Direktur Pengembangan Perbankan, Pasar Keuangan dan Pembiayaan Lainnya Kementerian Keuangan Adi Budiarso. Foto: Metro TV/Duta
Inklusi Jadi Kunci RI Menuju Pusat Ekonomi Syariah Dunia
Ade Hapsari Lestarini • 12 February 2026 15:54
Jakarta: Penguatan inklusi keuangan syariah menjadi benang merah dalam gelaran Metro TV Sharia Economic Forum 2026. Pemerintah, regulator, dan pelaku industri sepakat potensi besar ekonomi syariah Indonesia hanya dapat terwujud apabila akses dan partisipasi masyarakat terhadap layanan keuangan syariah semakin luas.
Direktur Pengembangan Perbankan, Pasar Keuangan dan Pembiayaan Lainnya Kementerian Keuangan Adi Budiarso menegaskan, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat ekonomi syariah dunia. Namun, tantangan utama masih terletak pada rendahnya tingkat inklusi. Saat ini, literasi keuangan syariah tercatat sekitar 43 persen, sementara inklusi perbankan syariah baru menyentuh 13 persen, jauh di bawah inklusi perbankan konvensional yang telah mencapai sekitar 80 persen.
Menurut dia, kesenjangan tersebut justru menunjukkan potensi pasar yang masih sangat besar. Pemerintah bersama OJK, Bank Indonesia, dan LPS berkomitmen mempercepat peningkatan inklusi melalui kemudahan akses, digitalisasi, serta kolaborasi lintas lembaga.
Ekosistem Emas Syariah Dinilai Memiliki Prospek Besar
Dari sisi regulator, OJK menekankan tiga strategi utama: penguatan tata kelola untuk meningkatkan kepercayaan publik, inovasi produk berbasis prinsip syariah, serta percepatan digitalisasi layanan. Salah satu langkah konkret adalah pengembangan kegiatan usaha bullion atau bank emas, yang fatwanya tengah dirampungkan bersama DSN-MUI.
Ekosistem emas syariah dinilai memiliki prospek besar, sehingga perbankan syariah diminta tidak tertinggal dari bank konvensional dalam memanfaatkan momentum tersebut.
Selain itu, OJK juga membuka opsi pembentukan Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekonomi Syariah guna menghadirkan payung hukum terintegrasi. Regulasi terpadu dinilai penting untuk memperkuat ekosistem, memberikan kepastian hukum, serta mendorong insentif bagi pelaku industri.
Hal ini terungkap dalam agenda Metro TV Sharia Economic Forum: Accelerating Growth and Prosperity: Path to Global Impact di The Tribrata Hotel, Jakarta, Kamis, 12 Februari 2026.

Direktur Pengembangan Perbankan, Pasar Keuangan dan Pembiayaan Lainnya Kementerian Keuangan Adi Budiarso. Foto: Metro TV/Duta
Dari sisi industri, PT Bank Syariah Indonesia (BSI) menunjukkan langkah ekspansif melalui penambahan 5.000 ATM di ruang publik yang berhasil menggaet lebih dari dua juta nasabah baru sepanjang 2025. Strategi kehadiran fisik (physical presence) dinilai krusial untuk membangun kepercayaan dan memperluas basis nasabah.
BSI juga memperluas inklusi melalui produk tabungan emas berbasis bullion bank, yang memungkinkan masyarakat berinvestasi mulai Rp50 ribu. Produk ini menyasar segmen menengah bawah, termasuk pekerja informal, agar dapat mengakses instrumen investasi sederhana dan terjangkau.
Secara keseluruhan, Sharia Economic Forum menegaskan transformasi ekonomi syariah Indonesia tidak cukup hanya dengan potensi dan literasi. Diperlukan penguatan regulasi, inovasi produk, digitalisasi, serta perluasan akses layanan agar inklusi meningkat dan cita-cita menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia dapat terwujud.