Komisi XII Ungkap Peluang Penurunan Harga Pertamax

Wakil Ketua Komisi XII DPR Sugeng Suparwoto. Foto: Dok. Metro TV.

Komisi XII Ungkap Peluang Penurunan Harga Pertamax

Satrio Adi Putranto • 17 June 2026 13:35

Jakarta: Wakil Ketua Komisi XII DPR Sugeng Suparwoto menyebut harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax berpeluang turun bergantung pada harga minyak mentah dunia. Namun, keputusan penyesuaian harga tersebut memerlukan perhitungan parameter yang matang.

“Harus ada parameter yang dihitung terlebih dahulu. Harga minyak perlu mengendap pada level tertentu agar ada kepastian,” kata Sugeng di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 17 Juni 2026.
 


Sugeng menjelaskan harga jual Pertamax sangat bergantung pada pergerakan harga minyak mentah dunia. Saat ini, harga minyak jenis Brent berada di kisaran USD83 per barel, sementara jenis WTI bertengger di angka USD79 per barel, di mana kedua acuan tersebut terpantau turun sekitar lima persen dalam sehari terakhir.

Menurut Sugeng, fluktuasi pasar energi global yang masih sangat tinggi membuat pemerintah tidak boleh mengambil keputusan jangka pendek. Langkah penyesuaian harga komoditas energi harus didasari oleh kestabilan pasar, bukan sekadar respons instan atas dinamika harian.

“Jangan sampai kita mengambil keputusan berdasarkan parameter yang belum stabil,” tegas Sugeng.

Legislator dari Fraksi NasDem ini membeberkan bahwa harga BBM nonsubsidi di dalam negeri turut dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Adapun dalam APBN 2026, asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) telah dipatok sebesar USD70 per barel dengan proyeksi kurs Rp16.500 per dolar AS.

Sugeng menambahkan volatilitas harga minyak dunia saat ini berkelindan dengan berbagai faktor geopolitik dan ekonomi global. Mulai dari kebijakan pemotongan produksi oleh negara-negara OPEC Plus hingga agenda pengisian kembali cadangan strategis minyak oleh negara-negara maju.

“Produksi OPEC Plus yang sebelumnya sekitar 103 juta barel per hari sekarang turun menjadi sekitar 93 sampai 95 juta barel per hari. Ini menciptakan kekurangan pasokan di pasar global,” urai Sugeng.


Ilustrasi SPBU. Foto: Dok. MI.

Situasi ini kian kompleks lantaran negara-negara dengan kekuatan ekonomi besar, seperti Amerika Serikat dan China, juga tengah gencar mengisi ulang tangki cadangan minyak nasional mereka yang sempat terkuras beberapa tahun belakangan.

“Semua itu turut memengaruhi harga minyak dunia,” imbuh Sugeng.

Sugeng mengingatkan bahwa Indonesia harus tetap waspada dan jeli mencermati setiap perkembangan pasar makro. Hal ini mengingat status Indonesia yang masih menjadi negara importir bersih (net importer) untuk komoditas BBM dan LPG. 

Guna mengantisipasi dampak buruk, Komisi XII DPR bersama pemerintah dan PT Pertamina (Persero) berkomitmen untuk terus mengintensifkan mitigasi serta pemantauan berkala terhadap kondisi pasar energi global.

(Fachri Audhia Hafiez)