Omzet Pedagang di Pasar Induk Kramat Jati Turun 30 Persen Imbas Sampah

Pedagang keluhkan penurunan omzet akibat gunungan sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (1/4/2026). ANTARA/Siti Nurhaliza

Omzet Pedagang di Pasar Induk Kramat Jati Turun 30 Persen Imbas Sampah

Siti Yona Hukmana • 1 April 2026 16:23

Jakarta: Omzet pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur (Jaktim) turun hingga 30 persen. Hal ini terjadi imbas tumpukan sampah setinggi sekitar enam meter di Tempat Penampungan Sementara (TPS) di pasar tersebut.

"Akibat tumpukan sampah, jadi ada penurunan omzet hingga 30 persen. Karena yang belanja itu enggan ke belakang, khususnya untuk bagian lapak saya. Mereka juga enggan parkir. Padahal kalau parkir, biasanya sekalian belanja," kata salah seorang pedagang Syaeful di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, dilansir Antara, Rabu, 1 April 2026.

Menurut dia, penurunan ini cukup signifikan, terutama pada jam-jam sibuk yang biasanya menjadi waktu utama transaksi. Kondisi lingkungan yang kotor, bau menyengat, serta akses yang terganggu membuat pembeli enggan datang, sehingga omzet pedagang pun menurun.

"Pembeli saya lihat cenderung enggan masuk ke area dalam pasar, terutama di sekitar lokasi TPS yang dipenuhi sampah, kita jadi kurang pembeli," ujar Syaeful.

Dia mengatakan, pengangkutan sampah di TPS sebenarnya dilakukan setiap hari. Namun, volume sampah yang diangkut dinilai tidak sebanding dengan jumlah sampah yang terus bertambah.

"Terkait sampah yang menumpuk ini, dampaknya banyak, baik secara ekonomi maupun dari sisi kesehatan. Secara ekonomi juga, untuk bongkar muat kita pedagang khususnya untuk jam sibuk merasa terganggu," ungkap Syaeful.

Keluhan serupa disampaikan pedagang lainnya, Narto. Dia menilai kondisi sampah yang menumpuk sudah berlangsung cukup lama tanpa ada solusi yang jelas. Selain bau yang menyengat, jalanan di sekitar lapak menjadi becek dan sulit dilalui.

"Yang jelas ini sampah sangat mengganggu kami dan seperti tidak ada solusi, berlarut-larut. Kami bukannya tidak bersuara, sudah bersuara ke PD Pasar Jaya. Cuma sampai saat ini belum ada penyelesaian," kata Narto.

Tembok pembatas di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, roboh diduga akibat tekanan tumpukan sampah yang menggunung, Rabu (1/4/2026). (ANTARA/Siti Nurhaliza).

Dia berharap pihak pengelola pasar dapat segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan tersebut. Apalagi, para pedagang telah menjalankan kewajiban membayar retribusi, sehingga berhak mendapatkan lingkungan yang bersih dan nyaman.

"Harapan kami sebagai pedagang, PD Pasar Jaya memenuhi kewajibannya. Kita bayar retribusi, ya tolong ditunaikan juga kewajibannya membersihkan sampah. Kami tidak muluk-muluk, yang penting lingkungan bersih dan nyaman," ujar Narto.

Pengangkutan sampah diharapkan dapat dilakukan secara maksimal dan konsisten agar aktivitas perdagangan kembali normal. Jika kondisi ini terus berlarut, mereka khawatir dampaknya tidak hanya pada penurunan pendapatan, tetapi kesehatan pedagang dan pengunjung pasar.

Sebelumnya, Suku Dinas Lingkungan Hidup (LH) Jaktim melanjutkan bantuan armada dengan mengerahkan 13 unit truk pengangkut sampah untuk mengurangi sampah yang menggunung di Pasar Induk Kramat Jati.

"Sampai hari ini juga ada kendaraan kami di sana masih membantu. Hari ini kami kerahkan 13 unit truk pengangkut sampah," kata Kepala Suku Dinas LH Jakarta Timur Julius Monangta di Pulo Gebang, Jakarta Timur, Senin, 30 Maret 2026.

Monang menegaskan bantuan dari Sudin LH Jakarta Timur tidak dibatasi waktu tertentu, melainkan akan terus dilakukan hingga kondisi sampah di lokasi benar-benar tertangani dengan baik. Selain itu, Monang memastikan upaya penanganan akan terus dilakukan secara maksimal dengan target akhir seluruh sampah di Pasar Induk Kramat Jati dapat dibersihkan sepenuhnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Siti Yona Hukmana)