Ilustrasi, emas batangan. Foto: sempsajp.com
Harga Emas Dunia Menguat di Tengah Lonjakan Inflasi AS
Husen Miftahudin • 16 October 2026 08:30
Chicago: Harga emas dunia menguat pada perdagangan Kamis waktu setempat, didukung pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Namun, lonjakan inflasi produsen di atas perkiraan membuat prospek suku bunga Federal Reserve (The Fed) tetap menjadi perhatian investor.
Mengutip Investing.com, Jumat, 16 Oktober 2026, harga emas spot naik 1,6 persen menjadi USD4.170,64 per ons troi. Sementara itu, harga emas berjangka menguat 0,5 persen menjadi USD4.192,60 per ons troi.
Kenaikan harga emas terjadi meskipun data ekonomi AS menunjukkan tekanan inflasi yang masih tinggi. Pelemahan dolar dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi faktor yang mendukung pergerakan logam mulia tersebut.
Inflasi produsen AS lampaui perkiraan
Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) naik 1,3 persen secara bulanan pada September 2026. Angka tersebut menjadi kenaikan bulanan terbesar dalam sekitar empat setengah tahun, jauh melampaui perkiraan ekonom sebesar 0,3 persen. Pada Agustus, PPI meningkat 0,5 persen.
Secara tahunan, PPI naik 6,3 persen, lebih tinggi dibandingkan perkiraan 5,3 persen dan kenaikan 5,6 persen pada Agustus. Angka tersebut merupakan kenaikan tahunan terbesar sejak Desember 2022.
Tekanan inflasi juga terlihat pada PPI inti, yang tidak memperhitungkan harga pangan dan energi. Indikator tersebut meningkat 0,7 persen secara bulanan dan lima persen secara tahunan pada September.
Realisasi tersebut melampaui perkiraan pasar masing-masing sebesar 0,3 persen dan 4,4 persen. Sebagai perbandingan, PPI inti pada Agustus naik 0,2 persen secara bulanan dan 4,8 persen secara tahunan.
Data PPI dirilis sehari setelah indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS juga menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan.
Kedua laporan tersebut memperlihatkan besarnya tekanan harga energi terhadap inflasi. Dalam laporan PPI, indeks permintaan akhir energi melonjak 10,8 persen secara bulanan pada September dan menyumbang lebih dari 80 persen terhadap kenaikan harga barang untuk permintaan akhir sebesar 2,6 persen.
Kenaikan harga barang tersebut menjadi yang terbesar sejak penghitungan indeks dimulai pada Desember 2009.
.jpg)
(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Penjualan ritel AS masih tumbuh
Selain data inflasi, indikator aktivitas ekonomi AS menunjukkan belanja konsumen masih bertahan. Biro Sensus AS melaporkan penjualan ritel meningkat 0,8 persen secara bulanan menjadi USD745 miliar pada September 2026. Angka tersebut melampaui perkiraan pasar sebesar 0,3 persen, tetapi melambat dibandingkan pertumbuhan 1,3 persen pada Agustus.
Sementara itu, Departemen Tenaga Kerja AS mencatat klaim awal tunjangan pengangguran mencapai 199 ribu pada pekan yang berakhir 10 Oktober 2026. Angka tersebut sesuai dengan perkiraan pasar. Rata-rata pergerakan empat minggu klaim pengangguran naik menjadi 198.500, tetapi masih berada di dekat level terendah sejak Oktober 2022.
Secara keseluruhan, data tersebut menunjukkan inflasi masih tinggi, konsumsi masyarakat relatif kuat, dan kondisi pasar tenaga kerja tetap stabil. Situasi ini dapat memengaruhi keputusan The Fed dalam menentukan arah suku bunga. Suku bunga yang lebih tinggi umumnya menjadi tantangan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga seperti obligasi atau deposito.
Meski data inflasi produsen melampaui ekspektasi, harga emas justru menguat seiring penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun turun 12,8 basis poin menjadi 5,061 persen. Sementara itu, imbal hasil obligasi bertenor dua tahun melemah 6,2 basis poin menjadi 4,740 persen.
Penurunan imbal hasil mengurangi biaya peluang memegang emas, sehingga dapat meningkatkan daya tarik logam mulia bagi investor.
Pasar obligasi sebelumnya mengalami tekanan yang mendorong imbal hasil ke level tinggi. Namun, obligasi pemerintah AS kembali diminati sebagai aset lindung nilai di tengah kekhawatiran terhadap besarnya utang yang diterbitkan perusahaan untuk membiayai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi pun menjadi faktor penting yang dicermati investor dalam menentukan arah harga emas, di tengah ketidakpastian mengenai inflasi dan kebijakan moneter AS.