Dolar AS Naik Tipis Menanti Kebijakan Suku Bunga The Fed

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Dolar AS Naik Tipis Menanti Kebijakan Suku Bunga The Fed

Eko Nordiansyah • 10 September 2026 08:52

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak tipis pada Rabu, 9 September 2026, sementara perhatian pasar tetap tertuju pada yen Jepang di tengah lonjakan nilainya yang signifikan.

Para pelaku pasar mata uang bersiap menghadapi pekan krusial yang akan diisi dengan keputusan suku bunga dari Federal Reserve, Bank of Japan, dan Bank Sentral Eropa (ECB).

Pasar obligasi AS juga menjadi sorotan setelah pembaruan informasi dari Departemen Keuangan mengenai operasi pembelian kembali (buyback) ternyata mengecewakan para investor.

Dikutip dari Investing, Kamis, 10 September 2026, indeks dolar AS, yang mengukur kinerja greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, naik 0,1 persen ke level 98,83.

Yen terus bertahan di level tertinggi

Yen Jepang muncul sebagai mata uang dengan kinerja paling menonjol di antara mata uang utama lainnya, mencatatkan lonjakan sebesar empat persen hanya saat September. Reli pesat sejak awal bulan ini sempat membawa nilainya mencapai level tertinggi 152,89 terhadap dolar pada Selasa.

Pada Rabu, yen kembali menguat, dengan pasangan mata uang USD/JPY terakhir tercatat turun 0,2 persen ke posisi 153,63.

Mata uang ini mendapat dorongan dari kombinasi ekspektasi pengetatan kebijakan Bank of Japan (BoJ) dan spekulasi luas mengenai intervensi pasar.

Pasar keuangan memperhitungkan kemungkinan besar kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh BoJ pada tanggal 18 September, dan para pedagang meyakini Gubernur Kazuo Ueda dapat memberikan sinyal mengenai normalisasi kebijakan lebih lanjut sebelum akhir tahun.

Data resmi awal pekan ini menunjukkan kepemilikan sekuritas asing Jepang turun sebesar rekor USD87,8 miliar pada Agustus. Penurunan tajam cadangan tersebut secara langsung mendanai operasi intervensi mata uang besar-besaran Tokyo senilai 15 triliun yen (USD97,67 miliar), yang sebagian dilakukan bersamaan dengan Washington.
(Ilustrasi. Foto: Pngtree)

Obligasi AS melemah menjelang data inflasi penting

Di AS, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS melonjak setelah obligasi dilepas pasar menyusul pernyataan Departemen Keuangan AS yang akan membeli kembali obligasi dengan tenor 10 hingga 20 tahun senilai hingga USD6 miliar, naik dari sebelumnya USD2 miliar.

Bulan lalu, departemen tersebut menyatakan akan meningkatkan nilai pembelian kembali menjadi setidaknya USD4 miliar, sementara laporan media menyebutkan ekspektasi pasar adalah setidaknya USD10 miliar.

Imbal hasil obligasi acuan AS tenor 10 tahun kini naik 3,5 basis poin menjadi 4,839 persen. Sebelumnya, imbal hasil ini sempat naik 1,2 basis poin ke level 4,816 persen sebelum pengumuman tersebut. Imbal hasil obligasi tenor 2 tahun kini naik 2,7 basis poin menjadi 4,425 persen.

Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi umumnya cenderung memperkuat nilai dolar. Langkah Departemen Keuangan AS tersebut dipandang sebagai intervensi tak terduga untuk membatasi lonjakan imbal hasil (yield) di tengah penurunan tajam harga obligasi pemerintah yang terus berlanjut.

Aksi jual ini dipicu oleh kombinasi berbagai faktor, termasuk kekhawatiran inflasi akibat melonjaknya harga minyak, kegelisahan terkait besarnya jumlah utang yang diterbitkan perusahaan untuk mendanai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), serta kekhawatiran mengenai utang nasional AS yang terus membengkak.

Saat ini, perhatian tertuju pada laporan indeks harga produsen (PPI) Agustus yang akan dirilis hari Kamis dan data indeks harga konsumen (CPI) Jumat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah suku bunga. Angka-angka yang lebih tinggi dari perkiraan dapat secara signifikan memperbesar kemungkinan kenaikan suku bunga oleh The Fed pada pekan depan.

Euro menguat tipis menjelang pertemuan ECB

Di sisi lain, nilai tukar euro naik 0,1 persen menjadi USD1,1629. Pada hari Kamis, Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan secara hampir bulat akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

"Ada perdebatan mengenai apakah ECB sebaiknya terus menaikkan suku bunga di tengah guncangan pasokan, namun pasar jelas meyakini bahwa respons kebijakan ECB sangat bergantung pada sektor energi, mengingat kenaikan harga minyak dan gas baru-baru ini telah mendorong pasar untuk memperkirakan suku bunga puncak (terminal rate) di level tiga persen," kata Jim Reid dari Deutsche Bank.

"Jadi, kenaikan suku bunga besok tampaknya sudah pasti, namun situasinya menjadi rumit setelah itu. Jika harga energi bertahan di level saat ini, pertumbuhan ekonomi seharusnya akan terdampak, namun sejauh ini dampaknya tidak sebesar yang diperkirakan sejauh ini, sehingga pasti ada tingkat ketidakpastian yang tinggi, terutama bagi ECB," tambahnya.

(Eko Nordiansyah)