Rupiah. Foto: Metrototvnews.com/Husen.
Ini Penyebab Rupiah Nyaris Rp17 Ribu dan Jadi Mata Uang Terlemah Dunia
Naufal Zuhdi • 18 January 2026 13:02
Jakarta: Rupiah menjadi salah satu mata uang terlemah dunia di 2026, menempati urutan kelima, menurut daftar terbaru Forbes. Mata uang Garuda tersebut bahkan nyaris menyentuh level Rp17 ribu per dolar AS.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menyatakan pergerakan rupiah lebih tepat dibaca sebagai refleksi tekanan sentimen pasar global ketimbang cerminan pelemahan fundamental ekonomi domestik.
"Secara makro, fondasi ekonomi Indonesia masih relatif solid: pertumbuhan tetap terjaga, defisit eksternal berada pada level yang dapat dikelola, dan cadangan devisa masih memadai sebagai bantalan stabilisasi," kata Rizal saat dihubungi, Minggu, 18 Januari 2026.
Namun, tambah Rizal, pasar keuangan bersifat antisipatif. Hal ini tercermin dari ekspektasi suku bunga global yang bertahan tinggi lebih lama, penguatan dolar AS sebagai aset aman, serta penyesuaian portofolio investor asing dari emerging markets menjadi faktor dominan yang menekan rupiah dalam jangka pendek.
"Artinya, level mendekati Rp17 ribu ini lebih mencerminkan dinamika arus modal dan psikologi pasar, bukan sinyal pelemahan struktural ekonomi Indonesia," tegas dia.
| Baca juga: Daftar Mata Uang Terlemah 2026: Rupiah di Urutan Kelima |

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Tekan daya saing Indonesia
Apabila tren pelemahan rupiah berlanjut, Rizal menyebut sektor yang paling rentan adalah sektor dengan ketergantungan impor tinggi dan eksposur utang valas yang besar, khususnya yang tidak terlindungi oleh skema lindung nilai.
Ia menilai, industri manufaktur berbasis bahan baku impor, transportasi, serta sektor energi akan menghadapi kenaikan biaya yang berpotensi menekan margin dan daya saing.
"Sebaliknya, sektor berbasis ekspor terutama komoditas dapat memperoleh keuntungan jangka pendek dari depresiasi rupiah, meskipun sangat bergantung pada pergerakan harga global," imbuh dia.
Maka dari itu, Rizal menegaskan tantangan kebijakan ke depan bukan sekadar menahan level nilai tukar tertentu, melainkan menjaga stabilitas ekspektasi pasar agar tekanan sentimen tidak berkembang menjadi risiko fundamental.
"Dalam konteks ini, kredibilitas kebijakan dan komunikasi Bank Indonesia menjadi kunci untuk memastikan volatilitas tetap terkendali dan tidak mengganggu pemulihan ekonomi secara keseluruhan," jelas dia.