KA Anggrek. (TyewongX /Wikimedia Commons)
8 Kereta Api di Indonesia yang Pernah Berganti Nama, KA Anggrek hingga Parahyangan
Riza Aslam Khaeron • 28 September 2026 15:29
Jakarta: Hari ini, Senin, 28 September 2026, bertepatan dengan Hari Kereta Api Nasional sekaligus Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Dalam usia yang telah melewati delapan dekade, perubahan di dunia perkeretaapian Indonesia tidak hanya terlihat dari peremajaan armada, modernisasi teknologi, maupun peningkatan kualitas layanan. Penamaan kereta api pun turut berganti mengikuti perkembangan zaman.
Beberapa nama lama perlahan menghilang, sebagian dihidupkan kembali, sementara yang lain disesuaikan akibat perubahan kelas, rute, hingga penataan ulang identitas layanan. Sebagai contoh, KA Argo Parahyangan kembali memakai nama Parahyangan mulai 1 Februari 2025 setelah komposisi rangkaiannya tidak lagi seluruhnya terdiri atas kelas eksekutif.
Di luar nama tersebut, masih ada sejumlah kereta api lain yang memiliki riwayat pergantian identitas cukup panjang. Ada yang berganti nama satu kali, ada yang beberapa kali, bahkan ada pula nama yang dialihkan untuk melayani rute berbeda.
Berikut adalah deretan kereta api di Indonesia yang pernah berganti nama:
1. Argo Bromo Anggrek Menjadi KA Anggrek
Salah satu penyederhanaan nama terbaru terjadi pada KA Argo Bromo Anggrek.KAI secara resmi menyederhanakan namanya menjadi KA Anggrek mulai 9 Mei 2026. Perubahan identitas ini tidak disertai dengan perubahan jadwal keberangkatan, rute perjalanan, maupun kelas pelayanan.
Pihak KAI menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk penyederhanaan identitas merek, bukan upaya untuk menghilangkan nilai sejarah Argo Bromo Anggrek. Nama "Anggrek" tetap dipertahankan karena telah lama menjadi bagian penting dari identitas kereta relasi Jakarta–Surabaya tersebut.
“Dengan rute andalan yang menghubungkan kota-kota penting, KA Anggrek siap menemani perjalanan yang lebih nyaman, aman, dan berkesan,” tulis PT KAI melalui akun Instagram resmi @kai121_, 5 Mei 2026.
Sebelumnya, nama Argo Bromo Anggrek telah digunakan selama kurang lebih tiga dekade dan menjadi salah satu nama kereta kelas eksekutif paling ikonik di Indonesia.
2. Argo Parahyangan Kembali Menjadi KA Parahyangan
Layanan kereta api ini bermula pada tahun 1971 saat KAI meresmikan kereta relasi Stasiun Bandung–Stasiun Gambir (Jakarta) dengan nama KA Parahyangan, yang menyediakan layanan kelas eksekutif dan bisnis.Berdasarkan ulasan di akun Instagram @keretaapikita, pada dekade 1980-an, KA Parahyangan menjadi salah satu moda transportasi favorit masyarakat. Kepopuleran jalur ini mendorong lahirnya KA Argo Gede pada 31 Juli 1995, yang menjadi pelopor keluarga kereta jenama "Argo" di Indonesia.
Selanjutnya, pada 27 April 2010, KA Argo Gede digabungkan dengan KA Parahyangan hingga lahirlah nama KA Argo Parahyangan. Perjalanan sejarah nama ini akhirnya kembali ke bentuk awalnya. Mulai 1 Februari 2025, KAI mengembalikan nama KA Argo Parahyangan menjadi KA Parahyangan bersamaan dengan pemberlakuan Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka) 2025.
Salah satu pertimbangan utamanya berkaitan dengan penataan kelas pelayanan. KAI menjelaskan bahwa kereta yang menyandang jenama "Argo" pada prinsipnya merupakan layanan dengan seluruh rangkaian kelas eksekutif, sedangkan KA Parahyangan membawa kombinasi kelas ekonomi premium dan eksekutif.
3. Beberapa Perubahan Nama KA Serayu
KA Serayu memiliki rekam jejak pergantian nama yang cukup panjang dalam sejarah operasionalnya. KAI mencatat bahwa layanan ini sempat beberapa kali berganti nama seiring dengan perpanjangan rute perjalanan. Cikal bakalnya bermula dari layanan KA Patas Bandung–Jakarta pada era 1950-an.Seiring perluasan rute, namanya berubah menjadi Patas Banjar–Manggarai, lalu berganti menjadi Cepat Sidareja, hingga akhirnya resmi menggunakan nama KA Serayu pada tahun 1997.
Nama "Serayu" diambil dari Sungai Serayu, salah satu sungai besar di Jawa Tengah yang melintasi wilayah Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, hingga Cilacap. Saat ini, KA Serayu melayani koridor Pasar Senen–Purwokerto via Bandung secara pulang-pergi (PP).

