Berbalik Melemah, Reli 6 Hari Dolar AS Terhenti

Dolar AS. Foto: dok MI.

Berbalik Melemah, Reli 6 Hari Dolar AS Terhenti

Husen Miftahudin • 18 September 2026 08:35

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) menghentikan penguatan selama enam sesi perdagangan berturut-turut pada perdagangan Kamis waktu setempat. Pergerakan tersebut terjadi sehari setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga sesuai ekspektasi pasar.
 
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke kebijakan bank sentral lainnya, termasuk Bank of England (BoE) yang mempertahankan suku bunga acuan. Pasar valuta asing juga mencermati prospek kebijakan Bank of Japan (BoJ).
 
Mengutip Xinhua, Jumat, 18 September 2026, indeks dolar yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama ditutup di level 100,248.
 
Di penutupan New York, euro menguat menjadi USD1,1475 dari USD1,147 pada sesi sebelumnya. Sebaliknya, poundsterling melemah menjadi USD1,3353 dari USD1,3382.
 
Dolar AS menguat terhadap yen menjadi 156,04 yen dari 155,92 yen. Terhadap franc Swiss, dolar melemah menjadi 0,8248 franc dari 0,825 franc.
 
Sementara terhadap dolar Kanada, dolar AS turun menjadi 1,3992 dari 1,3994. Adapun terhadap krona Swedia, dolar AS melemah menjadi 9,8256 dari 9,8598.
 



(Dolar AS. Foto: Freepik)
 

The Fed kerek suku bunga

 
Kebijakan The Fed menjadi salah satu perhatian utama pasar valuta asing. Bank sentral AS menaikkan target suku bunga dana federal sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 persen sampai 4,00 persen dari sebelumnya 3,50 persen hingga 3,75 persen. Keputusan tersebut disetujui secara bulat oleh 12 anggota FOMC.
 
Kenaikan tersebut menjadi yang pertama sejak 2023. The Fed menyatakan inflasi masih berada pada level tinggi dan kebijakan tersebut diarahkan untuk mendukung kembalinya inflasi menuju target 2 persen.
 
Dolar AS sebelumnya telah menguat hampir 1,5 persen dalam enam sesi perdagangan seiring meningkatnya ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed.
 
Pasar juga mencermati Ringkasan Proyeksi Ekonomi serta pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh setelah keputusan tersebut. Proyeksi terbaru menunjukkan sejumlah pejabat bank sentral masih melihat ruang untuk kenaikan suku bunga lanjutan pada tahun ini.
 
"Faktanya, inflasi terlalu tinggi dan sudah berlangsung terlalu lama," kata Warsh kepada wartawan. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober berada di kisaran 55 persen.

(Husen Miftahudin)