Kegiatan ruwahan menyambut ramadan di Kampung Gendeng Kelurahan Baciro, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Dokumentasi/Pemkot Yogyakarta
Warga Yogyakarta Sambut Ramadan Lewat Tradisi Grebeg
Ahmad Mustaqim • 16 February 2026 17:54
Yogyakarta: Masyarakat Kampung Gendeng Kelurahan Baciro, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta menggelar ruwahan menyambut Ramadan 2026. Selain ziarah ke pemakaman, warga juga menyelenggarakan grebeg sebagai bagian dari rangkaian kegiatan tersebut.
Ketua Panitia, Fajar Ristanto mengatakan ada dua gunungan diarak keliling kampung saat grebeg. Dua gunungan itu yakni Gunungan Lanang dan Gunungan Wedhok yang berisi apem serta ketan kolak, sesuai dengan tradisi ruwahan.
"Dua gunungan ini nanti diperebutkan masyarakat. Karena ini momentum Ruwah, maka kita fokus pada makna syukur dan doa," kata Fajar di Yogyakarta, Senin, 16 Februari 2026.
Peserta grebeg tidak hanya berasal dari kalangan orang dewasa, tetapi juga melibatkan anak-anak, remaja, hingga warga lanjut usia. Dalam pawai tersebut, mereka mengenakan busana tradisional, membawa hasil bumi, serta menampilkan beragam kreasi seni dan budaya.
Grebeg turut dimeriahkan dengan alunan musik tradisional, berbagai atraksi kesenian, serta kostum tematik. Sementara itu, rangkaian kegiatan seperti doa bersama, kembul bujono (makan bersama), dan ziarah leluhur telah dilaksanakan sebelum grebeg berlangsung.
Fajar juga mengisahkan sejarah singkat Kampung Gendeng yang dahulu merupakan wilayah kecil dengan kolam-kolam ikan dan tegalan. Nama-nama gang seperti lele, mujair, hingga tawes menjadi jejak sejarah tersebut.
"Kampung Gendeng ini dulu termasuk kampung yang sangat kecil karena mulai tahun 40-an baru ditinggali. Awal mulanya di sini ada kolam-kolam ikan. Makanya banyak nama gang Lele, Mujair, Tawes, dan lain sebagainya," ujarnya.

Kegiatan ruwahan menyambut ramadan di Kampung Gendeng Kelurahan Baciro, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Dokumentasi/Pemkot Yogyakarta
Kawasan tersebut juga merupakan tegalan atau tanah kering yang ditanami ketela, sukun, dan tanaman kebun lainnya secara konvensional. Kini, Kampung Gendeng telah berkembang dengan 35 RT, 7 RW, dan sekitar lebih dari 1.900 kepala keluarga (KK).
"Harapannya (kegiatan grebeg) semua pihak dapat ambil bagian karena ini nguri-uri kabudayan yang tidak boleh kita tinggalkan dan harus tetap kita lestarikan," katanya.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo berterima kasih atas konsistensi masyarakat Kampung Gendeng menjaga tradisi selama lebih dari satu dekade. Menurutnya, tradisi ruwahan mengandung makna bersih lahir dan batin, yang juga tercermin dalam kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.
"Tradisi ruwahan niki simbah-simbah riyen mestani bersih-bersih. Bersih niku artine resik. Saya berharap di Kota Yogyakarta jangan ada rumput liar, jangan ada sampah liar. Semua kita bersihkan," ucapnya.