Sawah padi di Sumba memakai varietas Sridewi. Foto: Metrotvnews.com/Zein Zahiratul Fauziyyah.
Cerita Manis Petani di Sumba Barat Usai Pakai Benih Sridewi
Zein Zahiratul Fauziyyah • 1 November 2026 13:35
Sumba Barat: Sejumlah petani di Sumba Barat membagikan kisahnya beralih menggunakan bibit jenis Sridewi. Hasil panen para petani disebut melonjak drastis dan memberi nilai ekonomi yang lebih baik.
Lala, misalnya, seorang petani perempuan asal Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu mengaku telah beralih menggunakan benih padi varietas Sridewi. Jika sebelumnya hasil sawah lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, kini sebagian hasil panennya justru dapat dijual untuk membantu membiayai pendidikan anak.
Perubahan tersebut mulai dirasakan setelah ia mencoba menanam Sridewi. Sebelumnya, ketika masih menggunakan benih IR, hasil panen dari lahan yang dikelolanya belum mencukupi untuk dijual karena sebagian besar harus disimpan sebagai persediaan pangan keluarga.
"Kalau dulu cuma untuk makan saja, nggak bisa dijual karena dapatnya sedikit,” tutur Mama Lala, sapaannya, saat berbincang di Sumba Barat, Jumat, 30 Oktober 2026.

Mama Lala, petani di Sumba Barat. Foto: Metrotvnews.com/Zein Zahiratul Fauziyyah.
Namun, setelah menggunakan Sridewi, ia mengaku dapat menjual sekitar dua ton hasil panen. Hasil penjualan tersebut kemudian dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan anaknya yang melanjutkan pendidikan ke Denpasar.
“Kemarin itu saya bisa jual (oper) dua ton karena anak ada yang berangkat kuliah di Denpasar,” katanya.
Ia menyebut hasil penjualan saat itu mencapai Rp600 ribu per karung dengan berat sekitar 50 kilogram. Harga tersebut merupakan nilai jual yang diterimanya ketika itu, bukan patokan harga yang berlaku bagi seluruh petani.
Menabung Buat Beli Traktor
Petani lainnya, Tista, juga merasakan hal sama. Ia mengelola lahan seluas sekitar 1 hektare 74 are. Sebelum menggunakan Sridewi, mereka membutuhkan sekitar 200 kilogram benih untuk satu musim tanam.Namun, setelah beralih menggunakan Sridewi, kebutuhan benih berkurang menjadi 25 kilogram pada awal penggunaan dan kemudian sekitar 12 kilogram pada musim tanam berikutnya.
“Kalau bibit yang lain, biasanya setiap tahun saya menggunakan 200 kilogram benih untuk lahan seluas 1 hektare 74 are. Setelah menggunakan Sridewi, hanya 25 kilogram," ujar Mama Tista, sapaannya.
Perubahan juga terlihat dari hasil panen yang diperoleh. Pada musim tanam pertama menggunakan Sridewi, hasil panen mencapai 80 karung. Sementara pada musim berikutnya, hasilnya meningkat menjadi 89 karung.
“Pada awal penggunaan hasilnya 80 karung. Tahun kedua menjadi 89 karung. Berarti ada penambahan sembilan karung," tutur Tista.
Mama Tista mengatakan hasil panen yang diperoleh tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Setelah anak-anaknya menyelesaikan pendidikan, ia dan suaminya mulai memiliki kesempatan untuk menyisihkan sebagian penghasilan demi membeli traktor sendiri.
Ia mengaku, harga traktor yang ingin dibeli mencapai sekitar Rp30 juta. Jumlah tersebut membuat mereka harus mengumpulkan uang secara bertahap, menyesuaikan dengan penghasilan yang diperoleh.
"Kami berencana membeli traktor. Dari hasil yang ada, kalau belum cukup, kami menabung dulu," kata Tista.

Mama Tista (kanan), petani di Sumba Barat yang menggunakan variets Sridewi. Foto: Metrotvnews.com/Zein Zahiratul Fauziyyah.
Pengalaman petani tersebut menjadi salah satu gambaran perubahan yang ingin didorong melalui Program INCLUSION yang dijalankan Wahana Visi Indonesia (WVI) bersama sejumlah mitra.
Program ini menerapkan pendekatan Inclusive Market System Development atau pengembangan sistem pasar yang inklusif, dengan menghubungkan petani pada berbagai dukungan untuk meningkatkan hasil pertanian.
Dalam pelaksanaannya, dukungan tersebut mencakup penyediaan benih dan pendampingan teknis bersama PT BISI Internasional, serta akses pembiayaan sarana produksi pertanian melalui Credit Union (CU) Sangosay. Dengan demikian, pendampingan kepada petani tidak hanya berfokus pada penggunaan benih, tetapi juga mencakup kebutuhan lain selama proses budi daya.