Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde. Foto: dok Xinhua.
Perang Timur Tengah Picu Ketidakpastian, ECB Pilih Tahan Suku Bunga
Ade Hapsari Lestarini • 20 March 2026 16:37
Frankfurt: Bank Sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga utama tidak berubah. Penetapan ini karena meningkatnya ketegangan geopolitik membebani prospek inflasi dan ekonomi di zona euro.
Melansir Xinhua, Jumat, 20 Maret 2026, suku bunga fasilitas deposito, yang digunakan bank sentral untuk mengarahkan kebijakan moneternya, tetap tidak berubah di angka dua persen.
"Perang di Timur Tengah telah membuat prospek jauh lebih tidak pasti, menciptakan risiko kenaikan inflasi dan risiko penurunan pertumbuhan ekonomi," kata ECB dalam siaran pers.
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Hal ini mengganggu pengiriman global, menyebabkan harga minyak melonjak dan mengguncang ekonomi global.
Harga gas dan minyak Eropa naik tajam pada perdagangan awal Kamis. Patokan TTF Belanda, acuan utama untuk kontrak pasokan gas Eropa, melonjak lebih dari 30 persen menjadi 70,7 euro (USD81,3) per megawatt-jam pada pembukaan, sebelum turun menjadi sekitar 67 euro (USD77) per megawatt-jam. Harga tersebut telah meningkat lebih dari dua kali lipat dari sekitar 32 euro (USD37) per megawatt-jam sebelum konflik dimulai.
Harga minyak juga naik. Minyak mentah Brent, patokan internasional, naik hingga di atas USD116 per barel pada perdagangan awal.

Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde. Foto: dok Xinhua.
Baca Juga :
Bank Sentral Jepang Tahan Suku Bunga di 0,75%
Inflasi zona Euro diproyeksikan rata-rata 2,6%
Menurut proyeksi terbaru yang diterbitkan oleh ECB, ekspektasi inflasi telah direvisi naik dan ekspektasi pertumbuhan ekonomi telah diturunkan terutama untuk 2026, mencerminkan dampak global perang terhadap pasar komoditas, pendapatan riil, dan kepercayaan.
"Inflasi zona euro diproyeksikan rata-rata 2,6 persen pada 2026, sementara pertumbuhan ekonomi untuk tahun ini diperkirakan mencapai 0,9 persen," kata ECB.
Menurut ECB, kenaikan harga bahkan dapat diperkuat jika kenaikan harga energi meluas ke inflasi non-energi dalam skala yang lebih besar dari yang diperkirakan atau perang mengganggu rantai pasokan global secara lebih luas.
ECB menegaskan mereka berada dalam posisi yang baik untuk mengatasi ketidakpastian ini, dengan mengutip ekspektasi inflasi jangka panjang yang terkendali dan ekonomi yang tangguh.
Kepala makro global di ING Research, Carsten Brzeski, berkomentar dalam sebuah catatan, perang di Timur Tengah telah mengubah segalanya dan kenaikan suku bunga. Alih-alih penurunan suku bunga, mungkin akan kembali dipertimbangkan karenaperang di Timur Tengah dan melonjaknya harga minyak jelas telah membuat ECB siaga tinggi.