Kontrak Berjangka Wall Street Beragam, Dow Jones dan S&P Turun

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Kontrak Berjangka Wall Street Beragam, Dow Jones dan S&P Turun

Eko Nordiansyah • 8 September 2026 08:47

New York: Kontrak berjangka saham AS bervariasi pada Senin malam, 7 September 2026, karena investor kembali dari liburan Hari Buruh. Mereka khawatir tentang inflasi, harga minyak yang lebih tinggi, dan prospek kenaikan suku bunga Federal Reserve minggu depan.

Dikutip dari Investing, Selasa, 8 September 2026, kontrak berjangka Dow Jones turun 0,6 persen menjadi 53.116,0 poin. Kontrak berjangka S&P 500 turun tipis 0,1 persen menjadi 7.712,25 poin, sementara kontrak berjangka Nasdaq 100 naik 0,3 persen menjadi 29.639,75 poin.

Pergerakan ini terjadi setelah pasar AS tutup pada Senin untuk libur Hari Buruh, sehingga investor harus mencerna laporan ketenagakerjaan Agustus yang lebih kuat dari perkiraan dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Spekulasi kenaikan suku bunga Fed

Investor telah meningkatkan taruhan secara tajam pada kenaikan suku bunga September setelah data menunjukkan pemberi kerja AS menambah 162 ribu pekerjaan pada bulan Agustus, jauh di atas ekspektasi ekonom, sementara tingkat pengangguran tetap di 4,1 persen.

Pasar berjangka memperkirakan probabilitas kenaikan 25 basis poin sekitar 60 persen pada pertemuan Fed tanggal 15-16 September, naik dari 49 persen sebelum laporan tersebut, menurut CME FedWatch.
(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Pada Senin, UBS menjadi salah satu bank besar terbaru yang merevisi prospeknya, memperkirakan dua kenaikan suku bunga Fed tahun ini, termasuk satu pada September dan satu lagi pada Desember. Sebelumnya, bank tersebut memperkirakan tidak akan ada perubahan suku bunga pada 2026.

Perhatian kini beralih ke serangkaian data inflasi akhir pekan ini, dengan harga produsen yang akan dirilis pada hari Kamis dan harga konsumen pada hari Jumat. Data tersebut dapat menentukan apakah Fed akan melanjutkan kenaikan suku bunga atau mempertahankan kebijakan yang tidak berubah.

Lonjakan harga minyak

Harga minyak menambah kekhawatiran inflasi. Minyak mentah Brent diperdagangkan sekitar USD97 per barel pada hari Selasa karena konflik antara Amerika Serikat dan Iran meningkat dan kekhawatiran meningkat atas gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz.

Iran mengancam akan melakukan pembalasan terhadap infrastruktur energi regional setelah serangan AS terhadap kapal-kapal Iran, sementara laporan serangan terhadap kilang Jazan di Arab Saudi menambah kekhawatiran akan gangguan pasokan lebih lanjut.

Harga energi yang lebih tinggi dapat mempersulit prospek kebijakan Fed dengan menambah tekanan inflasi tepat ketika para pembuat kebijakan menilai apakah ekonomi tetap cukup kuat untuk menahan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Wall Street telah ditutup lebih rendah pada Jumat, 8 September 2026, setelah laporan pekerjaan. Dow Jones Industrial Average turun 0,5 persen, S&P 500 turun 0,4 persen, dan Nasdaq Composite turun 0,3 persen.

(Eko Nordiansyah)