Dolar AS. Foto: dok MI.
Dolar AS Makin Perkasa setelah Fed Kerek Suku Bunga
Husen Miftahudin • 17 September 2026 08:40
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat pada perdagangan Rabu waktu setempat dan mencatat penguatan selama enam hari berturut-turut. Penguatan terjadi setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak Juli 2023.
Di sisi lain, poundsterling melemah setelah data pemerintah Inggris menunjukkan inflasi konsumen mengalami percepatan pada Agustus 2026. Mengutip Investing.com, Kamis, 17 September 2026, indeks dolar AS yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama naik 0,4 persen menjadi 99,89.
Pergerakan nilai tukar dolar AS itu dipengaruhi oleh keputusan FOMC yang menaikkan suku bunga dana federal sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 persen sampai 4,00 persen dari sebelumnya 3,50 persen hingga 3,75 persen. Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar sekaligus menjadi kenaikan suku bunga pertama The Fed sejak Juli 2023.
Proyeksi suku bunga terbaru bank sentral AS juga menunjukkan masih terdapat kemungkinan satu kali kenaikan suku bunga pada tahun ini. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung meningkatkan daya tarik aset dalam denominasi dolar AS sehingga dapat memberikan dukungan terhadap mata uang tersebut.
Sebelum keputusan The Fed, ekspektasi kenaikan suku bunga meningkat seiring data ekonomi AS menunjukkan pertumbuhan yang tangguh, pasar tenaga kerja yang kuat, serta inflasi yang masih tinggi.
Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), salah satu indikator inflasi yang menjadi perhatian The Fed, tercatat naik 3,7 persen secara tahunan. Angka tersebut masih berada di atas target inflasi jangka panjang The Fed sebesar 2 persen. PCE juga tercatat berada di atas level 2 persen selama 65 bulan berturut-turut.
Pasar obligasi dorong ekspektasi kenaikan
Selain data ekonomi dan kenaikan harga minyak di tengah konflik Timur Tengah, pasar obligasi AS turut menjadi perhatian utama dalam meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga.
Obligasi, terutama surat utang berjangka panjang, mengalami tekanan jual sejak pertemuan The Fed pada Juli. Kondisi tersebut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS ke level tertinggi dalam beberapa tahun.
Tekanan di pasar obligasi mulai meningkat setelah tiga presiden Federal Reserve regional tidak sependapat dengan keputusan FOMC pada Juli untuk mempertahankan suku bunga. Mereka justru menyerukan kenaikan suku bunga.
Tekanan tersebut berlanjut pada Agustus seiring kenaikan harga minyak, kekhawatiran terhadap besarnya investasi infrastruktur kecerdasan buatan (AI), serta meningkatnya utang fiskal AS.
Pada Selasa, 15 September 2026, imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak April 2007. Sementara itu, imbal hasil Treasury 30 tahun mencapai level tertinggi dalam lebih dari 24 tahun.

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Pasar tunggu arah kebijakan The Fed
Pelaku pasar mata uang kini mencermati apakah kenaikan suku bunga The Fed akan menjadi kebijakan satu kali atau menjadi awal dari siklus pengetatan moneter lebih lanjut.
Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin masih dapat terjadi pada tahun ini. Ringkasan Proyeksi Ekonomi terbaru The Fed menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pasar untuk melihat arah kebijakan moneter berikutnya.
Perhatian juga tertuju pada konferensi pers Ketua The Fed Kevin Warsh setelah keputusan suku bunga. Pasar mencermati kemungkinan Warsh memberikan petunjuk mengenai arah suku bunga berikutnya atau tetap menghindari panduan ke depan.
Warsh sebelumnya menyampaikan pandangan yang cukup tegas mengenai inflasi dalam pidatonya di konferensi Jackson Hole pada Agustus.
Selain tekanan pasar, The Fed juga menghadapi tekanan politik untuk menurunkan suku bunga, termasuk dari Presiden Donald Trump.