Geliat Tanah Abang: Ramadan, Harapan, dan Tantangan Digital

Pedagang busana muslim wanita di Pasar Tanah Abang, Irma, 39. Foto: Metro TV/Aris Setya.

Geliat Tanah Abang: Ramadan, Harapan, dan Tantangan Digital

Aris Setya • 3 February 2026 18:49

Jakarta: Aroma tekstil baru menyeruak di antara langkah kaki para pemburu busana di Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Meski kalender Ramadan 2026 masih menyisakan waktu dua pekan lagi, namun detak perniagaan di pusat grosir terbesar di Asia Tenggara ini mulai memacu ritmenya. 

Di lantai 6, pintu-pintu besi kios terbuka lebar, memamerkan deretan gamis dan abaya yang siap menyambut hari kemenangan. Di balik tumpukan kain, Irma, 39, tampak sibuk melayani pelanggan. 
 



Pedagang busana muslim wanita ini mengakui bahwa meski tantangan toko online kian nyata, Tanah Abang tetap punya daya pikat. Khususnya bagi mereka yang ingin menyentuh langsung tekstur kain sebelum membeli.

"Sebenarnya kalau dibandingkan tahun lalu, kalau sekarang ya kita melihatnya lebih ramai tahun lalu. Tapi karena sekarang kita ada produk yang lagi tren jadi bisa mengimbangi, jadi untuk produk yang satu ini bisa menutupi sepi," ungkap Irma saat berbincang di kiosnya kepada Metrotvnews.com, Selasa, 3 Februari 2026.

Irma menaruh asa besar pada pengelola gedung. Baginya, rasa nyaman dan aman pengunjung adalah senjata utama agar pasar fisik bisa tetap bersaing dengan layar ponsel.

Suasana riuh di lorong pasar seolah menjadi musik bagi Ana, 48. Warga Kembangan, Jakarta Barat, ini sengaja menembus kemacetan ibu kota demi berburu abaya untuk oleh-oleh. 


Pengunjung Pasar Tanah Abang, Ana, 48. Foto: Metro TV/Aris Setya.

Baginya, berbelanja di Tanah Abang adalah ritual tahunan yang tak tergantikan. Lengkap dengan sensasi tawar-menawar di tengah kerumunan.

"Makin padat makin ramai, sama seperti tahun lalu. Biasanya memang sebelum Ramadan pasti sudah mulai ramai," ujar Ana sambil menjinjing tas belanjaannya. 

Namun, ia menyisipkan pesan sederhana tetapi mendalam bagi para pedagang. Yakni, jangan menaikkan harga di saat permintaan memuncak.

Kepadatan serupa juga dirasakan Elly, 60, dan Mumu, 56. Pengunjung asal Cipinang ini bahkan sempat kesulitan mencari celah untuk memarkirkan kendaraan mereka di lantai dasar yang sudah penuh sesak. Pilihan mereka jatuh pada gamis Tanah Abang yang kualitasnya dinilai tak kalah dengan merek ternama.


Pengunjung Pasar Tanah Abang, Elly, 60, dan Mumu, 56. Foto: Metro TV/Aris Setya.

"Suasananya agak ramai sih dibanding kemarin-kemarin. Masih agak sepi, sekarang sudah menjelang bulan puasa ya ramai banget tadi. Di jalan di bawah juga ramai waktu aku parkir motor, penuh itu parkiran motor di bawah," cerita Elly dengan napas sedikit tersengal usai berkeliling.

Di tengah optimisme yang mulai tumbuh, harapan Elly mewakili suara banyak konsumen lainnya. Ia berharap para pedagang bisa bersaing sehat, terutama dalam urusan harga agar tetap ramah di kantong seperti harga yang ditawarkan di etalase digital. 

Bagi mereka, Tanah Abang bukan sekadar tempat belanja, melainkan simbol semangat menyambut bulan suci.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)