Dolar AS Stagnan, Pelaku Pasar Menantikan Sinyal Suku Bunga The Fed

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Dolar AS Stagnan, Pelaku Pasar Menantikan Sinyal Suku Bunga The Fed

Eko Nordiansyah • 28 August 2026 09:09

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak minim perubahan pada Kamis, 27 Agustus 2026, saat pelaku pasar mata uang mencerna data inflasi yang beragam dari sesi sebelumnya. Pasar menahan diri untuk tidak melakukan pergerakan besar sehari menjelang pidato yang sangat dinanti dari Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh.

Mata uang AS ini telah sedikit pulih minggu ini dari penurunan hampir satu persen pada minggu sebelumnya, didorong oleh apa yang disebut sebagai perdagangan debasement (penurunan nilai mata uang) di tengah aksi jual tajam obligasi Treasury AS.

Dikutip dari Investing, Jumat, 28 Agustus 2026, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan mata uang utama dunia terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, berada di posisi datar pada angka 99,15.

Prospek suku bunga menjadi tidak pasti

Pada Rabu, pelaku pasar menerima data yang menunjukkan ukuran inflasi The Fed naik tipis 0,2 persen secara bulanan (mtm) dan 3,3 persen secara tahunan (yoy) pada Juli, sesuai dengan ekspektasi.

Angka bulanan (mtm) menunjukkan percepatan dibandingkan bulan Juni, sementara angka tahunan (yoy) tetap sama. Kenaikan tahunan sebesar 3,3 persen tersebut jauh melampaui target jangka panjang The Fed sebesar dua persen.
(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Secara terpisah, estimasi kedua pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil AS untuk kuartal kedua tercatat tidak berubah di angka 1,5 persen. Dengan akumulasi data yang menggambarkan ekonomi yang tangguh dan inflasi yang masih tinggi, peluang The Fed untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil pada bulan September pun meningkat.

Saat ini, perhatian tertuju pada pidato utama Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam konferensi tahunan Jackson Hole pada Jumat.

Sejauh ini, Wall Street cenderung bereaksi negatif terhadap komentar publik Warsh karena sang ketua The Fed enggan memberikan panduan suku bunga maupun langkah spesifik untuk mengatasi inflasi.

Volatilitas di pasar obligasi juga membuat para pedagang valuta asing merasa was-was.

Mata uang utama bergerak beragam

Beralih ke mata uang utama lainnya, won Korea Selatan menguat terhadap dolar, dengan pasangan mata uang USD/KRW turun 0,3 persen ke level 1.381,45.

Pergerakan ini terjadi setelah Bank of Korea (BoK) menaikkan suku bunga acuan sebesar seperempat poin untuk kedua kalinya secara berturut-turut, sehingga mencapai 3,00 persen.

BoK juga menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun 2026 menjadi 3,3 persen dari sebelumnya 2,6 persen, sembari memberi sinyal bahwa suku bunga akhir tahun bisa mencapai 3,25 persen, langkah yang memberikan dukungan imbal hasil secara eksplisit bagi won.

Dolar Kanada kembali pulih, dengan pasangan USD/CAD terakhir tercatat turun 0,1 persen. Meski demikian, mata uang ini masih mencatatkan penurunan tajam secara mingguan di tengah kegagalan negosiasi perdagangan AS-Kanada serta penerapan tarif balasan antara Washington dan Ottawa.

Di sisi lain, nilai tukar euro bergerak sedikit di bawah level datar pada angka USD1,1650, tertahan di posisi terendah dalam lebih dari satu minggu. Sebelumnya, catatan rapat Bank Sentral Eropa (ECB) bulan Juli menunjukkan bahwa para pengambil kebijakan memperkirakan perlunya kenaikan suku bunga satu kali lagi untuk mengatasi dampak perang Iran.

ECB sebelumnya mempertahankan suku bunga tetap pada bulan Juli setelah menaikkannya pada bulan Juni, langkah kenaikan pertama dalam kurun waktu hampir tiga tahun.

(Eko Nordiansyah)