Harga Emas Berpotensi Lanjutkan Reli, Begini Proyeksinya

Ilustrasi. Foto: Unplash

Harga Emas Berpotensi Lanjutkan Reli, Begini Proyeksinya

Eko Nordiansyah • 23 February 2026 11:11

Jakarta: Harga emas dunia melanjutkan tren penguatan pada perdagangan hari ini, didukung oleh kombinasi faktor fundamental dan teknikal yang semakin memperkuat daya tarik logam mulia sebagai aset safe-haven

Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha menjelaskan, kenaikan harga emas dipicu oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat serta meningkatnya tekanan inflasi yang tercermin dari data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (Core PCE), yang merupakan indikator inflasi favorit Federal Reserve (The Fed). 

Pada akhir pekan lalu, harga emas melonjak lebih dari satu persen dan diperdagangkan di kisaran USD5.065 per troy ounce setelah sempat menyentuh level terendah harian di USD4.981. Kenaikan ini menunjukkan bahwa minat investor terhadap emas tetap kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

"Pada sesi perdagangan Asia hari Senin, harga emas kembali bergerak stabil dengan kecenderungan menguat dan mendekati level USD5.095," kata dia dalam keterangan tertulisnya, Senin, 23 Februari 2026.

Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan global setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memberlakukan tarif impor baru melalui kewenangan Undang-Undang Perdagangan 1974. Kebijakan ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi perang dagang baru, sehingga mendorong investor untuk mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti emas. 

"Selain itu, ketidakpastian geopolitik terkait hubungan antara Amerika Serikat dan Iran turut memberikan dukungan tambahan bagi harga emas, meskipun adanya peluang negosiasi antara kedua negara sedikit membatasi potensi kenaikan yang lebih agresif," ungkapnya.

Baca Juga :

Harga Emas Memperpanjang Kenaikan



(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Perlambatan ekonomi AS

Dari sisi fundamental, data ekonomi terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat pada kuartal keempat 2025 hanya mencapai 1,4 persen secara tahunan, jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 4,4 persen pada kuartal sebelumnya dan di bawah ekspektasi pasar sebesar 3,0 persen. 

Perlambatan ini mengindikasikan bahwa momentum ekonomi mulai melemah, yang pada akhirnya meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan lebih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneternya. Di sisi lain, inflasi justru menunjukkan peningkatan, dengan Core PCE naik menjadi 3,0 persen secara tahunan, melampaui target inflasi The Fed sebesar dua persen. 

"Kondisi ini menciptakan dilema bagi bank sentral, karena inflasi yang masih tinggi dapat menunda pemangkasan suku bunga, namun perlambatan ekonomi juga meningkatkan risiko perlunya stimulus tambahan di masa mendatang," jelas Andy.

Tren bullish masih solid

Menurut Andy, kombinasi antara perlambatan ekonomi, inflasi yang meningkat, serta ketidakpastian geopolitik memberikan dukungan kuat terhadap harga emas dalam jangka pendek. 

Secara teknikal, pola candlestick yang terbentuk saat ini menunjukkan dominasi tekanan beli, yang diperkuat oleh indikator Moving Average yang mengindikasikan tren bullish masih solid. Struktur pergerakan harga yang tetap berada di atas level psikologis penting semakin memperkuat indikasi bahwa emas masih berada dalam fase uptrend.

Untuk proyeksi pergerakan hari ini, Dupoin Futures memperkirakan bahwa jika momentum bullish berlanjut, harga emas berpotensi melanjutkan kenaikan hingga menguji level resistance di kisaran USD5.220 per troy ounce. Level ini menjadi area penting yang dapat menjadi target berikutnya bagi para pelaku pasar jika sentimen positif tetap terjaga. 

Namun demikian, investor juga perlu mewaspadai potensi koreksi teknikal, terutama jika harga gagal mempertahankan momentum kenaikan. Dalam skenario tersebut, level support terdekat berada di sekitar USD5.004, yang dapat menjadi area penahan penurunan dalam jangka pendek.

Secara keseluruhan, prospek harga emas masih cenderung positif, didukung oleh meningkatnya permintaan terhadap aset safe-haven di tengah ketidakpastian ekonomi global, ketegangan geopolitik, serta dinamika kebijakan moneter Federal Reserve. Selama faktor-faktor tersebut masih mendominasi sentimen pasar, emas diperkirakan tetap memiliki peluang untuk melanjutkan tren penguatan. 

"Namun, pelaku pasar tetap disarankan untuk mencermati perkembangan data ekonomi Amerika Serikat, termasuk data inflasi dan kebijakan suku bunga, karena faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu utama arah pergerakan harga emas dalam jangka pendek hingga menengah," kata dia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)