Ilustrasi perdagangan saham di Wall Street. Foto: Mentarimulia.co.id
Wall Street Lanjut Menguat, Nasdaq Masih Jadi yang Paling Cuan
Husen Miftahudin • 1 August 2026 11:11
Jakarta: Bursa saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Jumat waktu setempat. Penguatan dipimpin oleh lonjakan saham Amazon setelah perusahaan membukukan kinerja keuangan di atas ekspektasi, meski kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan pelemahan saham Apple membatasi optimisme pasar.
Mengutip Xinhua, Sabtu, 1 Agustus 2026, indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,53 persen ke level 52.485,03. Sementara itu, S&P 500 menguat 0,70 persen menjadi 7.489,72 dan Nasdaq Composite melonjak 1 persen ke posisi 25.373,85.
Pergerakan saham teknologi menjadi perhatian utama investor setelah sejumlah emiten besar merilis laporan keuangan kuartalan. Saham Amazon melesat 15,32 persen setelah perusahaan e-commerce dan komputasi awan tersebut mencatatkan pendapatan yang melampaui proyeksi analis. Kinerja itu didukung ekspansi bisnis desain chip kustom untuk kebutuhan komputasi dan kecerdasan buatan (AI).
Sebaliknya, saham Apple turun 7,35 persen setelah pendapatan dari segmen layanan serta penjualan di sejumlah pasar utama Asia berada di bawah ekspektasi pasar.
Pasar juga mencermati kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mencapai 4,75 persen atau level tertinggi sejak Januari 2025.
Kenaikan tersebut dipicu aksi jual obligasi pemerintah setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya pada awal pekan tanpa memberikan sinyal yang jelas mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya.

(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
Raksasa teknologi perbesar investasi AI
Laporan keuangan terbaru menunjukkan perusahaan teknologi berskala besar atau hyperscaler masih agresif memperluas investasi di bidang kecerdasan buatan.
Amazon, Microsoft, Meta Platforms, dan Alphabet diproyeksikan mengalokasikan belanja modal secara kumulatif sebesar USD720 miliar hingga USD745 miliar sepanjang 2026, terutama untuk memperkuat infrastruktur AI dan pusat data.
Di sisi lain, harga minyak dunia turut menguat pada perdagangan Jumat setelah gangguan terhadap lalu lintas pelayaran komersial di Selat Hormuz kembali terjadi di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak September naik USD1,08 atau 1,29 persen menjadi USD84,67 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent kontrak September menguat USD1,09 atau 1,22 persen menjadi USD90,12 per barel.
Kenaikan harga minyak ikut menopang kinerja sektor energi, meski saham ExxonMobil justru melemah hampir 1 persen setelah biaya pemeliharaan fasilitas menekan laba kuartalan perusahaan.
Di tengah kenaikan harga energi, sentimen konsumen AS masih menunjukkan ketahanan. Indeks sentimen konsumen Universitas Michigan pada Juli kembali meningkat meski konflik di Timur Tengah terus berkembang dan harga bensin kembali melampaui USD4 per galon.
Di sisi lain, indeks Nasdaq-100 yang didominasi saham teknologi mencatat penurunan sekitar tujuh persen sepanjang Juli 2026. Koreksi tersebut menjadi yang terdalam sejak Maret 2025.
Penurunan dipengaruhi kombinasi ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, volatilitas harga energi, ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve yang tetap ketat, serta koreksi valuasi saham sektor semikonduktor.