Indeks Saham Wall Street Jeblok Lagi Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed

Ilustrasi perdagangan saham di Wall Street. Foto: Xinhua/Liu Yanan.

Indeks Saham Wall Street Jeblok Lagi Jelang Keputusan Suku Bunga The Fed

Husen Miftahudin • 16 September 2026 07:50

New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa waktu setempat, seiring investor bersiap menghadapi keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang akan diumumkan pada Rabu.
 
Mengutip Xinhua, Rabu, 16 September 2026, indeks Dow Jones Industrial Average turun 328,09 poin atau 0,63 persen ke level 52.093,11. Indeks S&P 500 melemah 34,25 poin atau 0,45 persen menjadi 7.585,73. Sementara itu, indeks Nasdaq Composite terkoreksi 204,84 poin atau 0,78 persen ke posisi 25.981,57.
 
Dari 11 sektor utama S&P 500, sembilan sektor berakhir di zona merah. Sektor barang konsumsi non-esensial dan utilitas mencatat penurunan terdalam, masing-masing sebesar 1,76 persen dan 1,20 persen.
 
Sebaliknya, sektor energi dan material menjadi dua sektor yang menguat. Sektor energi naik 2,26 persen, sedangkan sektor material meningkat 0,37 persen.
 

 

Harga minyak melonjak

 
Penguatan sektor energi terjadi di tengah lonjakan harga minyak mentah di pasar global. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Oktober naik USD4,44 atau 4,38 persen menjadi USD105,83 per barel di New York Mercantile Exchange.
 
Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman November meningkat USD3,07 atau 2,90 persen menjadi USD108,75 per barel di London ICE Futures Exchange.
 
Pergerakan pasar juga dipengaruhi perhatian investor terhadap rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang dimulai pada Selasa. Investor menanti keputusan kebijakan moneter yang akan diumumkan pada akhir pertemuan Rabu.
 
Perhatian pasar juga tertuju pada proyeksi ekonomi atau dot plot The Fed serta konferensi pers Ketua Federal Reserve Kevin Warsh. Kedua agenda tersebut menjadi perhatian investor untuk memperoleh gambaran mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS selanjutnya.
 
Di pasar obligasi, imbal hasil atau yield Treasury AS bertenor 10 tahun naik menjadi 5,04 persen pada Selasa. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2007.


(Ilustrasi. Foto: iStock)
 

Saham semikonduktor jadi perhatian

 
Di sisi korporasi dan sektoral, industri semikonduktor masih menjadi perhatian pelaku pasar. Sejumlah investor sebelumnya menyampaikan kekhawatiran mengenai potensi perlambatan belanja untuk pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
 
Namun, analis Bank of America Vivek Arya menilai industri semikonduktor masih memiliki ruang untuk terus berkembang. Kondisi tersebut didukung kebutuhan perangkat keras dan daya yang masih tinggi.
 
Arya juga menaikkan proyeksi nilai pasar industri chip pada 2030 dari USD2,7 triliun menjadi USD3,2 triliun. Proyeksi tersebut mencerminkan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 18 persen.
 
"Terlepas dari meningkatnya kekhawatiran seputar potensi perlambatan infrastruktur/investasi AI, kami tidak melihat tanda-tanda perlambatan dalam pesanan pelanggan, LTA (perjanjian jangka panjang), komitmen kapasitas, atau harga semi-truk," tulis Arya.

(Husen Miftahudin)