Rupiah Dibuka ke Rp18.162 per USD Senin Pagi

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Rupiah Dibuka ke Rp18.162 per USD Senin Pagi

Eko Nordiansyah • 2 November 2026 09:41

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan pagi ini mengalami pelemahan. Rupiah melemah atas dolar AS yang menguat jelang pemilihan paruh waktu di AS.

Mengutip data Bloomberg, Senin, 2 November 2026, rupiah berada di level Rp18.162 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 15 poin atau setara 0,08 persen dari Rp18.147 per USD pada penutupan perdagangan pekan lalu.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp18.138 per USD. Rupiah bergerak melemah dibandingkan Rp18.120 per USD pada penutupan perdagangan pekan sebelumnya.


(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Rupiah fluktuatif cenderung melemah

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada perdagangan hari ini akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah. Mata uang rupiah diproyeksi melemah di rentang Rp18.000 hingga Rp18.320 per dolar AS.

Ibrahim menyebut, pergerakan rupiah masih dibayangi sejumlah sentimen eksternal maupun domestik. Dari luar negeri, pasar kembali bergejolak setelah muncul laporan mengenai pembahasan opsi militer Amerika Serikat terhadap Iran di Gedung Putih.

Perkembangan tersebut memudarkan harapan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Ketegangan geopolitik Timur Tengah pun berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global dan memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain itu, pelaku pasar juga mencermati perkembangan ekonomi AS. Inflasi inti Personal Consumption Expenditures (PCE) tercatat tumbuh 0,3 persen secara bulanan dan 3,1 persen secara tahunan. Sementara pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal III mencapai 3,4 persen, melampaui perkiraan pasar sebesar 3,2 persen.

Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti ketidakpastian politik di tengah aksi demonstrasi mahasiswa di sejumlah kota besar sejak awal Oktober. Menurutnya, stabilitas politik memiliki hubungan erat dengan kepercayaan investor dan kondisi perekonomian nasional.

"Apabila ketegangan politik dapat dikelola dengan baik, kepercayaan investor diharapkan dapat kembali pulih. Sebaliknya, jika situasi terus berlarut-larut, tekanan terhadap rupiah, IHSG, investasi, dan perekonomian Indonesia berpotensi semakin besar," jelasnya.

(Eko Nordiansyah)