Ilustrasi. Foto: Freepik.
Inflasi AS Juni Turun 0,4%, Catat Penurunan Bulanan Terbesar Sejak 2020
Eko Nordiansyah • 15 July 2026 08:45
Washington: Inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) melambat pada Juni 2026 dibandingkan bulan sebelumnya. Perlambatan tersebut terutama didorong oleh penurunan harga bensin yang menekan laju kenaikan harga secara keseluruhan.
Dikutip dari Investing, Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) utama turun 0,4 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Angka tersebut menjadi penurunan bulanan terbesar sejak April 2020.
Sementara itu, CPI inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi tercatat stagnan setelah pada Mei naik 0,2 persen (mtm).
Secara tahunan, CPI utama naik 3,5 persen pada Juni, sedangkan CPI inti meningkat 2,6 persen. Keduanya lebih rendah dari perkiraan masing-masing sebesar 3,8 persen dan 2,9 persen serta melambat dibandingkan bulan sebelumnya.
Penurunan inflasi terutama dipicu oleh harga bensin yang turun 9,7 persen (mtm), menjadi penurunan bulanan terbesar sejak Agustus 2022. Kondisi tersebut turut mendorong harga energi secara keseluruhan turun 5,7 persen (mtm), penurunan terdalam sejak April 2020.
Penurunan harga bensin dipengaruhi meredanya kekhawatiran pasokan minyak global setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) sementara antara AS dan Iran pada pertengahan Juni yang membuka kembali Selat Hormuz. Meningkatnya aktivitas pelayaran di jalur tersebut mendorong harga minyak mentah Brent turun lebih dari 20 persen sepanjang bulan lalu.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok NDTV)
Risiko geopolitik kembali membayangi
Meski demikian, tekanan inflasi berpotensi meningkat kembali seiring memburuknya hubungan antara Washington dan Teheran.Ketegangan kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan menyusul laporan mengenai insiden terhadap kapal tanker minyak komersial di sekitar Selat Hormuz. Presiden Donald Trump juga kembali memberlakukan blokade terhadap aktivitas pelayaran yang berkaitan dengan Iran, sehingga mendorong harga minyak Brent melonjak lebih dari sembilan persen dalam satu hari perdagangan.
"Data CPI yang lebih lemah dari perkiraan menunjukkan lonjakan inflasi akibat perang Iran mulai mereda. Namun, kondisi ini kemungkinan hanya bersifat sementara karena ketegangan kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir," kata Chief Investment Officer Regan Capital, Skyler Weinand.
Menurutnya, perkembangan geopolitik tetap menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi prospek inflasi dalam beberapa bulan ke depan.
Sinyal kebijakan The Fed
Laporan inflasi Juni juga menjadi perhatian pasar karena muncul di tengah arah kebijakan moneter Federal Reserve.Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menegaskan bank sentral akan tetap memprioritaskan stabilitas harga dalam menjalankan kebijakan moneternya.
"Tujuan utama The Fed adalah menerapkan kebijakan moneter dengan tepat. Jika kami berhasil melakukannya, lonjakan inflasi dalam lima tahun terakhir akan menjadi masa lalu," ujar Warsh dalam naskah pidato yang disiapkan untuk kesaksian di Kongres.
Meski CPI menjadi salah satu indikator penting, Federal Reserve lebih menjadikan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE), khususnya PCE inti, sebagai acuan utama untuk mencapai target inflasi jangka panjang sebesar dua persen.
Kepala Strategi Pasar Global TradeStation David Russell menilai data inflasi Juni memberikan sinyal positif bagi Federal Reserve. Namun, ia mengingatkan tren tersebut dapat berubah apabila harga energi kembali meningkat akibat konflik di Timur Tengah.
"Penurunan harga energi, mobil, perumahan, dan pakaian merupakan kabar baik. Namun, disinflasi akan semakin sulit dipertahankan jika harga minyak kembali naik," ujar Russell.
Ia menambahkan, pernyataan Warsh juga mengindikasikan Federal Reserve masih membuka peluang mempertahankan kebijakan moneter yang ketat apabila tekanan inflasi kembali meningkat.