Ilustrasi. Foto: Dok MI
Rupiah Dibuka ke Rp17.405/USD Selasa Pagi
Eko Nordiansyah • 5 May 2026 09:12
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Rupiah masih tertekan saat dolar AS mengalami penguatan di tengah meningkatnya permintaan aset aman.
Mengutip data Bloomberg, Senin, 4 Mei 2026, rupiah berada di level Rp17.405 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 11,5 poin atau setara 0,07 persen dari Rp17.394 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.363 per USD. Rupiah masih bergerak melemah dari Rp17.345 per USD pada pembukaan perdagangan kemarin.
.jpg)
(Ilustrasi. MI/Ramdani)
Rupiah diprediksi masih fluktuatif cenderung melemah
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan mata uang rupiah hari ini bergerak fluktuatif namun ditutup melemah. Rupiah diprediksi bergerak di rentang Rp 17.390 - Rp 17.440 per USD.Ibrahim mengatakan, pergerakan rupiah dibayangi
sentimen eksternal di tengah meningkatnya tensi geopolitik global. Presiden AS Donald Trump mengatakan AS akan memulai upaya untuk membebaskan kapal-kapal yang terdampar di Selat Hormuz.
Ia menyebut, ketegangan juga memanas di Eropa timur setelah Ukraina melancarkan serangkaian serangan drone terhadap sejumlah wilayah di Rusia. Ukraina menyerang sejumlah kapal, seiring dengan peningkatan serangan terhadap infrastruktur energi dan target lainnya.
Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat suprlus neraca perdagangan Indonesia sebesar USD3,32 miliar pada Maret 2026, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya senilai USD 1,27 miliar. Ini adalah surplus dalam 70 bulan beruntun sejak Mei 2020.
Sementara data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global Indonesia berada di 49,1 pada April 2026. Angka ini adalah yang terendah sejak Juli 2025, sekaligus menandai kontraksi pertama PMI setelah delapan bulan ekspansif.
"Kontraksi ini didorong oleh penurunan berkelanjutan dalam volume produksi. Penurunan tersebut terjadi selama dua bulan berturut-turut, dengan laju penurunan yang semakin cepat dibandingkan Maret dan menjadi yang tercepat sejak Mei tahun lalu," ungkap Ibrahim.