Harga Emas Turun Gegara Meningkatnya Ketegangan Timteng hingga Keputusan Fed

Ilustrasi, emas batangan. Foto: Unsplash.

Harga Emas Turun Gegara Meningkatnya Ketegangan Timteng hingga Keputusan Fed

Husen Miftahudin • 30 April 2026 08:32

Chicago: Harga emas turun karena kekhawatiran inflasi yang terus berlanjut setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampak tidak puas dengan proposal terbaru Iran untuk mengakhiri perang. Di sisi lain, logam mulia tersebut juga ikut ambruk imbas keputusan Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga.
 
Mengutip data Yahoo Finance, Kamis, 30 April 2026, harga emas spot sebagai harga pasar emas dunia saat ini turun sebanyak 1,7 persen menjadi USD4.600,61 per ons. Sementara harga emas berjangka AS sebagai patokan harga emas dunia untuk kontrak beli atau jual emas di masa depan, ditutup 1,8 persen lebih rendah pada USD4.608,40.
 
Trump disebut tidak senang dengan proposal terbaru Iran tentang penyelesaian perang. Kondisi ini meredam harapan akan penyelesaian konflik yang telah mengganggu pasokan energi, memicu inflasi, dan menewaskan ribuan orang.
 
Di sisi lain, harga minyak naik karena upaya yang terhenti untuk mengakhiri perang Iran membuat Selat Hormuz sebagian besar tertutup, sehingga membatasi pasokan dari Timur Tengah, sementara UEA mengumumkan akan keluar dari OPEC dan OPEC+.
 
Harga minyak mentah yang tinggi menambah tekanan inflasi, meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga. Meskipun emas secara tradisional dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang tinggi mengurangi daya tariknya sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.
 

Baca juga: Ruang Penguatan Emas Terbuka, Ini yang Perlu Diperhatikan Investor


(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Fed tahan suku bunga

 
Federal Reserve memutuskan untuk kembali mempertahankan kisaran target suku bunga dana federal pada level 3,5 persen sampai 3,75 persen karena harga energi yang tinggi menambah tekanan inflasi.
 
"Indikator terkini menunjukkan aktivitas ekonomi telah berkembang dengan kecepatan yang solid. Penambahan lapangan kerja tetap rendah, rata-rata, dan tingkat pengangguran hampir tidak berubah dalam beberapa bulan terakhir. Inflasi meningkat, sebagian mencerminkan kenaikan harga energi global baru-baru ini," kata Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dalam sebuah pernyataan.
 
"Perkembangan di Timur Tengah berkontribusi pada tingkat ketidakpastian yang tinggi mengenai prospek ekonomi. Komite memperhatikan risiko bagi kedua belah pihak terkait mandat ganda yang diembannya," lanjut FOMC dalam pernyataan tersebut.
 
Dalam mempertimbangkan besaran dan waktu penyesuaian tambahan terhadap kisaran target suku bunga dana federal, komite akan dengan cermat menilai data yang masuk, prospek yang berkembang, dan keseimbangan risiko, kata komite tersebut. FOMC menegaskan kembali komitmennya untuk mendukung lapangan kerja maksimal dan mengembalikan inflasi ke target dua persen.
 
Dari 12 anggota FOMC, 11 anggota memilih untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah. Stephen Miran, yang memilih menentang tindakan tersebut, lebih memilih untuk menurunkan kisaran target suku bunga dana federal sebesar 25 basis poin pada pertemuan tersebut.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)