Ilustrasi emas batangan. Foto: goldmarket.fr
Harga Emas Dunia Naik Hampir 2% hingga Tembus USD4.080
Husen Miftahudin • 22 July 2026 08:29
Chicago: Harga emas dunia ditutup menguat hampir dua persen pada perdagangan Selasa waktu setempat setelah berulang kali menguji level psikologis USD4.000 per ons sejak pertengahan Juli. Kenaikan logam mulia terjadi di tengah penguatan dolar AS dan lonjakan harga minyak akibat meningkatnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Mengutip Investing.com, Rabu, 22 Juli 2026, harga emas spot naik 1,8 persen menjadi USD4.081,07 per troy ons. Sedangkan kontrak berjangka emas menguat 1,7 persen menjadi USD4.085,37 per troy ons.
Sentimen pasar dipengaruhi meningkatnya konflik di Timur Tengah. AS telah melanjutkan serangan terhadap Iran hingga hari kesepuluh berturut-turut. Sebagai balasan, Iran menyerang sebuah kapal tanker di Selat Hormuz dan menargetkan pangkalan militer AS di kawasan tersebut.
"Iran telah diberi setiap kesempatan untuk bernegosiasi, untuk menunjukkan mereka bersikap masuk akal di Selat Hormuz. Namun, jika mereka menembaki kapal-kapal komersial, kami akan menyerang mereka sepuluh kali lebih keras. Setiap malam, kami semakin mempermalukan mereka," kata Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth.
Pada kesempatan yang sama, Presiden AS Donald Trump mengatakan Iran ingin melakukan pertemuan. Namun, Pemerintah AS belum tertarik membuka pembicaraan hingga Iran dinilai siap melakukan negosiasi secara bermakna.
Trump juga kembali menegaskan Iran tidak akan diizinkan memiliki senjata nuklir dan memperingatkan akan menyerang setiap lokasi yang diduga terkait program nuklir negara tersebut.
Selain itu, deklarasi embargo maritim terhadap Arab Saudi oleh kelompok Houthi yang didukung Iran menambah kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak melalui Laut Merah.
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Lonjakan harga minyak meningkatkan kekhawatiran inflasi
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, harga minyak mentah turut menguat. Harga minyak mentah Brent naik sekitar 2,3 persen menjadi USD91,24 per barel, sehingga kembali memicu kekhawatiran inflasi global.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar logam mulia mencermati arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Meskipun data ekonomi AS sebelumnya menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda pada Juni, kenaikan harga energi dinilai berpotensi mengubah ekspektasi pasar terhadap suku bunga.
Sementara itu, berdasarkan CME FedWatch Tool, mayoritas pelaku pasar masih memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan akhir Juli. Namun, peluang tersebut turun menjadi sekitar 76 persen, dibandingkan sekitar 84 persen sehari sebelumnya. Adapun, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September mencapai hampir 55 persen.
Lingkungan suku bunga yang tinggi umumnya menjadi tantangan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Selain itu, suku bunga yang tinggi cenderung memperkuat dolar AS sehingga harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Selain emas, logam mulia lainnya juga mencatat kenaikan. Harga perak spot naik 4,3 persen menjadi USD58,8375 per troy ons. Sedangkan platinum menguat 1,6 persen menjadi USD1.628,90 per troy ons.