BMKG dan PVMBG, Foto: Web BMKG NTT & Facebook BPPTKG
Jangan Keliru, Ini Beda Tugas BMKG dan PVMBG
Putri Purnama Sari • 9 September 2026 16:07
Jakarta: Indonesia kembali menghadapi aktivitas gempa yang cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir. Salah satu gempa terkuat terjadi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026 dengan magnitudo M7,7.
Gempa tersebut terjadi pada kedalaman sekitar 15 kilometer dan bersumber dari aktivitas tektonik Flores Back-Arc Thrust. Rangkaian gempa kemudian diikuti ribuan gempa susulan.
Kondisi tersebut membuat informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) banyak dicari masyarakat. Namun, masih ada yang menganggap BMKG dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memiliki tugas yang sama karena keduanya sama-sama berkaitan dengan aktivitas gempa.
Padahal, kedua lembaga tersebut memiliki fokus pemantauan yang berbeda. BMKG berfokus pada gempa tektonik, sedangkan PVMBG berkaitan dengan aktivitas gunung api, termasuk gempa vulkanik.
Melalui akun Instagram @infobmkg, BMKG menjelaskan perbedaan tugas kedua lembaga tersebut. Pemahaman ini penting agar masyarakat tidak keliru mencari sumber informasi saat terjadi bencana.
Tugas BMKG
BMKG merupakan lembaga pemerintah nonkementerian yang menangani bidang meteorologi, klimatologi, geofisika, dan modifikasi cuaca.
Dalam bidang geofisika, BMKG memantau aktivitas gempa tektonik yang berkaitan dengan pergerakan lempeng bumi maupun aktivitas sesar. Gempa Flores M7,7 pada 15 Agustus 2026 menjadi salah satu contohnya.
BMKG menyebut gempa tersebut dipicu oleh aktivitas tektonik pada Flores Back-Arc Thrust. BMKG juga bertugas menyampaikan informasi terkait parameter gempa, seperti lokasi, magnitudo, kedalaman, hingga potensi tsunami. Selain gempa bumi, BMKG menangani informasi mengenai cuaca, iklim, dan berbagai fenomena geofisika lainnya.
Tugas PVMBG
Berbeda dengan BMKG, PVMBG berada di bawah Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). PVMBG berfokus pada vulkanologi dan mitigasi bencana geologi. Salah satu tugas utamanya adalah memantau aktivitas gunung api.
Dalam pemantauan tersebut, PVMBG juga mengamati gempa vulkanik yang berkaitan dengan aktivitas di dalam gunung api, termasuk pergerakan magma. Karena itu, informasi mengenai aktivitas dan status gunung api menjadi bagian penting dari tugas PVMBG.
Masyarakat juga dapat memperoleh informasi mengenai tingkat aktivitas gunung api serta rekomendasi mitigasi melalui lembaga tersebut.
Perbedaan Gempa Tektonik dan Vulkanik
.jpg)
Gempa tektonik terjadi akibat pergerakan atau pelepasan energi pada lempeng dan sesar di dalam bumi. Jenis gempa ini menjadi salah satu fokus pemantauan BMKG. Sementara itu, gempa vulkanik berkaitan dengan aktivitas gunung api. Getaran tersebut dapat menjadi salah satu indikator adanya perubahan aktivitas di dalam gunung.
Dengan demikian, meskipun sama-sama disebut gempa, sumber dan karakteristik keduanya berbeda. Hal ini pula yang membuat lembaga yang bertugas memantaunya tidak sama.
Ketika terjadi gempa tektonik, masyarakat dapat mengikuti informasi resmi BMKG. Informasi yang disampaikan antara lain parameter gempa, perkembangan gempa susulan, hingga peringatan dini tsunami apabila terdapat potensi.
Jika informasi berkaitan dengan aktivitas gunung api, masyarakat perlu mengikuti informasi resmi PVMBG, termasuk mengenai status gunung api dan rekomendasi mitigasinya.
Perbedaan ini perlu untuk dipahami, terutama ketika Indonesia mengalami rangkaian gempa seperti yang terjadi sepanjang Agustus-September 2026. Dengan mengetahui sumber informasi yang tepat, masyarakat dapat memperoleh informasi kebencanaan yang sesuai dan mengikuti arahan mitigasi dari lembaga berwenang.
(Siti Nahdia Usman)