Harga Emas Turun 1,5% Seiring Laporan Inflasi AS yang Tinggi

Ilustrasi emas batangan. Foto: bullionvault.com

Harga Emas Turun 1,5% Seiring Laporan Inflasi AS yang Tinggi

Eko Nordiansyah • 15 October 2026 08:48

Chicago: Harga emas spot turun pada Rabu, 14 Oktober 2026, setelah laporan inflasi konsumen AS yang secara keseluruhan lebih kuat dari perkiraan memicu ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve pada Oktober. Dolar menguat, sementara imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor jangka pendek mengalami kenaikan.

Emas juga berada di bawah tekanan akibat kenaikan harga minyak di tengah kekhawatiran yang meningkat mengenai gangguan pasokan.

Dikutip dari Investing, Kamis, 15 Oktober 2026, harga emas spot melemah 1,5 persen menjadi USD4.100,23 per troy ons. Sebaliknya, harga emas berjangka naik 0,3 persen menjadi USD4.121,45 per troy ons.

Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menguat

Para pelaku pasar logam mulia sangat mencermati laporan indeks harga konsumen (IHK/CPI) AS terbaru. Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja (Bureau of Labor Statistics), IHK umum (headline CPI) naik 0,6 persen secara bulanan (mtm) pada September, sementara IHK inti (core CPI) naik 0,3 persen (mtm).

Angka ini melampaui estimasi masing-masing sebesar 0,6 persen dan 0,2 persen, serta lebih tinggi dibandingkan data Agustus yang masing-masing tercatat sebesar 0,4 persen dan 0,3 persen. Kenaikan IHK umum ini merupakan yang terbesar sejak April.

Secara tahunan (yoy), IHK umum naik 3,7 persen pada September, sementara IHK inti meningkat 2,6 persen. Kedua angka tersebut sedikit lebih tinggi dari perkiraan dan menunjukkan percepatan dibandingkan level pada Agustus.

Indeks harga bensin naik 9,1 persen secara bulanan pada September, menyumbang lebih dari separuh kenaikan bulanan dalam indeks harga konsumen (CPI) utama (headline CPI). Sementara itu, indeks harga energi melonjak 20,4 persen secara tahunan bulan lalu.
(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Menjelang rilis laporan CPI, kemungkinan pengetatan kebijakan moneter The Fed dalam waktu dekat sempat meredup setelah munculnya data positif mengenai pertumbuhan ekonomi AS, indikator inflasi pilihan bank sentral, dan pasar tenaga kerja.

Namun, data CPI ini kembali memunculkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan Oktober. Menurut perangkat CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin pada akhir bulan ini kini mencapai hampir 33 persen, naik dari angka hampir 22 persen sebelum data inflasi konsumen dirilis.

Kini perhatian tertuju pada laporan indeks harga produsen (PPI) Kamis untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai langkah suku bunga The Fed di masa mendatang.

Lingkungan suku bunga tinggi umumnya cenderung membebani aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding assets), seperti emas. Meningkatnya spekulasi mengenai kenaikan suku bunga dalam waktu dekat turut mendongkrak indeks dolar AS. Dolar yang lebih kuat dapat membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli asing.

Harga minyak naik akibat kekhawatiran gangguan pasokan

Beralih ke geopolitik, harga minyak terpantau lebih tinggi pada Rabu. Minyak mentah berjangka Brent naik 0,3 persen menjadi USD106,05 per barel, sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 1,1 persen menjadi USD95,13 per barel.

Kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak meningkat di tengah konflik yang berkecamuk antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi. Menyusul serangkaian serangan Houthi terhadap bandara dan infrastruktur energi Arab Saudi koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan ke ibu kota Yaman, Sanaa.

Sebagai balasan, pada Rabu kelompok Houthi menargetkan kompleks Saudi Aramco di Dhahran, kilang Aramco di Riyadh, serta Bandara Internasional King Khalid, lokasi yang sama dengan tempat terjadinya serangan mematikan pada akhir pekan lalu.

Kekhawatiran mengenai pasokan sempat mereda awal pekan ini setelah Presiden Donald Trump mengumumkan kesepakatan dengan Rusia untuk melepas cadangan diesel negara tersebut ke pasar global, sebagai upaya untuk menurunkan harga bahan bakar olahan yang tengah melonjak. Pada Senin, Rusia mengisyaratkan volume ekspor diesel mereka mungkin melebihi jumlah yang disepakati dengan Trump.

(Eko Nordiansyah)