Tekanan Inflasi Meningkat, Bank Sentral Negara Berkembang Hawkish

Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com

Tekanan Inflasi Meningkat, Bank Sentral Negara Berkembang Hawkish

Eko Nordiansyah • 8 November 2026 09:32

London: Bank sentral di negara-negara berkembang mulai beralih ke sikap yang lebih hawkish (cenderung memperketat kebijakan) guna memerangi kenaikan inflasi inti dan tingginya biaya energi yang terus berlanjut. Menurut laporan riset dari Citi, langkah ini akan memicu perbedaan imbal hasil (return) di pasar obligasi lokal tahun depan.

Para pembuat kebijakan mulai meninggalkan sikap dovish (longgar) maupun netral, seiring dengan meningkatnya permintaan domestik dan tingginya biaya input energi yang mendorong kenaikan harga. 

Dikutip dari Investing, Minggu, 8 November 2026, analis Citi memperingatkan bahwa biaya energi yang terus tinggi meningkatkan risiko terjadinya dampak inflasi putaran kedua (second-round effects), sebuah skenario yang harus dihindari oleh bank sentral dengan cara apa pun.

Kinerja mata uang lokal yang menguntungkan turut mendukung upaya pengetatan kondisi moneter ini. Mengingat beberapa sektor dalam ekonomi AS mulai merasakan dampak negatif dari suku bunga nominal yang lebih tinggi, Citi telah menyesuaikan asumsinya terhadap dolar AS ke arah yang lebih lemah. 

Hal ini mengindikasikan bahwa dinamika nilai tukar efektif riil tidak akan menimbulkan ancaman inflasi yang berarti bagi negara-negara berkembang dalam waktu dekat.


(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)

Tekanan regional dan reli pasar

Siklus pengetatan ini menciptakan lingkungan kebijakan yang semakin tegang di Eropa Tengah, khususnya di Polandia yang mengalami tekanan inflasi (reflationary) dan Republik Ceko yang menghadapi tekanan kenaikan upah. 

Citi memperkirakan perbedaan respons antarbank sentral ini akan memperlebar kesenjangan imbal hasil total di sepanjang kurva obligasi lokal hingga tahun depan.

Sebaliknya, aset-aset Mesir mencatatkan reli tajam di tengah sentimen pasar yang cenderung berani mengambil risiko (risk-on) pasca pemilihan paruh waktu (midterm elections) di AS. Dengan suku bunga nominal yang berada di dekat level tertinggi dalam siklusnya, negara tersebut mencatat arus masuk modal bersih yang kuat ke dalam instrumen obligasi tenor pendek. 

Obligasi pemerintah Afrika Selatan mencatatkan kinerja yang lebih baik, sejalan dengan sentimen risiko global, di tengah perkembangan hasil pemilihan umum nasional di negara tersebut.

Di Amerika Latin, bank sentral Kolombia mempertahankan suku bunga kebijakan di level 12,25 persen, sembari mengumumkan operasi valuta asing senilai USD2 miliar yang dilakukan bersama kementerian keuangan. 

Bank tersebut tetap mengambil posisi underweight pada durasi obligasi pemerintah Kolombia (COLTES) menjelang lonjakan pasokan pada bulan Oktober. Sementara itu, risalah rapat bank sentral Chili memuat peringatan bernada hawkish dari dewan gubernurnya, yang mendorong investor untuk tetap mempertahankan posisi long (beli) pada mata uang dolar AS terhadap peso Chili.

Di Asia, Citi secara taktis menambah porsi investasi (overweight) pada obligasi pemerintah Indonesia tenor lima tahun yang dilengkapi dengan lindung nilai (hedging) valuta asing. 

Bank tersebut juga menyoroti munculnya kembali tekanan pendanaan korporasi jangka pendek di Korea Selatan, serta mengevaluasi langkah bank sentral Tiongkok (People’s Bank of China) yang baru-baru ini menaikkan rasio cadangan wajib untuk simpanan dalam mata uang asing.

(Eko Nordiansyah)