Dolar AS Turun Lagi, Tapi Bertahan di Level Tertinggi dalam 3 Bulan

Dolar AS. Foto: Magnific.

Dolar AS Turun Lagi, Tapi Bertahan di Level Tertinggi dalam 3 Bulan

Husen Miftahudin • 19 September 2026 07:28

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) berada di jalur menuju kenaikan mingguan terkuat dalam tiga bulan. Penguatan tersebut terjadi setelah Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak Juli 2023.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 19 September 2026, indeks dolar yang mengukur kinerja dolar AS terhadap enam mata uang utama berada di level 100,222. Angka tersebut turun tipis 0,03 persen.

Pada penutupan perdagangan di New York, euro menguat menjadi USD1,1483 dari USD1,1475 pada sesi sebelumnya. Poundsterling Inggris juga naik menjadi USD1,3391 dari USD1,3353.

Sementara itu, dolar AS menguat terhadap yen Jepang menjadi 156,68 yen dari 156,04 yen per dolar pada sesi sebelumnya. Dolar AS melemah terhadap franc Swiss menjadi 0,8221 franc dari 0,8248 franc.

Terhadap dolar Kanada, dolar AS naik tipis menjadi 1,3993 dari 1,3992. Sementara terhadap krona Swedia, dolar AS menguat menjadi 9,8333 dari 9,8256.
 

 

Kebijakan agresif Fed jadi sorotan


Mengutip Investing.com, dolar AS masih bertahan di sekitar level tertinggi dalam lebih dari tujuh pekan. Pergerakan tersebut terjadi setelah pasar mencermati kebijakan moneter The Fed yang dinilai lebih ketat.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Rabu memutuskan menaikkan suku bunga dana federal menjadi 3,75-4,00 persen dari 3,50-3,75 persen. Keputusan tersebut diambil secara bulat.

Pelaku pasar juga mencermati Ringkasan Proyeksi Ekonomi terbaru The Fed serta konferensi pers setelah keputusan suku bunga yang disampaikan Ketua The Fed Kevin Warsh.

Ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga telah meningkat menjelang keputusan FOMC. Peluang kenaikan suku bunga mencapai sekitar 90 persen, didorong oleh kenaikan harga minyak, data ekonomi AS, serta tekanan di pasar obligasi.


(Dolar AS. Foto: Freepik)
 

Imbal hasil obligasi AS meningkat


Kenaikan suku bunga The Fed turut menjadi perhatian investor obligasi. Kebijakan tersebut dipandang investor sebagai sinyal bank sentral tetap merespons tekanan inflasi.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS kemudian kembali meningkat pada perdagangan Jumat. Imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun naik 6,1 basis poin menjadi 5,008 persen.

Pada awal pekan, imbal hasil surat utang tersebut telah mencapai level tertinggi dalam lebih dari 19 tahun. Menurut José Torres, ekonom senior di Interactive Brokers, kenaikan terbaru imbal hasil obligasi pemerintah AS turut dipengaruhi oleh pelemahan yen Jepang.

"Pelemahan mata uang menciptakan hambatan bagi obligasi AS karena Tokyo adalah pemegang obligasi pemerintah AS terbesar di luar negeri, dan melemahnya nilai tukar di sana secara bertahap memaksa para pejabat negara untuk menjual utang Washington guna mengumpulkan uang tunai untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing dan melakukan tindakan defensif," kata Torres.

(Husen Miftahudin)