Rupiah Ditutup ke Rp18.014/USD Rabu Sore

Ilustrasi rupiah. Metrototvnews.com/Husen Miftahudin

Rupiah Ditutup ke Rp18.014/USD Rabu Sore

Eko Nordiansyah • 8 July 2026 16:10

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Rupiah tertekan sentimen eskalasi global yang kembali meningkat.

Mengutip data Bloomberg, Rabu, 24 Juni 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp18.014 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 34 poin atau setara 0,19 persen dari posisi Rp17.980 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.990 per USD. Rupiah justru menguat sebanyak tujuh poin atau setara 0,04 persen dari Rp17.983 per USD di penutupan perdagangan sebelumnya.

Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp18.005 per USD. Rupiah bergerak melemah dari Rp17.988 per USD pada perdagangan sebelumnya.



(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Tertekan sentimen eskalasi geopolitik


Analis Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan eskalasi geopolitik di Timur Tengah (Timteng) bisa menekan rupiah. "Penyerangan besar AS ke Iran sebagai balasan atas serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz," ucap Lukman seperti dikutip dari Antara.

Mengutip Sputnik, Amerika Serikat melancarkan serangkaian serangan baru ke Iran, dengan Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut operasi tersebut adalah untuk merespons serangan Iran terhadap tiga kapal dagang di Selat Hormuz.

Adapun pada Selasa, 7 Julik 2026, laporan media nasional Iran IRIB menyebutkan sebuah kapal Qatar, Al-Rekayyat, berusaha melewati Selat Hormuz melalui jalur Oman dengan dukungan Angkatan Laut AS. Tetapi, kapal tersebut menjadi sasaran serangan setelah sejumlah peringatan disampaikan.

Sentimen lainnya berasal dari data cadangan devisa (cadev) Indonesia yang meningkat. Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadev Indonesia pada akhir Juni 2026 mencapai USD145,6 miliar, naik tipis sebesar USD700 juta dari posisi akhir Mei 2026 yang sebesar USD144,9 miliar. Perkembangan posisi cadangan devisa pada Juni 2026 terutama didorong oleh penerimaan pajak dan jasa.

Di sisi lain, perkembangan tersebut terjadi di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh Bank Indonesia sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

(Eko Nordiansyah)