Ilustrasi emas batangan. Foto: bullionvault.com
Harga Emas Dunia Ambles Lagi di Tengah Penguatan Dolar AS dan Minyak
Husen Miftahudin • 16 September 2026 08:27
Chicago: Harga emas dunia melemah pada perdagangan Selasa waktu setempat. Penurunan terjadi di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan sehari menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Pasar juga menghadapi tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta harga minyak. The Fed diperkirakan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak Juli 2023.
Mengutip Investing.com, Rabu, 16 September 2026, harga emas spot turun 0,1 persen menjadi USD4.294,14 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka melemah 0,4 persen menjadi USD4.333,95 per ons.
Menurut CME FedWatch, probabilitas Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Rabu mencapai 94,5 persen. Angka tersebut meningkat dari 59 persen sepekan sebelumnya.
Suku bunga yang lebih tinggi cenderung menekan aset yang tidak memberikan imbal hasil, termasuk emas. Kondisi tersebut juga dapat memperkuat dolar AS sehingga harga emas menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga dipengaruhi tekanan di pasar obligasi AS, kekhawatiran terhadap inflasi akibat kenaikan harga minyak, data terbaru mengenai pasar tenaga kerja dan inflasi AS, serta pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang semakin ketat terhadap kebijakan moneter.
Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 4,3 basis poin dan ditutup di level 5,004 persen pada Selasa. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak April 2007. Sementara itu, yield obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun mencapai level tertinggi dalam lebih dari 24 tahun.
Aksi jual obligasi juga dipengaruhi kekhawatiran terhadap besarnya dana yang dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) serta meningkatnya utang fiskal AS.
Pasar menanti keputusan The Fed
Pelaku pasar kini menunggu keputusan The Fed mengenai arah suku bunga. Keputusan tersebut menjadi perhatian karena berlangsung di tengah dinamika politik dan ekonomi AS.
Presiden AS Donald Trump disebut mendorong Ketua The Fed Kevin Warsh untuk memangkas suku bunga. Di sisi lain, Amerika Serikat akan menghadapi pemilihan paruh waktu pada November.
"Bank Sentral AS (Federal Reserve) secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga AS, bertentangan dengan keinginan Donald Trump untuk memangkas biaya pinjaman," kata Kepala Pasar AJ Bell Dan Coatsworth.
Menurut Coatsworth, keputusan tersebut menjadi momentum bagi Warsh untuk menunjukkan kredibilitas The Fed dalam mendasarkan kebijakan pada data ekonomi.
"Ini adalah momen bagi ketua Fed yang baru, Kevin Warsh, untuk membuktikan kredibilitas bank sentral dalam berpedoman pada data ekonomi, bukan pada keinginan Gedung Putih. Kegagalan menaikkan suku bunga akan membuat Warsh tampak seperti hanya menyerah pada apa pun yang diinginkan Trump, sesuatu yang dapat mencoreng opini publik terhadap Federal Reserve secara keseluruhan," tambah dia.
.jpg)
(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Harga WTI tembus USD105/barel
Di pasar komoditas lainnya, harga minyak kembali menguat pada Selasa setelah sempat terkoreksi pada perdagangan sebelumnya. Harga minyak mentah Brent berjangka, yang menjadi patokan global, naik 2,7 persen menjadi USD108,51 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berjangka meningkat 4,1 persen menjadi USD105,52 per barel.
Pergerakan harga minyak turut dipengaruhi perkembangan diplomatik antara AS dan Iran. Presiden Donald Trump sebelumnya mengatakan Iran ingin mencapai kesepakatan dan Washington terbuka terhadap konsep tersebut.
Namun, gangguan pasokan minyak masih menjadi perhatian pelaku pasar. Reuters melaporkan anggota pasukan keamanan yang bertugas melindungi sektor minyak Libya menutup katup pada jalur pipa pengangkut minyak mentah Hamada-Zawiya. Informasi tersebut mengacu pada Perusahaan Minyak Nasional Libya.
Perusahaan tersebut menyatakan operasi di tiga ladang minyak telah dihentikan sepenuhnya. Libya juga berpotensi menyatakan keadaan kahar (force majeure). Perkembangan di Libya menambah kekhawatiran terhadap pasokan minyak setelah Pipa Timur-Barat Arab Saudi ditutup akibat serangan Houthi yang didukung Iran di Yaman.
Reuters juga melaporkan pemuatan minyak di Pelabuhan Yanbu, Laut Merah, Arab Saudi, telah ditangguhkan. Informasi tersebut mengacu pada sejumlah sumber di sektor pelayaran.