Gambar rock art atau lukisan figuratif seni cadas tertua diperkirakan berusia 67.800 tahun usai ditemukan di situs Liang Metanduno, Pulau Muna, Desa Liangkobori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. ANTARA/HO-Dokumentasi BRIN.
Lukisan Berusia 67.800 Tahun di Karst Sulawesi Bantah Asal-usul Seni dari Eropa
Silvana Febiari • 31 August 2026 23:23
Maros: Tim Arkelog meneliti sejumlah lukisan figuratif yang menggambarkan manusia prasejarah dan diperkirakan berusia 67.800 tahun. Lukisan tersebut ditemukan di dinding gua kapur yang tersebar di kawasan karst Sulawesi, seperti Leang Maros dan Leang Pangkep di Sulawesi Selatan serta Liang Metanduno di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.
"Penelitian ini membantah teori yang selama ini kita pelajari melalui buku-buku bahwa lukisan tertua bermula di Eropa, itu kemudian terbantahkan," ungkap Peneliti dan Arkeolog Universitas Hasanuddin Prof Akin Duli, dilansir dari Antara, Senin, 31 Agustus 2026.
Rock art atau lukisan tersebut berupa gambar jari runcing, hewan, hingga strategi berburu pada masa lampau. Lukisan berwarna merah marun dari bahan dasar oker itu masih terlihat jelas dan detail di dinding gua meski telah berusia ribuan tahun.
Hasil analisis menunjukkan gambar tersebut merupakan cetakan tangan manusia. Namun, ada kejanggalan karena ujung jarinya meruncing seperti cakar hewan, bukan tumpul seperti jari manusia.
Penemuan terbaru ini membantah narasi sebelumnya. Berdasarkan penanggalan uranium-series, lukisan yang diperkirakan berusia sekitar 67.800 tahun itu tidak hanya menjadi bukti seni tertua, tetapi juga dapat memberikan gambaran tentang teknologi dan organisasi sosial masyarakat masa lalu.
"Sulawesi ini masuk kawasan Wallacea dan memegang peranan penting. Bukti ini menjadi dasar kita membantah bahwa budaya melukis gua bukan berasal dari Eropa," tuturnya.
Asal-usul seni dan keindahan bukan hanya berasal dari Eropa. Peneliti Muhamad Nur mengatakan seni merupakan bagian yang melekat dalam diri manusia dan berpotensi muncul di berbagai tempat.
“Rasa keindahan ada bersama sifat amarah atau tertawa. Manusia di mana saja berpotensi melahirkan itu,” ujarnya.
Dalam lukisan tersebut, para arkeolog menemukan unsur estetika berupa pola garis tegas dan figur manusia yang mengelilingi hewan buruan seperti babi hutan dan anoa. Para ahli menyebutnya sebagai strategi “jari runcing”, yakni teknik pengepungan yang dilakukan secara kolektif.
"Temuan di situs seperti Bulu Sipong menunjukkan aktivitas sosial sangat terorganisir. Jelas sekali adegan perburuannya. Proses kawanan babi atau anoa digiring oleh pemburu. Ini bukan hanya gambar, tapi aktivitas sosial tentang perburuan," jelas Pakar Protosejarah Unhas ini.

Tim Arkeolog gabungan meneliti rock art atau lukisan figuratif seni cadas tertua diperkirakan berusia antara 45.500 tahun - 67.800 tahun usai ditemukan di situs Leang Tedonge', Kelurahan Balleangin, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. ANTARA/HO-Dokumentasi BRIN.
Para arkeolog kini melihat lukisan-lukisan tersebut dengan sudut pandang baru. Bukan sekadar coretan estetik, lukisan di panel-panel gua itu dipandang sebagai arsip teknologi, dengan figur manusia yang digambarkan bersama hewan buruan dan dihubungkan pola garis presisi.
"Penggambaran ini memiliki hubungan paralel yang sangat intim dengan cara manusia bertahan hidup. Modifikasi jari menyerupai cakar binatang itu sudah cukup lama dilakukan oleh manusia modern awal," kata Arkeolog dari BRIN Budianto Hakim.
Lukisan itu menjadi bukti bahwa sejak 67 milenium lalu, manusia di Nusantara telah memiliki aturan dalam berburu dan bergerak bersama. Ia melihat adanya benang merah antara lukisan gua tersebut dengan tradisi masyarakat Bugis-Makassar modern.
Hingga kini, ritual membuat cap tangan pada tiang rumah baru masih dilakukan masyarakat Sulawesi sebagai “penolak bala” atau pagar magis. Interpretasi ini menunjukkan bahwa manusia di Sulawesi sekitar 67.000 tahun lalu telah mampu berpikir abstrak secara kompleks.