Salah satu bagian dari Museum BI yang menampilkan sejarah rupiah. Foto: Metrotvnews.com/Wijokongko.
Dari Alat Perlawanan hingga Simbol Bangsa, Ini Sejarah Rupiah
Ade Hapsari Lestarini • 30 October 2026 06:02
Jakarta: Rupiah yang digunakan masyarakat Indonesia saat ini bukan lagi sekadar alat pembayaran. Di balik desain, gambar, dan fitur pengamanannya, tersimpan perjalanan panjang bangsa dalam memperjuangkan kedaulatan ekonomi, sejak awal kemerdekaan hingga era modern.
Sejarah rupiah tidak bisa dilepaskan dari situasi Indonesia setelah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Saat itu, masyarakat masih menggunakan beragam mata uang, mulai dari uang peninggalan pemerintah kolonial Belanda hingga uang yang diterbitkan pada masa pendudukan Jepang. Peredaran uang NICA yang dibawa Belanda setelah kembali ke Indonesia turut menambah kompleksitas situasi moneter saat itu.
Kondisi tersebut membuat transaksi masyarakat menghadapi ketidakpastian. Di tengah situasi politik dan ekonomi yang belum stabil, pemerintah Indonesia membutuhkan mata uang sendiri untuk menegaskan kedaulatan negara.
Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Sani Eka Duta, saat wawancara khusus bersama Metrotvnews.com menjelaskan, penerbitan uang nasional menjadi bagian penting dari upaya Indonesia menunjukkan kemandirian setelah merdeka.
"Sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat, tentu para pendiri bangsa ingin menunjukkan ekonomi Indonesia juga berdaulat. Untuk menunjukkan kedaulatan ekonomi, kita harus punya mata uang sendiri," ujar dia, kepada Metrotvnews.com.
Pada 30 Oktober 1946, pemerintah menerbitkan Oeang Republik Indonesia (ORI). Penerbitan uang tersebut menjadi tonggak penting dalam sejarah moneter Indonesia sekaligus dasar peringatan Hari Oeang yang diperingati setiap 30 Oktober.

Direktur Departemen Komunikasi BI Sani Eka Duta (kanan) saat wawancara khusus bersama Metrotvnews.com. Foto: Metrotvnews.com/Wijokongko.
ORI, uang yang menjadi simbol perlawanan
Pada masa awal kemerdekaan, ORI memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar alat transaksi. Uang tersebut menjadi simbol eksistensi Republik Indonesia di tengah upaya Belanda untuk kembali menguasai wilayah Indonesia.
Perjuangan mempertahankan ORI juga berlangsung dalam situasi yang tidak mudah. Proses pencetakan dan peredaran uang menghadapi berbagai hambatan, termasuk ancaman dari pihak Belanda. Lokasi pencetakan pun harus berpindah-pindah untuk menghindari gangguan.
Masyarakat yang menggunakan ORI juga menghadapi risiko karena peredaran uang tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan keberadaan Republik Indonesia.
"Selain kita perang secara gerilya, kita juga perang secara ekonomi pada waktu itu. Jadi, untuk menunjukkan kedaulatan Negara Indonesia, gerilyawan kita juga menggunakan uang Republik Indonesia untuk bertransaksi dengan masyarakat," kata Sani.
Perjuangan mempertahankan mata uang nasional berlanjut ketika situasi politik dan militer semakin kompleks. Setelah sejumlah pemimpin Republik ditangkap dan diasingkan, serta wilayah kekuasaan pemerintah Republik semakin terbatas, kebutuhan transaksi di berbagai daerah tetap harus dipenuhi.
Dalam kondisi tersebut, muncul Oeang Republik Indonesia Daerah (ORIDA), yakni uang yang diterbitkan oleh pemerintah daerah atau otoritas setempat berdasarkan ketentuan yang berlaku pada masa itu.
Penerbitan uang daerah menjadi salah satu upaya menjaga keberlangsungan transaksi masyarakat di tengah keterbatasan distribusi uang dari pemerintah pusat.
Kehadiran ORI dan ORIDA memperlihatkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya dilakukan melalui perlawanan bersenjata, tetapi juga lewat upaya menjaga aktivitas ekonomi masyarakat.

