Ilustrasi. Foto: MI/Usman Iskandar.
Rupiah Makin Jeblok Pagi Ini, Diramal Bisa Tembus Level Rp17 Ribu
Husen Miftahudin • 19 January 2026 09:40
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan awal pekan ini kembali mengalami pelemahan.
Mengutip data Bloomberg, Senin, 19 Januari 2026, rupiah hingga pukul 09.27 WIB berada di level Rp16.918 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 31 poin atau setara 0,18 persen dari Rp16.887 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.876 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan kembali melemah hingga menembus level Rp17 ribu per USD.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah hingga menembus Rp17 ribu, dengan rentang pergerakan harian di level Rp16.840 per USD hingga Rp17.000 per USD," jelas Ibrahim.
| Baca juga: Ini Penyebab Rupiah Nyaris Rp17 Ribu dan Jadi Mata Uang Terlemah Dunia |
Potensi perang dagang AS-Eropa
Pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen global dimana Presiden AS Donald Trump mengancam untuk mengenakan tarif impor tambahan sebesar 10 persen untuk delapan negara Uni Eropa yang menghalangi keinginan Trump membeli Greenland.
Bea masuk tambahan itu akan mulai diberlakukan pada 1 Februari mendatang untuk barang-barang dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris, yang akan meningkat menjadi 25 persen pada 1 Juni jika tidak ada kesepakatan yang tercapai.
Negara-negara besar Uni Eropa mengecam ancaman tarif atas Greenland sebagai pemerasan, dan Prancis mengusulkan untuk menanggapi dengan serangkaian tindakan balasan ekonomi yang belum pernah diuji sebelumnya.
Opsi yang dimiliki Uni Eropa mencakup paket tarif sendiri terhadap impor AS senilai 93 miliar euro yang ditangguhkan selama enam bulan pada awal Agustus, dan langkah-langkah berdasarkan Instrumen Anti-Koersi yang dapat memukul perdagangan jasa atau investasi AS.
Para analis di Deutsche Bank mencatat negara-negara Eropa memiliki obligasi dan saham AS senilai USD8 triliun, hampir dua kali lipat dari gabungan seluruh negara lain di dunia, dan mungkin akan mempertimbangkan untuk menarik sebagian uang tersebut kembali ke negara mereka.
Dengan posisi investasi internasional bersih AS yang berada pada titik negatif ekstrem sepanjang sejarah, saling ketergantungan pasar keuangan Eropa-AS tidak pernah setinggi ini. Yang akan paling mengganggu pasar bukanlah arus perdagangan, melainkan penggunaan modal sebagai senjata.
Kondisi ini membuat investor berkeyakinan akan terjadinya perang dagang, jika AS tetap bersikukuh untuk menekan negara-negara Uni Eropa menyetujui keinginan Trump membeli Greenland.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Konsumsi rumah tangga jadi penopang ekonomi RI
Di sisi lain, Ibrahim memandang konsumsi rumah tangga kini masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional, dengan didominasi oleh kelas menengah. "Namun, kelas menengah di Indonesia mengalami kondisi tertekan dan bergerak menuju ke kelompok rentan," sebut dia.
Oleh karena itu, ia menganggap perlunya stimulus yang lebih banyak diberikan kepada kelas menengah untuk menjaga kondisi daya belinya. Sebab, kelas menengah merupakan kelompok yang terhimpit di tengah kondisi gejolak perekonomian, padahal merupakan pondasi pertumbuhan ekonomi.
Stimulus ekonomi pemerintah diketahui kerap kali lebih banyak digelontorkan untuk rumah tangga berpenghasilan rendah atau kelompok miskin. Diantaranya seperti bantuan sosial (bansos), program keluarga harapan (PKH), dan bantuan langsung tunai (BLT).
Sementara untuk kalangan menengah, baru-baru ini ditetapkan pemerintah insentif pajak penghasilan (PPh) 21 bagi pekerja di sektor padat karya dan pariwisata dengan penghasilan di bawah Rp10 juta per bulan.
"Namun, stimulus itu baru diberlakukan bagi lima sektor, yakni industri alas kaki, tekstil dan pakaian jadi, furnitur, kulit dan barang dari kulit, serta sektor pariwisata," jelas Ibrahim.
Pemerintah juga perlu untuk memperluas atau memperbanyak bentuk stimulus untuk kalangan menengah. Bahkan perlunya kelompok menengah memperoleh stimulus yang serupa dengan stimulus yang digelontorkan untuk kelompok masyarakat berpengasilan rendah.