Foto: Instagram Danau Situ Gintung
#OnThisDay 27 Maret, Tragedi Maut Jebolnya Tanggul Situ Gintung
Whisnu Mardiansyah • 27 March 2026 09:20
Tangsel: Langit masih gelap ketika suara gemuruh itu memecah keheningan dini hari di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan. Warga yang terlelap tak menyadari bahwa dalam hitungan detik, kehidupan mereka akan berubah selamanya.
Sekitar dini hari, 27 Maret 2009 pukul 02.00 WIB, tanggul di Situ Gintung jebol. Air yang selama puluhan tahun tertahan mendadak mengalir deras, menghantam permukiman warga di bawahnya. Tidak ada peringatan. Tidak ada waktu untuk menyelamatkan diri.
Peristiwa ini kemudian dikenang sebagai salah satu bencana banjir bandang paling mematikan di kawasan Jabodetabek dalam dua dekade terakhir.
Situ Gintung bukan bendungan modern. Waduk ini dibangun pada era kolonial Belanda sekitar tahun 1930-an untuk keperluan irigasi. Seiring waktu, fungsi tersebut bergeser. Waduk tetap menampung air, tetapi kawasan di sekitarnya berubah menjadi permukiman padat penduduk.
Rumah-rumah berdiri hanya beberapa meter dari tanggul. Kampung Gintung, Kampung Poncol, dan wilayah sekitarnya berkembang pesat tanpa perencanaan tata ruang yang memadai. Sebagian warga menyadari usia tanggul yang sudah tua. Namun, aktivitas sehari-hari tetap berjalan seperti biasa. Tidak banyak yang menyangka struktur tersebut menyimpan potensi bahaya besar.
Padahal, sejumlah laporan sebelumnya telah mencatat adanya retakan dan rembesan air di tubuh tanggul. Namun, tanda-tanda itu tidak direspons secara optimal.
Malam Sebelum Bencana
Hujan mengguyur wilayah Ciputat dan sekitarnya sejak siang hingga malam 26 Maret 2009. Intensitasnya tinggi dan berlangsung cukup lama. Air di dalam waduk terus meningkat.
Bagi warga, hujan bukan hal yang luar biasa. Namun malam itu, kondisi air terlihat lebih tinggi dari biasanya. Beberapa warga sempat merasa khawatir, tetapi tidak ada peringatan resmi dari pihak berwenang. Tidak ada sirene, tidak ada instruksi evakuasi. Kehidupan tetap berjalan hingga warga tertidur, tanpa menyadari bahaya yang semakin mendekat.
Sekitar pukul 02.00 WIB, 27 Maret 2009, tekanan air di dalam waduk mencapai titik kritis. Tanggul yang telah berusia puluhan tahun itu akhirnya tidak mampu menahan beban. Sebagian tanggul runtuh, menciptakan celah besar. Dalam sekejap, jutaan meter kubik air mengalir deras ke permukiman.
Gelombang air setinggi beberapa meter menghantam rumah-rumah warga. Arusnya begitu kuat hingga menyeret bangunan, kendaraan, dan apa pun yang dilaluinya. Banyak warga yang masih tertidur tidak sempat menyelamatkan diri. Sebagian baru terbangun ketika air sudah masuk ke dalam rumah.
Air menghancurkan ratusan rumah dalam waktu singkat. Banyak bangunan roboh atau hanyut terbawa arus. Jalan-jalan tertutup lumpur dan puing. Wilayah terdampak mencapai sekitar 10 hektare. Ketinggian air di beberapa titik bahkan melebihi dua meter.
Warga yang selamat berusaha menyelamatkan diri dengan naik ke atap rumah atau bangunan yang lebih tinggi. Sebagian lainnya berpegangan pada benda apa pun yang bisa menyelamatkan mereka dari arus deras. Ketika air mulai surut beberapa jam kemudian, kehancuran terlihat jelas. Rumah-rumah rata dengan tanah. Barang-barang hilang. Dan yang paling menyedihkan, banyak korban jiwa bergelimpangan.
Tragedi ini menelan lebih dari 100 korban jiwa. Puluhan orang sempat dinyatakan hilang, sementara ratusan lainnya mengalami luka-luka. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal. Banyak keluarga terpisah dan kehilangan anggota keluarga dalam waktu singkat.
Namun dampak terbesar bukan hanya angka korban. Trauma psikologis membekas mendalam pada para penyintas. Bagi sebagian warga, suara hujan deras setelah kejadian tersebut selalu menghadirkan ketakutan. Kenangan tentang malam itu terus terbayang, bahkan bertahun-tahun kemudian.
Respons Darurat
Pagi hari setelah kejadian, kawasan Situ Gintung berubah menjadi lokasi evakuasi besar-besaran. Tim SAR, TNI, polisi, dan relawan segera diterjunkan. Proses pencarian korban dilakukan secara intensif, meskipun terkendala oleh lumpur tebal dan puing-puing bangunan.
Para pengungsi ditempatkan di berbagai fasilitas umum, seperti sekolah, masjid, dan kampus. Bantuan logistik mulai berdatangan dari berbagai pihak. Presiden saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono, meninjau langsung lokasi kejadian dan memerintahkan investigasi menyeluruh terkait penyebab bencana, Sabtu, 28 Maret 2009.
Seiring berjalannya waktu, muncul pertanyaan mengenai penyebab jebolnya tanggul. Pemerintah menyebut curah hujan tinggi sebagai faktor utama. Namun hasil kajian menunjukkan penyebabnya tidak tunggal.
Beberapa faktor berkontribusi terhadap peristiwa ini. Pertama, usia tanggul yang sudah tua dan tidak diperkuat secara signifikan sejak dibangun pada era kolonial. Kedua, adanya kerusakan struktural seperti retakan dan rembesan air yang tidak segera ditangani.
Ketiga, sistem drainase yang tidak optimal sehingga tidak mampu mengalirkan kelebihan air secara efektif. Keempat, perubahan tata ruang yang menyebabkan kawasan sekitar tanggul menjadi permukiman padat tanpa perlindungan memadai. Berdasarkan berbagai temuan tersebut, tragedi Situ Gintung dipahami sebagai kombinasi antara faktor alam dan kelalaian manusia.