Krakatau dan Perjalanan Energi Dunia

Aktivitas Gunung Anak Krakatau saat erupsi. Foto: dok Kementerian ESDM.

Krakatau dan Perjalanan Energi Dunia

Ade Hapsari Lestarini • 7 September 2026 08:14

Jakarta: Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian ESDM, mencatat gempa erupsi menerus sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB.

Gempa erupsi menerus tersebut mulai berhenti pada Minggu, 6 September 2026. Meski demikian, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau siaga.

Dampak aktivitas vulkanik juga meluas ke sejumlah wilayah. Sebaran abu vulkanik membuat aktivitas 1.558 penerbangan di delapan bandara terdampak. Badan Geologi Kementerian ESDM juga mencatat abu vulkanik menyebar ke lima provinsi, yakni Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, dan Bengkulu.

Masyarakat di wilayah terdampak diminta mewaspadai potensi dampak dari sebaran abu vulkanik.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga mengingatkan kembali pada sejarah Krakatau pada 1883. Letusan besar tersebut menjadi salah satu peristiwa geologi yang menunjukkan bagaimana fenomena alam dapat berdampak luas terhadap kehidupan, transportasi, aktivitas ekonomi, hingga kondisi atmosfer global.

Dalam konteks energi, perjalanan sejarah tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan energi selalu berkembang mengikuti perubahan teknologi, kondisi lingkungan, dan kebutuhan masyarakat. Dari dominasi batu bara pada era Revolusi Industri hingga berkembangnya minyak bumi, gas alam, LNG, dan energi terbarukan, sistem energi terus mengalami perubahan.

Melansir laman media sosial Pertagas @pertaminagas, Senin, 7 September 2026, perusahaan menyebut infrastruktur energi perlu terus beradaptasi dengan perubahan kebutuhan untuk menjaga keandalan penyaluran energi sekaligus mendukung penggunaan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
 

 

Energi dan letusan Krakatau 1883


Pada 27 Agustus 1883, Krakatau mengalami salah satu letusan terbesar dalam sejarah modern. Letusan tersebut menghasilkan energi yang sangat besar dan menimbulkan dampak yang terasa hingga berbagai wilayah di dunia.

Material vulkanik yang terlontar ke atmosfer juga memengaruhi kondisi atmosfer global. Partikel vulkanik menyebar ke berbagai wilayah dan dikaitkan dengan perubahan warna langit serta penurunan suhu global dalam periode setelah letusan.


Gunung Anak Krakatau pada 2018. Foto: dok Kementerian ESDM.


Pada periode 1880-1900, dunia tengah memasuki Revolusi Industri Kedua. Batu bara masih menjadi sumber energi utama untuk menggerakkan mesin, industri, pembangkit listrik, serta transportasi.

Perkembangan industri pada masa tersebut kemudian diikuti oleh inovasi teknologi energi. Mesin uap semakin berkembang, penggunaan listrik mulai meluas secara komersial, sementara minyak bumi mulai memainkan peran yang semakin penting sebagai sumber energi.

Perubahan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh satu peristiwa alam seperti letusan Krakatau. Namun, berbagai gangguan alam, perkembangan teknologi, pertumbuhan industri, dan kebutuhan transportasi secara bersama-sama membentuk evolusi sistem energi dunia.
   

Jejak transisi energi dunia


Perjalanan energi dunia menunjukkan bahwa perubahan sumber energi berjalan beriringan dengan perkembangan teknologi dan infrastruktur.

Pada era awal industrialisasi, batu bara menjadi tulang punggung industri dan transportasi. Perkembangan minyak bumi kemudian mengubah sistem transportasi dan industri, sementara gas bumi berkembang sebagai salah satu sumber energi penting dalam sistem kelistrikan dan industri.

Perubahan tersebut juga mendorong perkembangan infrastruktur penyaluran energi, mulai dari jaringan rel untuk mengangkut batu bara, jaringan pipa untuk minyak dan gas, hingga infrastruktur LNG yang memungkinkan energi diperdagangkan lintas wilayah.

Kini, sistem energi kembali memasuki fase perubahan melalui transisi menuju energi yang lebih rendah emisi. Pengembangan energi surya, angin, panas bumi, hidro, baterai, hingga hidrogen menjadi bagian dari upaya menjawab kebutuhan energi sekaligus tantangan perubahan iklim.

Di tengah perubahan tersebut, ketahanan infrastruktur menjadi semakin penting. Gangguan akibat bencana alam, perubahan iklim, maupun faktor geopolitik dapat memengaruhi rantai pasok dan distribusi energi.

Karena itu, perjalanan energi tidak hanya berbicara mengenai pergantian sumber energi, tetapi juga mengenai kemampuan infrastruktur dan sistem ekonomi untuk beradaptasi terhadap perubahan.

Dari batu bara, minyak, dan gas bumi hingga energi bersih, evolusi energi dunia terus berlangsung. Tantangan berikutnya adalah membangun sistem energi yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga semakin tangguh menghadapi perubahan lingkungan dan tuntutan keberlanjutan.

(Ade Hapsari Lestarini)