Ilustrasi perdagangan saham di Wall Street. Foto: Xinhua/Wang Ying.
Saham Microsoft Dongkrak Wall Street, Nasdaq Melonjak 2,78%
Husen Miftahudin • 31 July 2026 08:21
New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Kamis waktu setempat, dipimpin reli saham-saham teknologi setelah Microsoft membukukan kinerja keuangan divisi komputasi awan (cloud) yang melampaui ekspektasi pasar.
Mengutip Xinhua, Jumat, 31 Juli 2026, indeks Dow Jones Industrial Average naik 613,92 poin atau 1,19 persen ke level 52.208,06. Sementara itu, S&P 500 menguat 121,48 poin atau 1,66 persen menjadi 7.437,63. Sedangkan Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi melonjak 679,24 poin atau 2,78 persen ke posisi 25.122,18.
Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, enam sektor berakhir di zona hijau. Sektor teknologi mencatat kenaikan tertinggi sebesar 5,24 persen, diikuti sektor barang konsumsi nonprimer (consumer discretionary) yang naik 1,57 persen.
Sebaliknya, sektor jasa komunikasi dan barang konsumsi primer menjadi penekan pasar dengan masing-masing melemah 2,52 persen dan 2,24 persen.
Microsoft melonjak, Meta tertekan
Pergerakan saham emiten teknologi berkapitalisasi besar berlangsung beragam setelah publikasi laporan keuangan kuartalan. Saham Microsoft melesat lebih dari 15 persen, menjadi kenaikan harian terbesar sejak 2008. Lonjakan tersebut juga mencatat tambahan kapitalisasi pasar harian terbesar yang pernah dibukukan sebuah perusahaan, didorong oleh pendapatan tahunan divisi cloud Azure yang untuk pertama kalinya melampaui USD100 miliar.
Sebaliknya, saham Meta Platforms merosot 7,95 persen dan memperpanjang pelemahan dalam beberapa sesi perdagangan. Penurunan tersebut dipicu laporan keuangan yang berada di bawah ekspektasi sehingga memunculkan kekhawatiran investor terhadap kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari investasi besar di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Setelah perdagangan reguler berakhir, saham Amazon melonjak lebih dari sembilan persen dalam perdagangan lanjutan (after-hours) menyusul laporan laba kuartal II yang melampaui proyeksi Wall Street, termasuk pertumbuhan bisnis cloud yang lebih kuat dari perkiraan.
Pelaku pasar juga menantikan laporan keuangan Apple untuk mencermati prospek margin bisnis perangkat keras di tengah meningkatnya biaya cip memori.

(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
Data inflasi dan PDB jadi sorotan investor
Selain laporan keuangan emiten, investor juga mencermati sejumlah data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat. Departemen Perdagangan AS melaporkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) meningkat dengan laju bulanan yang lebih rendah pada Juni. Data tersebut memberikan sinyal positif terhadap prospek inflasi yang menjadi perhatian utama Federal Reserve (The Fed).
Pada saat yang sama, data produk domestik bruto (PDB) menunjukkan ekonomi AS tumbuh 1,5 persen secara tahunan pada kuartal II-2026, lebih rendah dari ekspektasi pasar.
Rangkaian data tersebut dirilis sehari setelah Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya, sementara pasar obligasi mengalami volatilitas yang mendorong imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun mendekati 5,24 persen.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah ditutup melemah meski ketidakpastian geopolitik masih membayangi. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak September turun 87 sen atau 1,03 persen menjadi USD83,59 per barel di New York Mercantile Exchange.
Sementara itu, minyak mentah Brent kontrak September terkoreksi USD1,71 atau 1,88 persen menjadi USD89,03 per barel di ICE Futures Exchange London.