Ilustrasi Nyamuk Demam Berdarah. Foto: Dok. Freepik
Kasus DBD Meningkat di Jaksel, Kenali Gejala dan Cara Mencegahnya
Angel Rinella • 15 October 2026 20:55
Jakarta: Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jakarta Selatan mencapai 1.314 kasus hingga September 2026. Jumlah tersebut menjadi perhatian masyarakat, terutama di tengah kondisi iklim dan cuaca yang memengaruhi pola penyebaran penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk.
Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyebut kenaikan kasus DBD masih mengikuti pola musiman. Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi tempat perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti.
Selain melakukan pencegahan, masyarakat perlu mengenali gejala DBD sejak dini agar dapat segera memperoleh penanganan medis. Gejala yang muncul dapat berupa demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, hingga ruam atau bintik merah pada kulit.
Penanganan yang tepat juga penting untuk mencegah komplikasi, terutama ketika penderita memasuki fase kritis saat demam mulai turun. Berikut gejala DBD yang perlu diwaspadai, cara penanganan, serta langkah pencegahan yang dapat dilakukan.

Nyamuk DBD. Foto: Dok. Medcom
Gejala DBD yang Perlu Diwaspadai
Dilansir dari Kementerian Kesehatan RI, gejala DBD umumnya muncul sekitar 4-10 hari setelah seseorang terinfeksi virus dengue. Gejala yang dapat dialami antara lain sebagai berikut:
- Demam tinggi hingga 40 derajat Celsius
- Sakit kepala
- Nyeri otot dan sendi
- Nyeri di bagian belakang mata
- Ruam atau bintik merah pada kulit
Demam yang mulai turun tidak selalu menandakan kondisi penderita membaik. Pada sebagian kasus, DBD dapat memasuki fase kritis ketika pembuluh darah mengalami kebocoran dan jumlah trombosit menurun. Kondisi ini berisiko menyebabkan perdarahan, kerusakan organ, hingga syok dengue.
Masyarakat juga perlu mewaspadai tanda bahaya seperti muntah terus-menerus, mimisan, gusi berdarah, darah dalam tinja atau urine, muntah darah, sesak napas, tubuh sangat lemas, dan gelisah. Jika tanda tersebut muncul, segera bawa penderita ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Ilustrasi Nyamuk. Foto: Dok. Pexels
Cara Menangani DBD
Penanganan DBD perlu disesuaikan dengan kondisi penderita. Belum ada obat khusus yang dapat membunuh virus dengue, sehingga perawatan berfokus pada pemantauan kondisi tubuh dan pencegahan komplikasi.
Berikut beberapa cara penanganan bagi penderita DBD:
- Segera periksa ke fasilitas kesehatan
Jika mengalami demam tinggi yang mengarah pada DBD, segera periksakan diri ke dokter. Pemeriksaan diperlukan untuk menilai kondisi penderita dan menentukan penanganan yang sesuai. - Cukupi kebutuhan cairan
Penderita perlu menjaga asupan cairan untuk mencegah dehidrasi. Air putih atau cairan lain yang dianjurkan tenaga kesehatan dapat membantu memenuhi kebutuhan tubuh. Jika penderita kesulitan minum atau terus muntah, segera cari pertolongan medis. - Istirahat yang cukup
Kurangi aktivitas berat dan perbanyak istirahat selama masa pemulihan. Pantau suhu tubuh, asupan cairan, frekuensi buang air kecil, serta perubahan kondisi secara berkala. - Gunakan obat sesuai anjuran tenaga kesehatan
Penderita DBD dilarang mengonsumsi obat sembarangan. Salah satu obat yang disarankan adalah paracetamol. Parasetamol dapat digunakan untuk membantu meredakan demam jika dikonsumsi sesuai dosis yang dianjurkan. Penderita juga diimbau untuk menghindari aspirin dan ibuprofen karena dapat meningkatkan risiko perdarahan pada penderita DBD. - Waspadai fase kritis
Fase kritis dapat terjadi ketika demam mulai turun, terutama sekitar hari ketiga hingga ketujuh sejak gejala muncul. Karena itu, jangan menganggap demam yang mereda sebagai tanda pasti kesembuhan. Ikuti jadwal pemeriksaan dan segera cari pertolongan jika muncul tanda bahaya.
Cara Mencegah DBD dengan 3M Plus
Pencegahan DBD dapat dilakukan dengan mengurangi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Salah satu langkah yang dianjurkan Kementerian Kesehatan RI adalah menerapkan 3M Plus secara rutin.
- Menguras
Bersihkan dan kuras tempat penampungan air, seperti bak mandi, toren, dan wadah lainnya. Gosok bagian dinding penampungan untuk membantu menghilangkan telur dan jentik nyamuk. - Menutup
Tutup rapat tempat penampungan air agar nyamuk tidak dapat masuk dan berkembang biak. Periksa juga wadah lain yang berpotensi menampung air hujan. - Mendaur ulang
Manfaatkan kembali barang bekas yang masih bisa digunakan. Singkirkan atau kelola barang yang berpotensi menampung air agar tidak menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.
Selain 3M, masyarakat dapat melakukan langkah tambahan berikut:
- Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, seperti ikan guppy
- Memasang kawat kasa pada ventilasi dan jendela
- Membersihkan lingkungan secara rutin bersama warga
- Memeriksa tempat penampungan air secara berkala
- Menyimpan pakaian bekas pakai dalam wadah tertutup
- Menggunakan larvasida sesuai petunjuk pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan
- Memperbaiki saluran dan talang air yang tersumbat
- Mengurangi tempat yang dapat menampung air di sekitar rumah
Cara Melindungi Diri dari Gigitan Nyamuk
Selain menjaga lingkungan, masyarakat perlu melindungi diri dari gigitan nyamuk melalui beberapa kebiasaan berikut.
- Memasang kelambu saat tidur untuk mengurangi risiko gigitan nyamuk
- Menggunakan losion antinyamuk yang terdaftar atau memiliki izin edar dari BPOM sesuai petunjuk penggunaan
- Memakai pakaian berlengan panjang dan celana panjang, terutama ketika berada di area yang banyak nyamuk
- Memasang kasa pada jendela dan ventilasi serta menjaga kebersihan ruangan
- Menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara teratur, dan mencukupi waktu istirahat
(Siti Nahdia Usman)