Kelompok difabel netra yang mengikuti kegiatan mubeng beteng Kraton Yogyakarta peringatan 1 Sura. Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim
Kelompok Difabel Antusias Ikuti Tapa Bisu Mubeng Beteng Keraton Yogyakarta
Ahmad Mustaqim • 17 June 2026 12:57
Yogyakarta: Kegiatan 'Tapa Bisu' mubeng beteng Keraton Yogyakarta pada malam 1 Sura Be 1960, Selasa malam-Rabu dini hari (16-17 Juni 2026), menarik antusiasme sejumlah kalangan. Mulai dari warga Yogyakarta dari kelompok minoritas hingga masyarakat dari luar daerah Yogyakarta.
Salah satunya Joko Susanto yang hadir bersama lima temannya sesama penyandang disabilitas netra. Meski memiliki keterbatasan, kegiatan mubeng beteng ini bukan kali pertama mereka ikuti.
"Kami sudah keempat atau lima kalinya ikut kegiatan ini Orang-orangnya ini semua (difabel netra). Ada satu yang nggak ikut kali ini," kata Joko di kompleks Keraton Yogyakarta pada Selasa malam, 16 Juni 2026.
Mereka tidak berasal dari satu kampung yang sama, melainkan dari Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, dan Kulon Progo. Rombongan tersebut tiba di kompleks Keraton Yogyakarta sekitar pukul 20.00 WIB.
"Kami ikutan untuk melestarikan budaya Jawa karena kami sekalipun berbagai latar belakang seperti ini tapi kami merasa bagian dari Yogyakarta," ujarnya.
Ia mengatakan kegiatan mubeng beteng tanpa suara ini menjadi sarana refleksi diri atas perjalanan satu tahun yang telah dilalui. Ia berharap tahun berikutnya dapat dijalani dengan lebih baik.
"Kami berjalan bersama pendamping yang jalan di paling depan, bergandeng-gandeng gitu sampai kayak kereta ke belakang," ungkapnya.
Peserta lain kegiatan mubeng beteng, Siti Karomah (47), datang dari Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Ini merupakan pertama kalinya ia mengikuti kegiatan tersebut.
"Ini pengalaman pertama kali ikut mubeng Beteng malam 1 Sura," ujarnya.
Siti mengatakan dirinya penasaran mengikuti kegiatan berjalan tanpa suara setelah mendapat informasi dari media sosial. Dari informasi tersebut, ia kemudian menelusuri lebih lanjut agar bisa ikut serta dalam kegiatan itu.
"Cari informasi dari Tiktok, kemudian ingin ikut, penasaran. Terus malam ini gabung bersama warga lain," ucapnya.
Mubeng Beteng Keraton Yogyakarta Diikuti Ribuan Orang
Ribuan orang mengikut kegiatan mubeng beteng Keraton Yogyakarta peringatan 1 Sura tahun Be 1960 atau Selasa-Rabu, 16-17 Juni 2026. Kegiatan berlangsung khidmad sejak awal hingga selesai perjalanan tanpa bicara mengelilingi beteng.Ketua Paguyuban Abdi Dalem Keraton Yogyakarta, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Kusumanegara menjelaskan kegiatan sebelum mubeng beteng dilakukan pembacaan macapat di Kagungan Dalem Kamandungan Lor (Keben) Kompleks Keraton Yogyakarta. Prosesi ini dimulai sekitar pukul 20.00 WIB. Saat jam mendekati pukul 00.00 WIB, persiapan mubeng beteng dilakukan.
"Untuk kelancaran acara ini maka prosesi ditutup dengan doa oleh Abdi Dalem Punokawan Keraton. Dari Keraton bertepatan lonceng di Kagungan Dalem Kemandungan Lor atau keben ini berbunyi 12 kali maka utusan dari Keraton atau perwakilan dari Keraton akan melepaskan iring-iringan," kata Kusumanegara.

Ribuan orang saat memulai kegiatan mubeng beteng Kraton Yogyakarta peringatan 1 Sura tahun Be 1960. Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim
Rute perjalanan mubeng beteng tanpa berbicara itu yakni Kagungan Dalem Kamandungan Lor (Keben) – Jalan Rotowijayan – Jalan Kauman – Jalan H. Agus Salim – Jalan KH. Wahid Hasyim – Jalan Suryowijayan – Jalan MT. Haryono – Jalan Mayjend Sutoyo – Jalan Brigjend Katamso – Jalan Ibu Ruswo – Jalan Perkapalan Alun-Alun Utara – Jalan Rotowijayan – kembali ke Kagungan Dalem Kamandungan Lor (Keben).
Paguyuban Abdi Dalem Keraton Yogyakarta, KRT Wijayapamungkas mengungkapkan jarak yang ditempuh dalam proses mubeng beteng itu sekitar 5 kilometer. Ia mengatakan seluruh abdi dalem Keraton Yogyakarta mengikuti kegiatan tersebut.
"Abdi dalem diperkirakan ribuan plus nanti dari masyarakat umum. Kalau tahun lalu itu sekitar 10 ribuan," ujarnya.
Ia mengatakan tahun Be merupakan tahun pertama dalam penanggalan Jawa. Adapun macam penanggalan Jawa yakni Dal, Be, Wawu, Jimawal, Alip, Ehe, dan Jimakir.
Ia mengungkapkan mubeng beteng mengandung makna sebagai pengingat manusia agar intropeksi, mawas diri, sambil berjalan tanpa bicara (meneng) namun bukan berarti pasif. "Tapi meneng dalam sambil berdoa, sambil ngevaluasi apakah yang saya lakukan yang kemarin. Kalau jelek kita kembalikan kepada yang benar. Di samping itu juga memohon kepada Yang Maha Kuasa agar suasana Indonesia pada umumnya khususnya juga Jogja agar tetap ayem-ayem tentrem," ucapnya.
Plt. Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Adat Tradisi Lembaga Budaya dan Seni, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Rully Andriadi mengatakan laku mubeng beteng telah ditetapkan sebagai warisan tak benda Indonesia sejak 2015. Dinas Kebudayaan DIY mendukung dan memfasilitasi kegiatan itu dari tahun ke tahun.
"Kami hadir menjadi bagian karena ini menjadi ketugasan dari Kundha Kabudayan untuk ikut melestarikan nilai-nilai yang memang ada dikaitannya dengan mubeng beteng ini," ungkap dia.