Ilustrasi. Foto: Unsplash
Ketegangan Geopolitik hingga Ekspektasi Penurunan Suku Bunga Fed Bikin Harga Emas Makin Kinclong
Husen Miftahudin • 7 January 2026 11:14
Jakarta: Harga emas dunia kembali menguat dengan melanjutkan tren positif yang telah berlangsung selama empat hari berturut-turut. Berdasarkan pantauan pasar, harga emas spot (XAU/USD) diperdagangkan di kisaran USD4.487 pada Selasa, 6 Januari 2026, naik hampir satu persen, dan semakin mendekati level psikologis USD4.500 pada Rabu, 7 Januari 2026.
Kenaikan ini terjadi meskipun imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) serta dolar AS sama-sama bergerak menguat, kondisi yang umumnya menjadi faktor penekan bagi harga emas.
Menurut analisis Dupoin Futures Andy Nugraha, penguatan harga emas saat ini didukung oleh sinyal teknikal yang masih solid. Kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan tren bullish pada XAU/USD semakin menguat.
"Pergerakan harga yang konsisten berada di atas area rata-rata pergerakan mengindikasikan minat beli masih mendominasi pasar, sementara tekanan jual cenderung terbatas dalam jangka pendek," jelas Andy, dikutip dari analisis hariannya, Rabu, 7 Januari 2026.
Dari sisi proyeksi teknikal, Andy menjelaskan apabila tekanan beli tetap berlanjut dan harga mampu bertahan di atas area support terdekat, maka XAU/USD berpeluang melanjutkan kenaikan hingga menguji level USD4.520.
"Level ini menjadi target kenaikan terdekat yang berpotensi dicapai dalam perdagangan hari ini," tutur dia.
Namun demikian, pelaku pasar juga perlu mencermati potensi koreksi. Jika harga gagal melanjutkan penguatan dan terjadi aksi ambil untung, maka area USD4.444 diperkirakan menjadi support terdekat yang dapat diuji oleh harga emas.
| Baca juga: Geopolitik Masih Bergejolak, Kenaikan Harga Emas Global Terus Berlanjut |
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Ditopang ketegangan geopolitik hingga penurunan suku bunga Fed
Selain faktor teknikal, sentimen fundamental global juga masih memberikan dukungan kuat bagi emas sebagai aset safe haven. Pada perdagangan awal sesi Asia hari ini, harga emas tercatat naik lebih dari satu persen seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan ekspektasi penurunan suku bunga di AS.
Situasi geopolitik kembali memanas setelah Amerika Serikat melakukan operasi militer skala besar terhadap Venezuela dan mengumumkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya. Ketidakpastian yang menyelimuti krisis ini mendorong investor kembali mencari perlindungan pada aset aman seperti emas.
Dari sisi kebijakan moneter, risalah FOMC menunjukkan sebagian besar pejabat Federal Reserve masih menilai penurunan suku bunga sebagai langkah yang tepat seiring meredanya tekanan inflasi, meskipun terdapat perbedaan pandangan terkait waktu dan besaran penurunan tersebut.
Pasar berjangka dana Fed, berdasarkan alat CME FedWatch, memperkirakan probabilitas sekitar 82 persen suku bunga acuan akan dipertahankan pada pertemuan 27–28 Januari mendatang. Ekspektasi suku bunga yang lebih rendah cenderung mengurangi biaya peluang memegang emas, sehingga menjadi faktor pendukung bagi harga logam mulia.
Ke depan, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada rilis data ekonomi AS, termasuk PMI Jasa ISM serta laporan ketenagakerjaan (Non-Farm Payrolls/NFP) AS Desember. Jika data tenaga kerja menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan, dolar AS berpotensi menguat dan dapat menekan harga emas dalam jangka pendek.
"Namun selama ketidakpastian global dan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter masih membayangi pasar, emas diperkirakan tetap berada dalam jalur bullish," terang Andy.