Harga Bitcoin Sekarang Cuma Rp1,1 Miliar, Saatnya 'Nyerok'!

Ilustrasi, grafik pergerakan harga bitcoin. Foto: dok Istimewa.

Harga Bitcoin Sekarang Cuma Rp1,1 Miliar, Saatnya 'Nyerok'!

Husen Miftahudin • 20 February 2026 13:46

Jakarta: Harga bitcoin (BTC) kembali mengalami tekanan dalam 24 jam terakhir menyusul rilis notulensi rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru yang menunjukkan adanya perbedaan pandangan para pejabat bank sentral AS.

Berdasarkan data pasar pada Kamis, 19 Februari 2026, bitcoin terkoreksi sebesar 1,25 persen ke kisaran USD66.450 (setara Rp1,11 miliar). Menurunnya harapan akan adanya pelonggaran suku bunga global dalam waktu dekat ini secara langsung mendorong indeks sentimen pasar kripto anjlok ke level 'Extreme Fear'.

Notulensi FOMC terbaru menunjukkan para pembuat kebijakan hampir sepakat untuk mempertahankan suku bunga di level saat ini. Namun, pasar merespons negatif adanya perbedaan pandangan terkait langkah The Fed selanjutnya. Sejumlah pejabat membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi tetap persisten, sementara yang lain bersedia memangkasnya jika tekanan harga mereda.

Sikap higher for longer yang masih membayangi ini memberikan tekanan pada likuiditas global, tercermin dari penguatan Indeks Dolar AS (DXY) ke level 97,7 berdampak langsung pada terkoreksinya instrumen aset berisiko. Hal ini memicu aksi jual yang membuat total kapitalisasi pasar kripto ikut menyusut.

Berdasarkan data FedWatch Tool CME Group, pelaku pasar kini bersikap pesimistis, dengan probabilitas kurang dari 50 persen untuk pemangkasan suku bunga minimal 25 basis poin sebelum pertemuan Juni 2026.
 

Baca juga: Strategi Efisiensi Pajak dan Alihkan 'Smart Money' saat Harga Bitcoin Jatuh
 

Fondasi bitcoin masih terjaga


Menanggapi dinamika global ini, Vice President Indodax Antony Kusuma mengungkapkan fondasi bitcoin saat ini masih berada dalam kondisi yang sangat terjaga di tengah fase konsolidasi.

"Koreksi harga yang terjadi pasca rilis FOMC ini adalah reaksi pasar yang sangat wajar dan bersifat sementara. Investor global saat ini hanya sedang melakukan penyesuaian terhadap timeline pemangkasan suku bunga The Fed," jelas Antony seperti dikutip dari keterangan tertulis, Jumat, 20 Februari 2026.

"Meskipun bitcoin saat ini berada di bawah USD67 ribu , pergerakan ini masih berada dalam rentang konsolidasi yang sehat. Area USD64 ribu menjadi titik support yang kuat, dan secara historis, fase konsolidasi seperti ini justru sering menjadi fondasi yang baik sebelum pasar kembali menguat," tambah dia.


(Vice President Indodax Antony Kusuma. Foto: dok Indodax)
 

Investor tak perlu panik


Lebih lanjut, Antony menyoroti kaitan kondisi global ini dengan kebijakan moneter dalam negeri. Keputusan Bank Indonesia (BI) terkait BI Rate yang saat ini berada di level 4,75 persen sampai 5,5 persen dinilai akan menentukan arah likuiditas investor domestik.

"Langkah Bank Indonesia ke depan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tentu memberikan kepastian bagi perekonomian domestik. Di tengah dinamika suku bunga dan isu geopolitik global yang masih dinamis, investor kripto tidak perlu panik," papar dia.

"Justru, kondisi makroekonomi seperti ini kembali mengingatkan kita pada fungsi utama bitcoin sebagai aset lindung nilai (hedge) jangka panjang yang tangguh. Kami melihat ini sebagai momentum yang baik bagi investor untuk merencanakan portofolio mereka secara lebih matang," tambah Antony.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)