KA Parahyangan. (TyewongX /Wikimedia Commons)
4. Empu Jaya Menjadi KA Progo
KA Progo juga memiliki sejarah perubahan identitas yang panjang.Cikal bakal layanan ini berasal dari kereta malam kelas ekonomi bernama KA Senja pada dekade 1970-an. Setelah adanya penataan ulang perjalanan pada awal 1980-an, kereta ini lebih dikenal sebagai KA Senja Ekonomi Yogya untuk relasi Yogyakarta–Jakarta.
Identitasnya kemudian berganti menjadi KA Empu Jaya pada tahun 1995. Nama "Empu Jaya" sendiri merupakan singkatan dari rute yang dilayaninya, yakni Lempuyangan–Jakarta Raya.
Namun, nama Empu Jaya tidak bertahan lama. Pada Januari 2002, PT KAI Daop VI Yogyakarta menyampaikan rencana untuk mengganti nama tersebut. Langkah ini diambil guna memperbarui citra layanan setelah beberapa insiden kecelakaan serius yang melibatkan KA Empu Jaya.
Pada 4 Juni 2002, nama KA Progo resmi diperkenalkan sebagai pengganti. Nama baru ini terinspirasi dari Sungai Progo yang mengalir di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Hingga kini, KA Progo tetap setia melayani relasi Lempuyangan–Pasar Senen PP.
5. KA Bangunkarta dan KA Brawijaya
Saat penerapan Gapeka 2021 yang berlaku mulai 10 Februari 2021, KAI melakukan penataan ulang nama pada dua layanan sekaligus. Rangkaian yang sebelumnya bernama KA Bangunkarta berganti nama menjadi KA Brawijaya, sedangkan nama KA Bangunkarta dialihkan untuk melayani rute yang sebelumnya diampu oleh KA Anjasmoro.Dengan kata lain, nama Bangunkarta tidak benar-benar dihapus, melainkan dipindahkan ke koridor pelayanan yang berbeda.
Pascapenataan tersebut, KA Brawijaya melayani lintas Gambir–Malang, sedangkan KA Bangunkarta digunakan untuk perjalanan Pasar Senen–Jombang. KA Bangunkarta resmi beroperasi kembali dari Jombang mulai 14 Maret 2021 melalui rute Yogyakarta dan Purwokerto.
6. Argo Cheribon Berubah Menjadi Gunungjati dan Cakrabuana
Perkembangan identitas KA Argo Cheribon terbilang unik karena satu nama kereta berkembang dan dipecah menjadi dua layanan yang berbeda. Bersamaan dengan pemberlakuan Gapeka 2025 pada 1 Februari 2025, KAI Daop 3 Cirebon melakukan pembaruan nama sekaligus penyesuaian pola operasi pada KA Argo Cheribon.Dua set rangkaiannya kemudian diberi identitas baru. Rangkaian Trainset I beralih menjadi KA Gunungjati, dengan rute yang semula Cirebon–Gambir–Tegal diperpanjang menjadi Cirebon–Gambir–Semarang Tawang–Gambir–Cirebon.
Sementara itu, rangkaian Trainset II berganti nama menjadi KA Cakrabuana, dengan pola perjalanan yang diperluas melayani rute Purwokerto–Gambir–Cirebon–Gambir–Purwokerto. Dengan demikian, KA Argo Cheribon tidak sekadar berganti nama, melainkan bertransformasi menjadi dua identitas kereta baru dengan jangkauan rute yang lebih luas.
7. KA Mutiara Utara Digantikan KA Sembrani
Layanan ini merupakan bentuk pembaruan armada dan identitas secara menyeluruh. KA Sembrani hadir sebagai kereta pengganti KA Mutiara Utara, yang merupakan layanan kelas atas koridor Jakarta–Surabaya via jalur utara Jawa pada periode 1971–1995.Sebelum digantikan, KA Mutiara Utara sempat mengalami beberapa kali penyesuaian format penamaan hingga akhirnya perusahaaan memperbarui total layanannya menjadi KA Sembrani. KA Sembrani mulai resmi beroperasi pada 1 Oktober 1995 dan terus melayani relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi hingga saat ini.
Pola serupa juga terjadi pada beberapa kereta legendaris lainnya. Sebagai contoh, KA Fajar Pajajaran dan KA Senja Mataram dilebur dan digantikan oleh KA Lodaya pada 12 Mei 2000. Sementara itu, nama KA Badrasurya akhirnya dipensiunkan dan jalur ekonominya diteruskan oleh KA Pasundan.
Pergantian nama kereta api membuktikan bahwa sebuah layanan dapat terus bertransformasi menyesuaikan kebutuhan zaman. Ada perubahan yang sifatnya penyederhanaan merek seperti Argo Bromo Anggrek menjadi Anggrek, namun ada pula perubahan mendasar yang melibatkan penataan kelas, rute, hingga pengalihan nama ke relasi baru.
Menariknya, beberapa nama klasik justru kembali dihidupkan. Nama Parahyangan, misalnya, kembali digunakan setelah melintasi sejarah panjang berbagai bentuk layanan. Di sisi lain, nama Bangunkarta tetap eksis di peta perkeretaapian nasional meskipun layanan perdananya kini telah berganti identitas menjadi KA Brawijaya.