Harga Emas Melempem di Tengah Ketidakpastian Arah Kebijakan The Fed

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Emas Melempem di Tengah Ketidakpastian Arah Kebijakan The Fed

Husen Miftahudin • 8 January 2026 13:22

Jakarta: Harga emas dunia (XAU/USD) dunia mengalami tekanan pada perdagangan hari ini setelah sempat menyentuh level tertinggi terbarunya. Pelemahan tersebut terjadi seiring membaiknya sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat (AS) yang mengurangi urgensi investor untuk mempertahankan posisi di aset safe-haven.

"Pergerakan emas saat ini masih berada dalam struktur tren bullish, meskipun pasar tengah mengalami fase konsolidasi dan aksi ambil untung jangka pendek," ungkap analis Dupoin Futures Indonesia Andy Nugraha, dikutip dari analisa hariannya, Kamis, 8 Januari 2026.

Pada perdagangan Rabu (7/1), harga emas tercatat anjlok hampir satu persen setelah data ekonomi AS menunjukkan aktivitas bisnis yang lebih kuat dari perkiraan, disertai dengan sinyal ketahanan pasar tenaga kerja. Emas sempat mencapai puncak di area USD4.500 sebelum terkoreksi dan diperdagangkan di kisaran USD4.465.

Menurut Andy, tekanan jual tersebut mencerminkan respons pasar terhadap membaiknya sentimen ekonomi, yang sementara waktu menekan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.

Berdasarkan analisisnya, ia menjelaskan dari sisi teknikal, kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average justru masih menunjukkan tren bullish yang menguat. Struktur pergerakan harga saat ini menandakan bahwa koreksi yang terjadi lebih bersifat teknikal dan belum mengubah arah tren utama.

Berdasarkan proyeksi Andy, apabila tekanan bullish kembali mendominasi dan harga mampu mempertahankan momentum penguatan, maka XAU/USD berpotensi bergerak naik menuju area USD4.520.

"Namun demikian, jika harga gagal melanjutkan kenaikan dan tekanan koreksi berlanjut, maka potensi penurunan terdekat diperkirakan berada di sekitar area USD4.432 yang menjadi level penting dalam jangka pendek," papar dia.
 

Baca juga: Aksi Ambil Untung Bikin Harga Emas Dunia Tergelincir


(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Aksi profit taking pelaku pasar


Tekanan terhadap harga emas kembali terlihat pada awal sesi Asia pada Kamis, 8 Januari 2026, dengan emas bergerak turun mendekati area USD4.450. Pelemahan ini terjadi di tengah aksi profit taking oleh pelaku pasar setelah reli yang cukup signifikan dalam beberapa hari sebelumnya.

Selain itu, sebagian investor mulai mengesampingkan kekhawatiran geopolitik, terutama setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat tidak memicu eskalasi lanjutan dalam waktu dekat.

Perhatian pasar kini beralih pada rangkaian data ekonomi penting dari AS, termasuk rilis Klaim Pengangguran Awal mingguan serta laporan ketenagakerjaan bulan Desember yang akan diumumkan pada Jumat (9/1). Data tenaga kerja tersebut dinilai krusial karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Konsensus pasar memperkirakan adanya penambahan lapangan kerja, dengan tingkat pengangguran yang cenderung stabil. Jika data yang dirilis lebih lemah dari ekspektasi, hal tersebut dapat memperkuat peluang pelonggaran kebijakan moneter, yang pada gilirannya akan mendukung harga emas.

Dari sisi data ekonomi terbaru, Institut Manajemen Pasokan melaporkan PMI Jasa ISM mengalami peningkatan signifikan, mencerminkan penguatan aktivitas sektor jasa AS. Subindeks ketenagakerjaan juga kembali ke wilayah ekspansi, sementara tekanan harga menunjukkan tanda-tanda moderasi.

Di sisi lain, laporan JOLTS menunjukkan penurunan jumlah lowongan pekerjaan, yang mengindikasikan pendinginan bertahap di pasar tenaga kerja.

Dengan kombinasi data ekonomi yang beragam, Andy menilai pergerakan emas ke depan akan sangat dipengaruhi oleh keseimbangan antara sentimen fundamental dan teknikal.

"Selama harga masih bertahan di atas area support utama, tren bullish dinilai tetap terjaga, meskipun volatilitas diperkirakan akan meningkat menjelang rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat," jelas Andy.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)