Salah satu bagian dari Museum BI yang menampilkan sejarah rupiah. Foto: Metrotvnews.com/Wijokongko.
Desain rupiah merekam perjalanan bangsa
Seiring dengan perkembangan Indonesia, uang mengalami perubahan dari sisi desain, bahan, dan teknologi. Perubahan tersebut tidak hanya bertujuan memperbarui tampilan, tetapi juga mencerminkan perjalanan bangsa serta identitas yang ingin ditampilkan kepada masyarakat.
Pada masa awal kemerdekaan, desain uang banyak menampilkan tokoh perjuangan, termasuk Soekarno. Penggunaan figur tersebut berkaitan dengan semangat perjuangan dan upaya menegaskan identitas Republik Indonesia.
Pada uang yang diterbitkan pemerintah daerah, desainnya juga dapat menampilkan unsur yang dekat dengan kehidupan masyarakat setempat, seperti pertanian dan simbol pembangunan daerah.
Setelah Indonesia semakin mantap sebagai negara berdaulat, desain uang berkembang dengan menampilkan beragam identitas nasional. Pahlawan nasional, hingga seni budaya menjadi bagian dari visual yang menghiasi uang rupiah.
Menurut Sani, keberagaman gambar tersebut menggambarkan unsur-unsur yang membentuk Indonesia sebagai sebuah bangsa.
Tarian tradisional, misalnya, merepresentasikan kekayaan budaya dari berbagai wilayah. Sementara itu, gambar pahlawan nasional menjadi pengingat atas perjuangan tokoh-tokoh yang berkontribusi terhadap perjalanan Indonesia.
Dengan demikian, desain rupiah tidak hanya berfungsi sebagai identitas nominal uang, tetapi juga menjadi media untuk memperkenalkan sejarah, budaya, dan keberagaman Indonesia kepada masyarakat.
Dari bahan sederhana ke teknologi pengamanan
Selain desain, perkembangan uang rupiah juga terlihat dari bahan dan teknologi yang digunakan. Pada masa awal kemerdekaan, keterbatasan sarana dan bahan baku membuat proses penerbitan uang menghadapi tantangan besar.
Sejumlah uang darurat yang diterbitkan di daerah menggunakan bahan sederhana, dengan fitur pengamanan yang masih terbatas dibandingkan uang modern. Kondisi tersebut mencerminkan situasi Indonesia saat itu, ketika kebutuhan uang untuk transaksi harus dipenuhi di tengah keterbatasan fasilitas produksi.
Perkembangan teknologi kemudian memungkinkan penggunaan bahan uang dan metode pencetakan yang semakin baik. Indonesia juga pernah menggunakan uang berbahan polimer sebelum terus mengembangkan pilihan bahan dan teknologi pengamanan lainnya.
Saat ini, uang rupiah dilengkapi beragam fitur pengamanan untuk membantu masyarakat mengenali keaslian uang sekaligus menyulitkan upaya pemalsuan.
Penguatan fitur pengamanan tersebut menjadi penting karena pemalsuan uang telah terjadi sejak masa lalu. Sanit mencontohkan, pada masa kolonial pernah ditemukan uang dengan nominal yang tidak diterbitkan oleh otoritas penerbitnya.
Kasus semacam itu menunjukkan pemalsuan bukan persoalan baru. Seiring perkembangan zaman, metode pemalsuan juga dapat berubah sehingga pengamanan uang perlu terus disesuaikan.
Karena itu, pembaruan rupiah tidak hanya berkaitan dengan tampilan visual, tetapi juga dengan upaya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap mata uang nasional.

Diorama Rapat Dewan Gubernur BI saat masa kolonial Belanda. Foto: Metrotvnews.com/Wijokongko.
Rupiah tak sekadar alat pembayaran
Perjalanan rupiah dari masa awal kemerdekaan hingga saat ini memperlihatkan hubungan erat antara uang, sejarah, dan kedaulatan ekonomi. Penerbitan ORI pada 1946 menandai langkah penting Indonesia dalam membangun sistem moneter sendiri, sedangkan perkembangan desain dan fitur pengamanan mencerminkan penyesuaian terhadap kebutuhan zaman.
Di tengah perubahan teknologi pembayaran, termasuk semakin luasnya transaksi digital, uang rupiah tetap memiliki peran penting sebagai mata uang nasional. Perkembangan cara masyarakat bertransaksi tidak menghapus nilai historis yang melekat pada setiap fase perjalanan rupiah.
Memahami sejarah rupiah menjadi salah satu cara untuk melihat mata uang nasional tidak hadir begitu saja. Ada perjuangan, keterbatasan, dan proses panjang yang menyertainya hingga rupiah menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia saat ini.