Ilustrasi. Foto: Freepik.
Dolar AS Melemah, Yen Melonjak ke Level Tertinggi dalam 6 Bulan
Eko Nordiansyah • 8 September 2026 08:55
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan pada Senin, 7 September 2026, tertekan lonjakan yen. Indeks dolar, yang mengukur nilai dolar AS terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, turun 0,3 persen ke level 98,92.
Dikutip dari Investing, Selasa, 8 September 2026, indeks ini bergerak di dekat level terendah dalam beberapa bulan terakhir karena para pedagang terus mengurangi posisi beli (long positions) menjelang rilis data inflasi penting AS.
Pasar AS tutup pada Senin untuk memperingati hari libur hari buruh (Labor Day), yang mengakibatkan volume perdagangan global menjadi jauh lebih tipis. Kondisi ini dapat memperbesar fluktuasi harga dan melebih-lebihkan pergerakan pasar jangka pendek.
Yen Jepang melonjak ke level tertinggi
Pada hari Senin, yen memimpin penguatan luas terhadap dolar AS yang sedang melemah. Hal ini didorong oleh keyakinan yang meningkat akan kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ) yang berpadu dengan pelemahan mata uang AS tersebut, sehingga memicu aktivitas perdagangan mata uang yang intens.Yen melonjak 1,1 persen terhadap dolar AS hingga menyentuh level terkuatnya sejak 23 Februari 2026, melanjutkan reli kuat yang telah berlangsung selama beberapa minggu. Penguatan tajam ini terjadi seiring pelaku pasar secara agresif memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin oleh BOJ dalam pertemuan kebijakan moneter pada 18 September.
Pasar uang memperhitungkan kemungkinan besar Gubernur BOJ Kazuo Ueda dan Dewan Gubernur akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin bulan ini, dengan para pedagang berspekulasi bahwa para pembuat kebijakan mungkin membuka peluang untuk pengetatan lebih lanjut sebelum akhir tahun.

(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Menambah sentimen pasar, data resmi yang dirilis oleh Kementerian Keuangan Jepang mengungkapkan bahwa kepemilikan sekuritas asing turun sebesar rekor USUSD87,8 miliar pada akhir Agustus—penurunan yang dikonfirmasi oleh sumber resmi berkaitan langsung dengan pendanaan upaya mendukung mata uang baru-baru ini.
Angka resmi menunjukkan Tokyo menghabiskan rekor 15,4 triliun yen (sekitar USD98,6 miliar) untuk mendukung mata uang tersebut dalam periode hingga 26 Agustus, sebuah operasi yang sebagian dilakukan bersamaan dengan otoritas AS.
Pejabat tinggi urusan mata uang Jepang, Atsushi Mimura, memperkuat sikap hati-hati pasar pada hari Jumat dengan menyatakan bahwa Tokyo terus berkomunikasi dengan Washington dan waspada terhadap volatilitas nilai tukar, sehingga membuat para pelaku short-selling tetap bersikap defensif.
Penguatan euro hingga won
Euro turut menguat, naik ke level USD1,1600, saat para pelaku pasar mata uang tunggal tersebut bersiap menghadapi kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) yang diperkirakan akan terjadi pada akhir pekan ini. Spekulasi kenaikan suku bunga BOJ dan penggunaan cadangan mendorong lonjakan yen.Di berbagai bursa regional, pelemahan dolar memberikan dorongan positif bagi mata uang Asia tertentu, yang dipimpin oleh lonjakan permintaan terhadap aset-aset Korea. Nilai tukar won Korea Selatan diperdagangkan di kisaran 1.346,98 per dolar setelah sempat menyentuh level 1.334,70, posisi terkuatnya sejak Oktober 2024.
Mata uang ini mendapat dorongan dari derasnya arus masuk modal asing ke saham-saham sektor teknologi domestik, di mana investor global memborong saham perusahaan raksasa semikonduktor seperti Samsung Electronics dan SK Hynix senilai lebih dari 800 miliar won (USD598 juta).
Data CPI AS dan pertemuan bank sentral
Data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang akan dirilis Jumat menjadi acuan utama bagi ekspektasi suku bunga Federal Reserve, menyusul laporan data tenaga kerja non-pertanian (nonfarm payrolls) yang kuat pekan lalu. Saat ini, pasar memperkirakan adanya peluang sekitar 57 persen bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga dalam pertemuan 15–16 September.
Mengingat Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan secara luas akan menaikkan suku bunga pada hari Kamis dan Bank of Japan (BOJ) akan menggelar pertemuan pada 18 September, perbedaan ekspektasi suku bunga dapat terus menekan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama lainnya.