafon yang tersedia.

Perry berharap ekspansi fiskal pemerintah dapat mendorong konsumsi masyarakat, investasi dunia usaha, dan peningkatan produksi, sehingga permintaan kredit dapat tumbuh lebih kuat. “Dengan percepatan stimulus fiskal, diharapkan penyaluran kredit perbankan akan meningkat ke depannya. Inilah sinergi yang terus kita perkuat,” ujarnya.

Penurunan suku bunga di pasar uang

Dalam kesempatan sama, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menjelaskan, penurunan BI-Rate sebesar 125 basis poin sepanjang 2025 sudah tercermin cukup kuat di pasar uang.

Ini terlihat dari INDONIA (Indonesia Overnight Index Average) yang turun sebesar 202 basis poin atau 2,02 persen, dari level 6,02 persen menjadi empat persen. Pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun, imbal hasil juga melemah dari 6,98 persen menjadi 6,13 persen, atau turun sekitar 85 basis poin.

Meski demikian, Destry menekankan tantangan justru muncul pada sektor perbankan. Dalam periode yang sama, penurunan suku bunga kredit baru mencapai 20 basis poin. "Sementara, suku bunga Dana Pihak Ketiga (DPK) baru turun 23 basis poin," ucapnya.

Destry juga menyoroti perkembangan nilai tukar rupiah di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian. Indeks Dolar AS (DXY) terus menunjukkan tren kenaikan, disertai dengan masih tingginya imbal hasil obligasi AS, terutama untuk tenor panjang. Situasi ini mendorong terjadinya aksi risk-off di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga aliran modal asing (inflow) ke emerging market menjadi terbatas.

Dampaknya, rupiah bersama mata uang regional mengalami pelemahan sejak Oktober 2025. Secara quarter-to-date (QTD), rupiah tercatat melemah 0,48 persen. Pelemahan juga terjadi pada peso Filipina sebesar 1,34 persen, baht Thailand 0,21 persen, sementara won Korea mengalami depresiasi paling dalam hingga 4,25 persen.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)