Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: Dok istimewa
Purbaya Ungkap Kondisi APBN hingga Semester I-2026, Ini Selengkapnya
Eko Nordiansyah • 8 July 2026 11:55
Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan kinerja APBN semester I-2026 tetap sehat dan terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global. Hingga akhir Juni 2026, pendapatan negara mencatat pertumbuhan yang kuat, sedangkan belanja negara menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi.
“Secara keseluruhan, capaian semester I menunjukkan bahwa momentum penerimaan negara berada pada jalur yang positif,” kata Purbaya saat menghadiri rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, dikutip Rabu, 8 Juli 2026.
Adapun APBN mengalami defisit sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Purbaya memproyeksikan defisit APBN 2026 pada akhir tahun akan melebar menjadi Rp734,3 triliun atau 2,85 terhadap PDB dari target sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68 persen dari PDB.
Realisasi hingga semester I-2026
Hingga semester I 2026, Purbaya melaporkan pendapatan negara terhimpun sebesar Rp1.459,4 triliun atau 46,3 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp3.153,6 triliun. Pendapatan negara juga tumbuh 21,4 persen year on year (yoy).Penerimaan pajak terkumpul sebesar Rp1.035,7 triliun atau 43,9 persen dari target Rp2.357,7 triliun, sedangkan kepabeanan dan cukai Rp152 triliun atau 45,2 persen dari target Rp336 triliun. Sementara Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp271 triliun atau 59 persen dari target Rp459,2 triliun.
"Jadi, reformasi perpajakan dan organisasi perpajakan sudah memberikan hasil yang cukup menjanjikan. Ke depannya akan terus membaik," ujar dia.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Di sisi lain, belanja negara terealisasi sebesar Rp1.656 triliun atau 43,1 persen dari target Rp3.842,7 triliun, tumbuh sebesar 17,8 persen (yoy). Belanja pemerintah pusat telah tersalurkan sebanyak Rp1.298,6 triliun atau 41,2 persen dari target Rp3.149,7 triliun.
Pada sisi belanja K/L, realisasi tercatat sebesar Rp658,9 triliun atau 43,6 persen dari target Rp1.510,5 triliun. Sedangkan belanja non-K/L terealisasi Rp639,7 triliun atau 39 persen dari target Rp1.639,2 triliun. Penyaluran transfer ke daerah tercatat sebesar Rp357,4 persen atau 51,6 persen dari target Rp693 triliun.
"Itu merupakan hasil dari upaya kami untuk memastikan belanja negara terjadi lebih merata sepanjang tahun. Kinerja belanja ditujukan untuk mendorong perekonomian lebih tinggi, mendukung agenda pembangunan, dan program prioritas nasional," tambah Purbaya.
Proyeksi APBN 2026
Kementerian Keuangan memproyeksikan belanja negara akan mencapai Rp3.942,4 triliun, setara 102,6 persen dari target Rp3.842,7 triliun. Percepatan belanja lebih besar terjadi pada belanja pemerintah pusat yang diperkirakan sebesar Rp3.245,5 triliun pada akhir tahun, setara 103 persen dari target awal Rp3.149,7 triliun.Rinciannya, belanja kementerian/lembaga (K/L) diperkirakan mencapai Rp1.630,4 triliun atau 107,9 persen dari pagu Rp1.510,5 triliun. Sementara belanja non-K/L diproyeksikan mencapai Rp1.615,1 triliun atau 98,5 persen dari Rp1.639,2 triliun.
Sedangkan realisasi transfer ke daerah diperkirakan hampir menyamai target yang ditetapkan, yakni sebesar Rp696,9 triliun atau 100,6 persen dari target Rp693 triliun.
Selain belanja negara, pendapatan negara juga diperkirakan melampaui target APBN 2026, dengan proyeksi Rp3.208,1 triliun atau 101,7 persen dari pagu Rp3.153,6 triliun.
Penerimaan perpajakan diproyeksikan mencapai Rp2.631,4 triliun atau 97,7 persen dari pagu Rp2.693,7 triliun, terdiri atas penerimaan pajak Rp2.310,8 triliun (98 persen dari pagu Rp2.357,7 triliun) serta kepabeanan dan cukai Rp320,6 triliun (95,4 persen dari pagu Rp336 triliun).
Sementara penerimaan negara bukan pajak (PNBP) diperkirakan melampaui target awal dengan nilai Rp575,1 triliun atau 125,2 persen dari pagu Rp459,2 triliun. Dengan proyeksi itu, keseimbangan primer diperkirakan mengalami defisit sebesar Rp152,1 triliun, lebih tinggi dari target awal APBN 2026 senilai Rp89,7 triliun.