Ilustrasi rupiah. Metrototvnews.com/Eko Nordiansyah
Rupiah Selasa Sore Menguat ke Rp17.888/USD
Eko Nordiansyah • 21 July 2026 16:17
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami penguatan. Rupiah menguat atas dolar AS sejak pembukaan perdagangan pagi tadi.
Mengutip data Bloomberg, Selasa, 21 Juli 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.888 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik 60 poin atau setara 0,33 persen dari posisi Rp17.948 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.875 per USD. Rupiah justru menguat sebanyak 96 poin atau setara 0,53 persen dari Rp17.971 per USD di penutupan perdagangan sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.909 per USD. Rupiah bergerak melemah dari Rp17.976 per USD pada perdagangan sebelumnya.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: MI/Usman Iskandar)
Faktor eksternal pengaruhi rupiah
Pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen pasar terhadap AS dan Iran yang saling melancarkan serangkaian serangan selama akhir pekan, dengan Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan telah melancarkan lebih banyak serangan terhadap Iran pada Minggu malam.Serangan baru ini terjadi setelah serangan Iran terhadap pangkalan AS di Yordania menewaskan sedikitnya dua tentara AS dan melukai banyak lainnya. Militer Amerika terlihat menyerang berbagai target yang lebih luas di Iran, sementara Iran juga meningkatkan serangannya terhadap negara-negara Teluk di sekitarnya.
Pertempuran masih tetap berfokus pada kendali Selat Hormuz, dengan CENTCOM menyatakan bahwa serangan terbarunya bertujuan untuk terus melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal di Hormuz.
Selain itu, data inflasi dan pasar tenaga kerja AS baru-baru ini menunjukkan latar belakang ekonomi yang lebih lemah, tetapi investor tetap fokus pada apakah kenaikan biaya energi dapat mempersulit upaya Federal Reserve dalam memerangi inflasi.
Di sisi lain, lanjut Ibrahim, di tengah derasnya arus investasi asing, melemahnya investasi domestik serta lesunya konsumsi rumah tangga diperkirakan akan menahan pertumbuhan ekonomi nasional di bawah level lima persen.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 diperkirakan hanya mencapai sekitar 4,9 persen secara tahunan (yoy). Meski realisasi investasi mencapai Rp511,8 triliun atau tumbuh 7,1 persen (yoy), kontribusinya dinilai belum mampu mengompensasi perlambatan di sisi permintaan domestik.